logo alinea.id logo alinea.id

Pengembangan energi B100 ditargetkan selesai dalam 3 tahun

Peralihan penggunaan bahan bakar minyak ke bahan bakar nabati secara bertahap.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Senin, 18 Feb 2019 21:35 WIB
Pengembangan energi B100 ditargetkan selesai dalam 3 tahun

Janji Presiden Joko Widodo yang menargetkan produksi bahan bakar nabati campuran sampai 100% dijawab oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno. Menurut Rini, target produksi bahan bakar nabati campuran 100% atau B100 akan selesai dalam jangka waktu 3 tahun ke depan.

“Kalau B100 bisa lah tiga tahun ke depan selesai. Namun belum sepenuhnya langsung tergantikan, masih butuh waktu lama untuk menyeluruh,” kata Menteri BUMN, Rini Soemarno di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (18/2).

Rini menjelaskan, peralihan penggunaan bahan bakar minyak ke bahan bakar nabati belum sepenuhnya dapat tergantikan. Namun dia berjanji, paling tidak akan digantikan secara bertahap, yakni B50 atau 50% terlebih dahulu menggunakan biodiesel.

Menurutnya, investasi program untuk menuju B50 paling dekat adalah dengan membangun kilang green refinery yang dapat memproduksi BBN B50. Untuk membangun kilan tersebut, butuh investasi sekitar 800 juta dolar AS. Tak sendiri, PT Pertamina akan bekerja sama dengan ENI, perusahaan migas asal Italia.

Sebelumnya, pada debat kedua Pilpres 2019 yang berlangsung pada Minggu (18/2) di Hotel Sultan, Jakarta, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyebutkan saat ini Indonesia sedang menuju proses pengembangan energi B100 atau campuran biodiesel 100% pada BBM.

“Kita sudah produksi B20 sudah sebanyak 98%, artinya B20 sudah rampung, saat ini kita menuju B100," kata Jokowi.

Selain itu, Jokowi juga menyampaikan bahwa sebanyak 30% produksi sawit di Indoensia akan dimanfaatkan menjadi energi baru terbarukan. Hal tersebut sudah direncanakan secara rigid dan jelas. Tujuannya, agar Indonesia tidak tergantung pada impor minyak.

Menanggapi janji Jokowi itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Berly Martawardaya, menyebut visi calon presiden nomor urut 01 soal pengembangan energi B100 atau campuran biodiesel 100% pada BBM masih akan sulit dicapai.

Sponsored

"B100 itu agak sulit. Pasalnya kalau 100% biodiesel itu banyak yang tidak jalan. Maksimal campuran biodiesel itu biasanya 40%," kata Berly.

Menurut dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia itu, di Eropa yang kepedulian lingkungannya tinggi saja, program B100 masih belum bisa direalisasikan. Ia menyayangkan dari visi misi Jokowi soal pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), hanya pengembangan minyak kelapa sawit yang diangkat. Padahal, Indonesia memiliki potensi pasokan energi baru dan terbarukan yang begitu melimpah.

"Kalau bicara energi baru dan terbarukan biasanya akan bicara soal angin, air, surya atau geotermal, tapi kok tidak disebut. Itu agak aneh. Padahal ada beberapa yang sudah beroperasi misal pembangkit angin di Sidrap. Itu jadi pertanyaan," kata Berly.

Ia berharap ada komitmen Jokowi untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan EBT dalam bauran energi nasional yang ditargetkan mencapai 23% pada 2025. Adapun saat ini, porsi pemanfaatan EBT dalam bauran energi baru mencapai 8%. (Ant)

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB