sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Melihat pasar ekspor baru di Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah

Indonesia membidik pasar ekspor baru atau nontradisional di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan.

Soraya Novika
Soraya Novika Selasa, 26 Mar 2019 11:08 WIB
Melihat pasar ekspor baru di Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah

Laju ekonomi dunia yang melambat sejak dua tahun belakangan secara tidak langsung berdampak pada perekonomian Indonesia. Apalagi krisis global ini juga diprediksi berlanjut hingga akhir 2019.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan pasar ekspor baru atau pasar nontradisional memiliki potensi yang sangat menjanjikan bagi peningkatan ekspor Indonesia. 

"Potensi pasar-pasar baru seperti Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah itu memang sangat besar dilihat dari salah satunya jumlah penduduk di sana yang terbilang cukup besar peluang penerimaannya," ujar Rosan P Roeslani kepada Alinea.id di Jakarta, belum lama ini.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan Indonesia harus segera mengantisipasi hal tersebut dengan meningkatkan ekspor khususnya membuka akses ke pasar baru atau nontradisional.

Meski demikian, Darmin mengatakan pemilihan pasar nontradisional tujuan ekspor memerlukan strategi yang matang.

"Untuk meningkatkan akses pasar non tradisional perlu menimbang potensi permintaannya sebesar apa. Bisa kita pantau dari jumlah penduduknya, lalu pertumbuhan ekonominya bagaimana, begitu juga pendapatan per kapitanya," ujar Darmin di Jakarta, belum lama ini.

Darmin mengatakan pasar nontradisional yang berpotensi tinggi berada di dua Benua yakni Afrika dan Asia. Adapun negara di Afrika seperti  Algeria, Mesir, Ghana, Pantai Gading, Moroko, Mozambik, Nigeria, dan Afrika Selatan. Sementara, negara-negara Asia Selatan seperti Bangladesh, India, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka.

Mengutip data Kementerian Perdagangan RI, total nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara Afrika pada Januari 2018-November 2018 mencapai US$10,38 miliar atau naik sebanyak 30,15% dibanding periode yang sama pada tahun sbeelumnya (year on year/yoy). 

Sponsored

Demikian pula dengan pasar di kawasan Asia Selatan pada periode yang sama mencapai US$22,28 miliar atau naik 7,04% yoy dan Timur Tengah mencapai US$12,63 miliar atau naik sebesar 16,61% YoY.

Diversifikasi produk eskpor

Selain fokus pada perluasan pasar, hal lain yang tengah dilakukan Kadin bersama pemerintah demi menggenjot ekspor RI ialah diversifikasi produk ekspor.

"Pemerintah bersama para pengusaha Indonesia mencoba memasuki pasar nontradisional dan pasar tradisional dengan diversifikasi produk terutama pada produk handmade," katanya.

Menurut Rosan, produk manufaktur handmade Indonesia memiliki pasar loyal tersendiri di kancah global. Produk tersebut memiliki nilai tambah justru karena terbatasnya ketersediaan barang itu sendiri.

"Produk handmade ini meski volume produksinya kecil, tapi ternyata sangat laku di Eropa. Bahkan para Hollywood Star banyak yang pakai produk handmade kita, karena kan sifatnya itu limited mereka suka," ucapnya.

Selain itu, Rosan mengaku hingga saat ini Kadin gencar mendorong pemerintah agar dapat mempermudah bea dan cukai ekspor kepada para pengusaha yang melakukan ekspor.

"Kita dorong terus pemerintah untuk mempermudah bea dan cukai ekspor serta memberikan insentif fiskal kepada para pelaku ekspor," katanya.

Komoditas ekspor unggulan

Selain fokus pada peningkatan akses pasar non tradisional, Darmin menawarkan sejumlah kebijakan jangka pendek lainnya yang dapat digenjot pemerintah dalam rangka meningkatkan ekspor secara menyeluruh.

"Dalam jangka pendek, kebijakan peningkatan ekspor yang perlu dilakukan pemerintah itu bisa melalui pemilihan ekspor unggulan, mengurangi biaya dan simplifikasi prosedural ekspor, serta diplomasi ekonomi," ucapnya.

Komoditas ekspor kategori unggulan terdiri atas industri makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, elektronik, otomotif, kimia, perikanan, permesinan umum, serta produk kayu dan karet.

Di sisi lain, Darmin menyebut untuk mengurangi biaya dan menyederhanakan prosedur ekspor, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah. Pertama, mengurangi komoditi yang wajib Laporan Surveyor (LS) dan mengurangi Lartas Ekspor lainnya. 

Selanjutnya, memfasilitasi penerbitan certificate of origin yang tidak memerlukan legalisasi Kementerian Luar Negeri serta efisiensi logistik dengan sitem DO online, relaksasi prosedur ekspor otomotif, dan otomotif center.

Dari segi diplomasi ekonomi, langkah yang dapat diambil pemerintah di antaranya terkait pengenaan Tarif Preferensi (FTA) dan penyelesaian sengketa dagang. 

Sebagaimana diketahui, sepanjang 2014-2018, terdapat delapan sengketa dagang yang melibatkan Indonesia. Delapan sengketa itu yakni sengketa antidumping produk biodiesel dengan Uni Eropa, Antidumping kertas berlapis dengan Amerika Serikat, antidumping kerta A4 dengan Australia, sengketa impor hortikultura, hewan, dan produk hewan dengan AS dan Selandia Baru.

Selanjutnya, sengketa rokok kretek dengan Uni Eropa, sengketa impor ayam dan produk dari ayam serta sengketa impor daging sapi dengan Brazil, serta sengketa safeguard besi dan baja dengan Taiwan dan Vietnam.

Kemudian, untuk strategi meningkatkan ekspor jangka menengah dan panjang, pemerintah diminta fokus mengembangkan infrastruktur dan Sumber Daya Manusia (SDM).

"Membangun infrastruktur hampir selalu lebih lama dari membangun industri bisa dalam kurun waktu 4-7 tahun. Namun, sekalinya dibangun bisa digunakan 40-50 tahun. Maka, membangun infrastruktur dapat membangun kegiatan yang lain," katanya.

Dikutip dari data World Bank, pada 2019 perekonomian global diproyeksi menurun dari 3% menjadi 2,9%. Sementara International Monetary Fund (IMF) memproyeksi penurunan dari 3,7% menjadi 3,5%; dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksi penurunan dari 3,6% menjadi 3,3%.

Berita Lainnya
×
tekid