sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pertamina catat penjualan BBM terendah sepanjang masa

Penjualan bahan bakar minyak (BBM) ritel pada Maret 2020 turun hingga 16,78% akibat Covid-19.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 17 Apr 2020 11:37 WIB
Pertamina catat penjualan BBM terendah sepanjang masa

PT Pertamina (Persero) menyatakan terjadi penurunan permintaan minyak dan gas di Indonesia. Pertamina mencatat penjualan bahan bakar minyak (BBM) ritel pada Maret 2020 turun hingga 16,78%.

"Dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan akan dilanjutkan dengan daerah yang lain, akan semakin tertekan. Ini situasi yang belum pernah terjadi dan mencatatkan penjualan terendah dalam sejarah Pertamina," kata Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Kamis (16/4).

Selain tertekannya penjualan BBM Pertamina untuk ritel, penjualan BBM untuk korporat dan aviasi juga turut mengalami pelemahan yang signifikan. Untuk penjualan rata-rata harian BBM industri, Pertamina mencatatkan penurunan 3,18% pada Maret 2020.

Sementara untuk aviasi, penjualan rata-rata harian turun 45% pada Maret 2020. Nicke mengatakan hal ini akibat berkurangnya jumlah penerbangan ke beberapa daerah dan negara lain.

"Karena permintaan avtur berkurang drastis, kami harus menghentikan produksi kilang-kilang kami untuk solar dan avtur," tuturnya.

Nicke pun mengatakan pihaknya telah memetakan dua simulasi dampak terburuk akibat Covid-19. Simulasi pertama dilakukan dengan asumsi harga minyak US$38/barel dengan nilai tukar Rp17.500. Dengan skenario tersebut, akan ada penurunan pendapatan perusahaan sebesar 38% dari RKAP Pertamina.

Sementara untuk skenario sangat berat dengan asumsi harga minyak US$31/barel dan nilai tukar rupiah Rp20.000, Pertamina akan mencatatkan penurunan pendapatan hingga 45% dari target RKAP 2020.

"Penurunan terbesar pendapatan disebabkan oleh faktor volume dan nilai tukar rupiah," ujarnya.

Sponsored

Nicke menyebutkan ada beberapa mitigasi risiko bisnis yang akan dilakukan oleh Pertamina untuk mengurangi dampak Covid-19. Pertama, dengan turunnya permintaan, Pertamina akan mengurangi dan menyetop sementara produksi migas di beberapa kilang.

"Bertahap akan kami turunkan produksinya sesuai dengan kondisi permintaan. Dalam skenario terkahir, kami harus menurunkan 15%," tuturnya.

Namun demikian, Pertamina akan tetap mengoperasikan seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) meskipun permintaan berkurang drastis. Sebab, Pertamina melihat SPBU masih dibutuhkan untuk kendaraan pengangkut logistik.

Untuk diketahui, industri minyak dan gas (migas) secara global turut terdampak penyebaran Covid-19. Tiga hal yang berdampak besar terhadap keberlangsungan bisnis migas tahun ini adalah terjadinya kelebihan suplai, yang dibarengi penurunan permintaan. Hal ini sekaligus menyebabkan penurunan harga minyak dan terdepresiasinya rupiah.

Berita Lainnya