close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Dokumentasi PT Freeport Indonesia.
icon caption
Ilustrasi. Dokumentasi PT Freeport Indonesia.
Bisnis
Rabu, 31 Maret 2021 13:29

Komisi VII DPR pertanyakan kelanjutan pembangunan smelter Freeport

Pembangunan smelter tidak akan mangkrak bila dapat menghadirkan keuntungan pemangku kewenangan.
swipe

Anggota Komisi VII DPR RI, Adian Napitupulu, meminta, penjelasan Dirjen Minerba dan Direktur Mind ID yang tak kunjung membangun smelter di Papua. Dia menilai, tidak ada realisasi pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian itu.

Bagi politikus PDIP itu, pembangunan smelter tidak akan mangkrak bila dapat menghadirkan keuntungan pemangku kewenangan. Pasalnya, pengusaha akan melakukan apapun agar dapat mendulang keuntungan perusahaan yang dijalankan.

"Yang jadi problem sekarang, apakah smelter itu menguntungkan? kalau menguntungkan enggak perlu kita paksa-paksa. Karena (pengusaha) wataknya pasti tamak. Untungin, bangun, ambil. Kenapa mesti dipaksa-paksa. Jangan-jangan apa yang dibilang Pak Kapoksi kami dan Bang Willy ada benarnya, enggak untungin," kata Adian, dalam RDP Komisi VII DPR RI, yang disiarkan secara virtual, Rabu (31/3).

Dia menduga, para pemangku kewenangan tidak serius dalam membangun negara secara utuh dan komprehensif. Karena itu, Adian meminta, penjelasan terkait keberlanjutan pembangunan smelter agar dugaan dapat dihindarkan.

"Kalau menurut saya, ada baiknya dipresentasikan oleh Dirjen Minerba dan Mind ID sebenarnya ingin gak sih bangun smelter buat mereka. Kalau memang tidak nguntungin, dan kita paksa, jangan-jangan kita sedag berusaha membunub Mind IDnya gitu loh," tutur Adian.

"Nah, boleh enggak saya minta waktu dipresentasikan kalkulasi bangun smelter ini. Saya setuju teman Papua minta smelter dibangun di Papua, kalau kawan saya Gus Falah minta dibangun di Gresik, Bang Willy minta di Kalimantan Tengah, Mba Ning minta di Sukabumi boleh-boleh saja smelter kedua. Tetapi smelter pertama saja belum kelar-kelar, gimana kita mau bicara smelter kedua," lanjutnya.

Kendati menilai tidak ada keseriusan bangun smelter, Adian melihat, para pemangku kewenangan tambang emas terbesar itu tidak ingin mengeluarkan uang untuk bangun smelter.

"Ya, kita fair saja, kalau memang tidak untungin ya kita bicarakan kembali. Kalau untungin kita paksa. Tetapi sebenarnya, kalau dia (smelter) untungin tidak usah dipaksa lah. Pengusaha itu, penciumannya jauh lebih tajam dibandingkan kita soal duit. Dari Amerika bisa nyium di Papua ada emasnya. Kita yang ada di Jawa bingung," tandasnya.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Ridwan Djamaluddin, menilai, ada pihak lain yang untung bila perusahaan tidak mendulang untung dalam pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian itu.

"Nah, pihak lain itu yang kita harapkan negara yang untung pak. Jadi disitu saya kira cara kita memandangnya," tuturnya.

Terlepas dar itu, Ridwan menilai, pembangunan smelter akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. "Secara global, smelter ini pasti untung pak sebenarnya. Mereka (pengusaha) tidak rugi, hanya keuntungannya berkurang pak," tandasnya.

img
Achmad Al Fiqri
Reporter
img
Achmad Rizki
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan