sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kondisi ekonomi global berdampak negatif bagi domestik

Risiko utama yang patut dicermati masih berasal dari arah kebijakan pemerintah AS

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Kamis, 01 Nov 2018 19:27 WIB
Kondisi ekonomi global berdampak negatif bagi domestik
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengumumkan sistem keuangan triwulan III-2018, pada kondisi yang terkendali. Namun, perkembangan ekonomi global berdampak negatif terhadap perekonomian domestik.

Menteri Keuangan yang juga sebagai Ketua KSSK, Sri Mulyani menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan lembaga anggota KSSK, hal itu dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi yang terjaga, tingkat inflasi yang stabil dan berada pada level yang rendah. 

"Selain itu cadangan devisa berada pada level yang memadai, volatilitas nilai tukar yang terkendali, serta defisit APBN dan keseimbangan primer yang jauh lebih baik dari periode sebelumnya," jelas Sri Mulyani di kantornya, Kamis (1/11). 

Seperti diketahui cadangan devisa Indonesia saat ini sebanyak US$113 miliar dan rupiah sampai dengan 23 Oktober terdepresiasi sebesar 10,65%. 

KSSK menilai potensi risiko utama yang patut dicermati masih berasal dari arah kebijakan pemerintah AS dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berdampak signifikan terhadap perekonomian dunia, khsususnya mitra dagang utama AS. 

"Pertumbuhan ekonomi global berdampak negatif terhadap perekonomian domestik," jelas Sri Mulyani. 

Dari dalam negeri, potensi risiko masih berasal dari defisit transaksi berjalan (Curent Account Defisit - CAD) yang terus melebar, nilai tukar yang terus tertekan, serta ketergantungan pada ekspor komoditas tertentu.  

"KSSK terus melakukan pemantauan dan mitigasi berkelanjutan atas dampak dari berbagai potensi risiko tersebut terhadap Stabilitas Sistem Keuangan," imbuh Sri Mulyani. 

Sponsored

Di bidang moneter, Gubernur BI Perry Warjiyo mengumumkan akan terus memperkuat bauran kebijakan yang konsisten untuk menurunkan CAD ke dalam batas aman. 

BI memproyeksikan, CAD di sepanjang kuartal III-2018 berada di atas 3% dari PDB. Hal itu lanataran neraca dagang menctatat angka defisit di Juli dan Agustus 2018. 

Per hari ini, BI juga sudah menjalankan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam rangka mempercepat pendalaman pasar valas, serta memberikan alternatif instrumen lindung nilai bagi bank dan korporasi. 

"Mitigasi dalam skala internasional juga telah dilakukan Bl dengan memperkuat jaring pengaman keuangan internasional bekerjasama dengan otoritas dari beberapa negara," jelas Perry dalam kesempatan yang sama. 

BI dan Monetary Authority of Singapore melakukan kesepakatan awal kerja sama keuangan dalam bentuk bilateral swap and repo arrangement senilai ekuivalen USD10 miliar. 

Selanjutnya pada 14 Oktober 2018, Bl dan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) yang bertindak sebagai agen Kementerian Keuangan Jepang. telah menandatangani amandemen perjanjian kerja sama Bilateral Swap Arrangement (BSA) senilai USD22.

Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana juga mengumumkan, pertumbuhan kredit terus meningkat hingga 12,69% (yoy), serta penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp143,6 triliun per 19 Oktober 2018 ytd. 

Namun, pihaknya juga mencermati beberapa hal. Diantaranya permodalan bank dengan CAR Perbankan triwulan III-2018 berada di level 23,03%. NPL juga masih terjaga, per September 2018 NPL gross 2,66% dan NPF 3,17%. 

"Artinya, di tengah pertumbuhan kredit yang baik, CAR dan NPL masih terjaga. Industri jasa keuangan masih catatkan efisiensi yang cukup baik. Tapi kami lihat kondisi likudiitas yang mengetat, namun buffer terjaga. Tapi dengan koordinasi dengan BI, kami yakin momentum ini masih terjaga," papar Heru. 

Berita Lainnya