sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

IPO tinggi kala pandemi, bukan hanya soal kuantitas

Indonesia mencatat IPO terbanyak diantara negara Asean hingga November 2020.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Rabu, 02 Des 2020 15:16 WIB
IPO tinggi kala pandemi, bukan hanya soal kuantitas
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Tren Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan perdana (IPO) emiten di pasar modal Indonesia merangkak naik di saat pandemi. Bahkan, RI tercatat sebagai negara dengan IPO terbanyak seantero Asia Tenggara.

Data yang dihimpun Bursa Efek Indonesia (BEI), per 30 November 2020 setidaknya ada 46 emiten yang telah IPO dan 20 calon perusahaan baru yang antre di pipeline IPO sepanjang tahun ini. Sampai saat ini, perusahaan yang telah tercatat di BEI mencapai 708 perusahaan. BEI menargetkan tahun 2021 nanti, akan ada tambahan 30 perusahaan yang akan IPO. 

"Kami targetkan 30 perusahaan-perusahaan yang cukup besar lah untuk itu," ujar Direktur Utama BEI Inarno Djajadi dalam Media Gathering Pasar Modal secara daring, Selasa(1/12).

Merujuk situs bursa ASEAN, Inarno mengatakan jumlah IPO tanah air menempati posisi pertama di angka 46 perusahaan. Sedangkan, Malaysia dan Thailand sebanyak 14 perusahaan, Singapura sebanyak 5 perusahaan dan Filipina sebanyak 2 perusahaan. 

Sebagai negara tertinggi IPO sepanjang tahun ini di Asean, Indonesia juga memiliki delapan Exchange Traded Fund (ETF), 95 emisi obligasi atau sukuk korporasi, dan satu efek beragun aset (EBA) yang tercatat di BEI. Seluruh pencatatan tersebut telah menghimpun dana dengan total sebesar Rp108,71 triliun.

BEI juga mencatat adanya peningkatan signifikan pada jumlah investor di pasar modal Indonesia, yang telah mencapai 3 juta investor pada Juli 2020. Jumlah ini meningkat sebanyak 3,8 kali dari 2016.

Investor tersebut terdiri dari investor saham sebanyak 1,5 juta investor atau naik 36,13% secara year to date (ytd), investor reksa dana sebanyak 2,82 juta investor atau naik 59,32% ytd, dan investor surat berharga negara (SBN) yang diterbitkan Bank Indonesia sebanyak 448.147 investor atau naik 41,70% ytd.

Foto Antara.

Sponsored

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan masih tingginya IPO di pasar modal Indonesia pada tahun ini meskipun ada pandemi merupakan hal yang menggembirakan. 

Dia berpendapat, tren positif ini didorong oleh cepat pulihnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pasar modal pasca kejatuhan di awal pandemi. Kala itu, IHSG bahkan sempat menyentuh level 3.000-an.

Selain itu, pasar modal dalam negeri juga ditopang oleh investor domestik yang kian aktif belakangan ini. Ketika investor asing keluar pasar modal Indonesia, investor domestik pun masuk secara masif.

"Tahun ini kenaikan jumlah investor domestik cukup signifikan jauh di atas kenaikan tahun Lalu. Dampaknya, pasar kembali bergairah dan secara perlahan IHSG kembali pulih. Saat ini IHSG sudah mendekati posisi normal," kata Piter kepada Alinea.id kemarin. 

Kinerja pasar modal yang cukup moncer itu, kata dia, juga lantas mendorong calon emiten untuk melanjutkan rencana IPO pada tahun ini. Meski, jumlah perusahaan yang tetap melakukan IPO pada tahun ini bisa jadi tidak sebesar yang ditargetkan. 

Pandemi, menurutnya, tetap menjadi pertimbangan bagi para perusahaan yang mengharapkan bisa mendapatkan pendanaan optimal. Sehingga, proses IPO ini juga bergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing perusahaan. 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat mengatakan, tren IPO yang terjadi di tahun 2020 ini memang telah berjalan sesuai rencana. Meskipun kondisi pandemi, perusahaan yang telah bersiap akan tetap menjalankan rencana IPO. 

"Tren IPO tahun 2020 ini, yang juga tahun berat akibat wabah Covid-19, merupakan kelanjutan dari rencana perusahaan pada tahun-tahun sebelumnya," ujar Samsul kepada Alinea.id di kesempatan berbeda. 

Dia melanjutkan, berbagai perusahaan di masa pandemi ini memang mempunyai strategi masing-masing agar tetap bisa bertahan. Termasuk, dalam pelaksanaan IPO. "Strateginya sangat tergantung pada jenis industri emiten. Bagi yang tidak terdampak oleh Covid-19, tentunya akan berbeda dengan emiten yang terdampak," kata dia. 

Tak hanya soal kuantitas

Untuk diketahui, salah satu perusahaan yang mencatatkan penghimpunan dana relatif kecil pada IPO saat pandemi ialah PT Planet Properindo Tbk (PLAN) yaitu sebesar Rp29,9 miliar dari harga pelaksanaan IPO senilai Rp112 per saham.

Saat IPO pada 15 September 2020, perusahaan yang melibatkan PT Indo Capital Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek ini melepas 267,85 juta saham kepada publik atau sekitar 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. 

Direktur Utama Planet Properindo Jaya Antonyo Hartono Tanujaya optimistis dalam pelaksanaan IPO ini walau kondisi perekonomian masih dibayang-banyangi dampak pandemi. Bisnis perseroan pun disebutnya sudah mulai bergairah lagi sejak pemerintah Kota Bandung melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Semenjak pemerintah Kota Bandung memperbolehkan hotel untuk dibuka kembali dengan beberapa ketentuan, sekitar 90% tingkat okupansi Hotel Vue Palace terpenuhi. Terus terang, hal ini di atas ekspektasi kami,” kata Antonyo melalui keterangan resmi, Rabu (2/9/2020).

Sementara perusahaan dengan dana terhimpun melalui IPO terbesar sepanjang tahun 2020 yaitu PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE) yaitu mencapai Rp1,03 triliun. Perusahaan yang melakukan IPO pada 13 Maret 2020 ini, diketahui akan menggunakan permodalan tersebut untuk pengembangan rumah sakit. Di antara lokasi yang dibidik adalah Jawa Barat dan Banten. 

Sejauh ini, CARE telah menaungi lebih dari tujuh RS kelas C dan D, di antaranya adalah, RS Ibu dan Anak Bunda Sejahtera Pasar Kemis Tangerang, RS Umum Bina Sehat Mandiri Duri Kepa Jakbar, RS Umum Metro Hospitals Cikarang, RS Umum Metro Hospitals Cikupa, RS Umum Kartini, RS Ibu dan Anak Mitra Husada, dan RS Ibu dan Anak St Yusuf Tanjung Priok.

Sepanjang semester-I 2020, performa CARE tercatat baik. Perusahaan di sektor kesehatan itu, mampu membalik kerugian dari Rp14,02 miliar menjadi untung yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp6,27 miliar. Selain itu, pendapatan melesat 139,33% menjadi Rp104,35 miliar dari sebelumnya Rp43,60 miliar. Adapun, posisi aset juga naik secara ytd 40,57% menjadi Rp3,43 triliun dari Rp2,44 triliun. 

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus tak memungkiri bahwa tren IPO di masa pandemi ini memang telah dihitung sesuai kapasitas perusahaan. Termasuk, soal nilai penghimpunan modal yang relatif kecil.

Menurut Bloomberg, jumlah IPO pada sepanjang tahun ini memang tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Namun, perusahaan yang IPO relatif menghimpun modal kecil atau kurang dari US$10 juta atau Rp142 miliar (Rp14.200 per US$). 

"Balik lagi ke kebutuhan emiten. Kalau nilainya kecil, ya memang kebutuhannya kecil. Sesuai dengan kapasitas dan bisnis plannya perusahaan itu ya," ujar Maximilianus saat dihubungi Alinea.id

Sampai saat ini, ia melihat upaya penghimpunan dana melalui IPO yang dilakukan para perusahaan di masa pandemi ini memang telah sesuai. "Kecuali, kalau antara kebutuhan dana dia dan business plan dia yang enggak nyambung, ya tentu akan menjadi perhatian khusus," tambahnya.  

Maximilianus menambahkan tren tingginya IPO saat ini, juga sebetulnya menjadi tantangan tersendiri. Utamanya, bagi pelaku pasar. Peluang tingginya perusahaan yang tercatat di pasar modal, perlu dilihat bukan saja sebatas kuantitas namun juga kualitasnya. Sehingga, jumlahnya yang kini telah mencapai 700-an perusahaan tercatat perlu dioptimalkan. 

Dengan kualitas perusahaan tercatat yang juga baik itu, ia bilang, ekosistem pasar modal termasuk investor pun akan turut terkerek naik. Sebab, kepercayaan akan kualitas telah diraih. "Selama yang launching (IPO) berkualitas dan punya bisnis yang baik, tentu kita aman dari sisi investor," katanya. 

Selain menguatkan fundamental dan valuasi, hal penting lainnya yang mesti dikuasai oleh pelaku industri pasar modal adalah teknologi yang adaptif. Di era pandemi seperti ini, teknologi IT yang relevan dengan kebutuhan pasar menjadi kunci agar pasar modal bisa berkembang dan lebih mudah dijangkau bagi investor. 

Terkait ini, hingga November 2020, BEI mengaku telah meluncurkan berbagai sarana untuk memudahkan akses bagi pelaku pasar modal. Misalnya saja, memudahkan partisipasi investor dalam pasar perdana berupa pembentukan harga dan penawaran umum yang bisa diakses melalui www.e-ipo.co.id

Selain itu, ada pula simulasi trading bagi calon investor. Ini berguna untuk membantu anggota bursa saham dalam mengedukasi calon investor melalui penyediaan sistem simulasi trading online melalui www.virtualtrading.idx.co.id.

Di pasar modal syariah, sesuai arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI telah membuat rencana kerja 5 tahun. Ini meliputi, pengembangan produk pasar modal syariah, pengembangan infrastruktur pasar modal syariah, literasi dan inklusi pasar modal syariah hingga sinergi dan pemangku kepentingan.

Dalam suatu kesempatan, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan penguatan pasar modal Indonesia bagaimanapun juga perlu dilakukan dari dalam negeri.   

"Meskipun kecil (dana terhimpun IPO) inilah yang kita harapkan, agar player kita banyak jumlahnya dan menjadi lebih integritas pasarnya terjaga. Dan juga banyak investor-investor di dalam negeri ini mendukung upaya kita agar tidak sangat tergantung dengan portofolio dari luar negeri," ujar Wimboh secara daring dalam diskusi bertajuk “Building Resilience to Economic Recovery” pada Selasa (24/11) lalu. 

Pihaknya pun mengaku, akan terus mendorong para pelaku pasar modal agar bisa optimal masuk dalam pencatatan. Selain juga, terus mengembangkan teknologi agar bisa lebih banyak menggaet investor. "Upaya OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) akan kita lakukan terus menerus," pungkasnya.  

Berita Lainnya