sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Laba bersih Bank Mandiri tergerus 30,73% di kuartal III-2020

Penurunan laba bersih tersebut sejalan dengan penurunan pendapatan operasional sebesar 3,06%

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 26 Okt 2020 12:29 WIB
Laba bersih Bank Mandiri tergerus 30,73% di kuartal III-2020
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 516.753
Dirawat 66.752
Meninggal 16.352
Sembuh 433.649

Di tengah pandemi Covid-19, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan penurunan laba bersih 30,73% menjadi Rp14,03 triliun pada kuartal III-2020, dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp20,3 triliun.

Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin mengatakan, penurunan laba bersih tersebut sejalan dengan penurunan pendapatan operasional sebesar 3,06% atau menjadi Rp62,97 triliun. Rinciannya, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) Bank Mandiri turun 4,27% menjadi Rp43,4 triliun secara tahunan.

Kemudian, net interest margin (NIM) Bank Mandiri tercatat berada di 4,68% atau turun 90 basis poin secara tahunan (yoy) akibat penurunan pendapatan bunga, khususnya yang berasal dari kredit. Sementara pendapatan biaya atau fee based income (FBI) Bank Mandiri juga tercatat turun 0,26% menjadi Rp19,6 triliun.

"Biaya operasional dapat dikendalikan dengan cukup baik di mana pertumbuhan hanya 0,42%," kata Siddik dalam paparan kinerja Bank Mandiri kuartal III-2020, Senin (26/10).

Sementara Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan, penyaluran kredit Bank Mandiri secara konsolidasi, tercatat meningkat 3,79% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp873,73 triliun hingga akhir September 2020.

Penyaluran kredit produktif perseroan secara bank only, tumbuh sebesar 3,88% yoy menjadi Rp616,37 triliun di September 2020. Penyaluran kredit tersebut terdiri atas kredit modal kerja sebesar Rp314,82 triliun dan kredit investasi sebesar Rp301,55 triliun.

Darmawan melanjutkan, penyaluran kredit ke segmen wholesale tercatat masih menjadi motor pembiayaan perseroan dengan komposisi sebesar 65,3% atau Rp492,63 triliun. Nilai tersebut tumbuh 9,73% dari periode yang sama tahun lalu.

Adapun pembiayaan ke sektor usaha mikro, menjadi kontributor pertumbuhan kredit lainnya, dengan pertumbuhan sebesar 13,03% secara tahunan menjadi Rp49,07 triliun.

Sponsored

Saat ini salah satu fokus penyaluran kredit perseroan adalah membantu para pelaku usaha terdampak covid-19, khususnya pelaku UMKM, untuk mengembalikan usaha yang sempat menurun akibat pandemi Covid-19.

“Kami berharap inisiatif ini dapat ikut mengembalikan optimisme dan memulihkan denyut nadi perekonomian Indonesia yang terdampak pandemi Covid-19," tutur Darmawan.

Bank Mandiri juga akan terus memastikan strategi pertumbuhan yang berkesinambungan melalui penerapan prinsip kehati-hatian dan analisis sektor yang cermat dalam penyaluran kredit. Hingga akhir kuartal III-2020, rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) bank berlogo pita emas ini secara gross masih terjaga di level 3,33% secara konsolidasi.

Adapun untuk mengantisipasi potensi ketidakpastian ekonomi ke depan, Bank Mandiri juga membangun pencadangan untuk memastikan terjaganya kualitas aset. Per September 2020, rasio coverage CKPN konsolidasi Bank Mandiri berada di kisaran 205,15% sebagai antisipasi penurunan kualitas kredit akibat pandemi Covid-19.

Meski meningkatkan pencadangan, Bank Mandiri memastikan likuiditas perseroan berada pada level yang aman. Hal ini didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi yang mencapai 14,92% secara tahunan, menjadi Rp1.024,2 triliun dengan komposisi dana murah mencapai 61,9%.

Dengan demikian, Darmawan mengatakan Bank Mandiri mampu menjaga kinerja perseroan dengan pencapaian aset konsolidasi yang sebesar Rp1.407 triliun atau meningkat 10,27% yoy.
 

Berita Lainnya