logo alinea.id logo alinea.id

Indonesia bisa bujuk investor AS dan Eropa pergi dari China

Berinvestasi di China sudah mulai susah. Indonesia bisa mencari celah untuk memanfaatkan momen tersebut.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Rabu, 28 Nov 2018 14:30 WIB
Indonesia bisa bujuk investor AS dan Eropa pergi dari China

Di pengujung 2018, tensi ketidakpastian perekonomian masih terus berlanjut. Mulai dari normalisasi suku bunga acuan The Fed sampai pada kebijakan proteksionisme Amerika Serikat (AS). Juga masih terus berlangsungnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. 

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang atau emerging market seharusnya serius mengambil langkah strategis dalam merespon perang dagang tersebut. Salah satunya dengan membujuk para investor dari Amerika Serikat dan Eropa untuk meninggalkan China. Kemudian mengalihkan investasinya ke Indonesia. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan dampak dari adanya perang dagang bisa mempengaruhi perlambatan ekonomi masing-masing negara baik China maupun AS. Dari perlambatan itulah, ada celah yang bisa diambil oleh Indonesia. 

“Para investor di China, baik itu dari AS atau Eropa akan mulai mikir. Kalau berinvestasi di China sudah mulai susah karena impornya kena bea masuk dari AS. Lalu mereka mulai berpikir untuk merelokasi (mencari negara lain untuk berinvestasi),” kata Darmin dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Selasa, (28/11). 

Adapun sektor industri yang perlu disasar, kata Darmin, bisa berasal dari besi, baja, mesin-mesin dansuku cadang. Selain itu, juga bisa dari petro chemical, minyak sawit mentah (crude palm oil), gas, atau batubara seta farmasi.

Namun demikian, untuk mewujudkan itu tak mudah. Menurut Darmin, Indonesia mesti kompetitif dengan negara lain dengan menyusun strategi terbaik yang lebih menarik dari negara berkembang lainnya seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand. 

“Pertaruhannya ada di situ, masing-masing negara berekmbang menahan ini sebagai kekuatan untuk bargaining,” ujar Darmin. 

Perang Dagang Bukan Momok

Sponsored

Sementara Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati, mengatakan perang dagang tidak selalu menjadi momok. Salah satu strategi jangka pendek bagi Indonesia dalam menghadapi perang dagang adalah dengan memperluas pasar ekspor ke negara-negara nontradisional di benua Afrika. 

Dengan memperluas pasar eskpor, terlebih bagi komoditas ekspor besar, Indonesia tidak akan lagi bergantung dengan negara-negara tradisional seperti India dan Tiongkok yang selama ini menjadi mitra dagang. 

"Perluasan pasar eskpor dapat dilakukan ke negara-negara Afrika seperti Mesir, Afrika Selatan, dan Nigeria. Contohnya CPO atau minyak sawit sebagai komoditas ekspor utama Indonesia dapat didorong untuk dapat memperluas ekspor ke Kenya dan Tanzania," kata Enny. 

Enny memperhitungkan nilai perdagangan Indonesia-Afrika bisa kembali surplus. Berkaca pada 2014 hingga 2016, nilai perdagangan Indonesia ada di kisaran US$917 juta dan US$579 juta, 

Selain itu, kata Enny, kebijakan mengendalikan impor juga merupakan salah satu strategi yang dapat ditempuh oleh otoritas fiskal dalam menghadapi perang dagang. Agar dapat mengendalikan impor, caranya dengan menaikkan tarif bea masuk impor produk yang termasuk berdampak besar terhadap neraca perdagangan. 

"Antara lain dengan memanfaatkan peluang ekspor ke AS menggantikan produk Tiongkok yang dibatasi masuk ke AS. Tentu saja hal ini tidak mudah bagi Indonesia, mengingat komoditi Tiongkok terkenal dengan harga murah," kata Enny. 

Peluang lainnya yang juga berasal dari pasar Tiongkok, kata Enny, Indonesia juga bisa mengimpor komoditi substitusi produk AS yang masuk ke Tiongkok seperti kedelai dan produk derivatifnya lainnya dari AS.