sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

OJK: Pasar modal Indonesia tumbuh pesat dari negara lain

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pasar modal di negara-negara tetangga tumbuh negatif karena sudah jenuh.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 25 Okt 2019 17:45 WIB
OJK: Pasar modal Indonesia tumbuh pesat dari negara lain

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pasar modal Indonesia tumbuh lebih baik dibandingkan negara-negara tetangganya tahun ini. 

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesen, mengatakan beberapa negara tetangga mengalami pertumbuhan negatif dalam jumlah emiten. Dia mencontohkan jumlah emiten di pasar modal di Singapura yang sulit bertambah karena pasarnya sudah jenuh.

"Pasar modal Indonesia dicemburui negara tetangga," kata Hoesen dalam sharing session dengan media di Lombok, Jumat (25/10).

Sebagai informasi, berdasarkan data dari Ernst and Young Global IPO Trends Q3, jumlah perusahaan tercatat di Singapura per 18 Oktober 2019 hanya mencapai 11 perusahaan. Sementara, di Indonesia, pada periode yang sama ada 41 perusahaan yang melantai di bursa. Dengan jumlah tersebut, pertumbuhan perusahaan tercatat di Singapura menjadi negatif 4,8%.

Hoesen pun mengatakan OJK bersama dengan regulator pasar modal optimis pasar modal Indonesia akan tumbuh karena jumlah investor tidak sampai 1% dari jumlah penduduk dan pasar modal Indonesia belum mencapai titik  jenuh. 

Demikian pula halnya dengan jumlah emiten yang baru mencapai 655 emiten. Menurut Hoesen, jumlah tersebut terbilang kecil dibanding dengan potensi perusahaan yang ada di Indonesia. 

"Kita mengupayakan jumlah emiten akan tumbuh sampai akhir tahun. Kita dalam era pertumbuhan yang sangat baik," tuturnya. 

Sebagai informasi, secara pertumbuhan jumlah investor terus meningkat dari tahun ke tahun. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat hingga 23 Oktober 2019, jumlah investor di pasar saham berjumlah 2,285 juta investor. 

Sponsored

Investor saham telah mengalami peningkatan hampir dua kali lipat atau sebesar 194% sejak tahun 2014, menjadi sebanyak 1,055 juta investor. Kemudian, investor reksa dana juga mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat atau sebesar 345% sejak tahun 2014 menjadi sebanyak 1,5 juta investor. 

Selain itu, investor Surat Berharga Negara (SBN) juga mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat sebesar 276% sejak tahun 2014 menjadi 304.321 investor.