sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Rapor biru perbankan, modal hadapi tahun kegelapan

Industri perbankan nasional mencatat kinerja positif pada semester-I 2022 namun perlu kewaspadaan hadapi tahun kegelapan ekonomi global.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Kamis, 18 Agst 2022 08:27 WIB
Rapor biru perbankan, modal hadapi tahun kegelapan

Industri perbankan menutup buku paruh pertama tahun ini dengan tinta biru tertera pada laporan keuangan banyak bank nasional. Sebut saja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI yang pada semester-I 2022 mencatatkan pertumbuhan laba bersih hingga 93,38% secara tahunan (year on year/yoy), menjadi senilai Rp24,88 triliun dari yang sebelumnya sebesar Rp12,47 triliun. 

Pertumbuhan net profit ini ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga yang tumbuh 10% yoy, dari Juni 2021 Rp69,95 triliun menjadi Rp76,86 triliun. Sebaliknya, beban bunga mengalami penurunan 18% yoy menjadi 12,24 triliun, dari Rp14,98 triliun. Dus, perusahaan yang berfokus pada penyaluran kredit kepada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) ini mencatatkan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp64,61 triliun, naik 18% dari tahun sebelumnya.

Dari sisi pembiayaan, BRI berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp1.04,79 triliun atau naik 8,75% yoy. Di mana pembiayaan terhadap UMKM mencapai Rp920 triliun hingga akhir kuartal-II 2022, atau 83,27% terhadap total penyaluran kredit. Sedangkan proporsi kredit korporasi BRI berada di kisaran 16%, porsi ini lebih rendah dari periode sama di tahun sebelumnya yang sebesar 17,53%.

Main driver pertumbuhan kredit BRI masih pada segmen UMKM, utamanya pada segmen mikro. Tapi, kami akan tetap mendorong (kredit) segmen korporasi untuk tetap tumbuh,” ujar Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto, kepada Alinea.id, Senin (15/8).

Hal ini seiring dengan visi perseroan yang menargetkan penyaluran kredit korporasi sebesar 15% dan pembiayaan terhadap UMKM hingga 85% pada 2025 nanti. Kemampuan BRI dalam menyalurkan diimbangi pula oleh manajemen risiko yang baik.

Hal ini tercermin dari rasio kredit macet alias non-performing loan (NPL) yang terkendali di level 3,26%. Namun demikian, sebagai antisipasi risiko, perseroan menyiapkan pencadangan (NPL Coverage) sebesar 266,26%, naik dari kuartal-II 2021 yang sebesar 252,59%.

Di saat yang sama, bank pelat merah ini juga berhasil meningkatkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.136,98 triliun, naik 3,70% yoy. Pertumbuhan utama DPK disumbang oleh lonjakan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang sebesar 13,38%, dengan porsi mencapai 65,12%.

“Peningkatan CASA yang dilakukan oleh perseroan selaras dengan transformasi yang sedang kami jalankan. Di mana inisiatif strategis yang dijalankan difokuskan untuk mengakselerasi CASA growth,” jelas Direktur Utama BRI Sunarso, dalam paparan kinerja kuartal-II 2022 BRI, Rabu (27/7).

Sponsored

Seorang wanita melintas di depan ATM BRI. Foto Reuters.

Sementara itu, hingga akhir Juni 2022, fee based income atau pendapatan bank di luar pendapatan dari bunga kredit BRI tercatat sebesar Rp724,2 miliar. Pendapatan ini disumbang oleh volume transaksi digital dari aplikasi digital banking perseroan BRImo yang melonjak hingga 131% yoy atau senilai Rp1.075 triliun. Dengan jumlah transaksi hingga akhir Juni mencapai 726,4 juta atau tumbuh 136,5% yoy.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Konsumer BRI Handayani menjelaskan, BRImo merupakan financial super apps yang menjadi andalan nasabah dalam mengakses layanan keuangan BRI. Di sisi lain, aplikasi digital banking ini juga menjadi salah satu cara agar perusahaan dapat terus berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat yang mulai beralih kepada digitalisasi.

“Kami terus memperkuat layanan digital agar akses perbankan jauh lebih mudah diakses oleh masyarakat,” katanya, kepada Alinea.id, Rabu (10/8).

Sementara itu, dari sisi perbankan swasta, ada PT Bank Central Asia Tbk atau BCA yang juga mencatatkan kinerja apik pada semester-I 2022 ini. Berdasar laporan keuangan yang dirilis perusahaan, BCA dan entitas anak berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp18 triliun, tumbuh 24,9% yoy.

Pertumbuhan ini disokong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (NII) yang sebesar 5,3% yoy, menjadi Rp29,8 triliun. Kemudian, pendapatan operasional BCA juga tumbuh 6,3% yoy menjadi Rp40,9 triliun. Sementara pendapatan selain bunga (fee-based income) naik 8,9% yoy menjadi Rp11,1 triliun.

Dari sisi pembiayaan, hingga paruh pertama tahun ini BCA telah menyalurkan kredit hingga Rp675,4 triliun, atau naik 13,8% yoy. Pertumbuhan kredit tersebut ditopang oleh kredit korporasi Rp310,2 triliun, naik 19,1% dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya.

Selanjutnya, kredit komersial dan UMKM menjadi segmen penyaluran kredit terbesar kedua, yang senilai Rp197,5 triliun. Sementara kredit pemilikan rumah (KPR) tumbuh 8,5% yoy, menjadi Rp101,6 triliun dan kredit kendaraan bermotor (KKB) naik 7,6% menjadi Rp43,2 triliun.

Kemudian, saldo outstanding kartu kredit tumbuh 10,7% yoy ke Rp12,7 triliun. "Setelah rebound dari tekanan pandemi, total portofolio kredit konsumer naik 7,6% yoy menjadi Rp160,5 triliun," papar Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam konferensi press paparan kinerja semester-I 2022 BCA, Rabu (27/8).

Sementara pertumbuhan dana murah bank milik Grup Djarum ini naik 17,3% yoy menjadi Rp817,8 triliun. Dengan pertumbuhan tersebut, CASA BCA pun mampu memberikan kontribusi hingga 81% terhadap total DPK perseroan yang senilai Rp1.011 triliun. Pada akhirnya, kenaikan DPK hingga 12,9% yoy ini pun membuat total aset bank dengan kode emiten BBCA ini ikut melonjak hingga 11,9% yoy menjadi Rp1.264,5 triliun.

“Solidnya kinerja perusahaan ini sejalan dengan peningkatan aktivitas transaksi perbankan, yang hingga semester-I 2022, total volume transaksi kami naik 40% yoy mencapai 10 miliar transaksi. Mayoritas berasal dari transaksi mobile banking,” jelas Jahja.

Kinerja bank konvensional semester-I 2022

Bank

Laba Bersih

DPK

Kredit

Total Aset

Bank Mandiri*

Rp20,2 triliun

Rp1.318,42 triliun

Rp1.138,31 triliun

Rp1.786 triliun

BRI

Rp24,79 triliun

Rp1.136 triliun

Rp1.104,79 triliun

Rp1.652 triliun

BNI

Rp8,8 triliun

Rp691,84 triliun

Rp620,42 triliun

Rp946,5 triliun

BCA

Rp18,05 triliun

Rp1.011 triliun

Rp675,4 triliun

Rp1.264,5 triliun

OCBC NISP

Rp1,64 triliun

Rp171,49 triliun

Rp127,10 triliun

Rp223,4 triliun

Bank Danamon

Rp1,7 triliun

Rp122,7 triliun

Rp139,7 triliun

Rp193,57 triliun

BTPN

Rp1,64 triliun

Rp103,17 triliun

Rp149,26 triliun

Rp195,47 triliun

Citi Bank

Rp0,75 triliun

Rp61,3 triliun

Rp43,7 triliun

Rp0,16 triliun

* Untuk laba merupakan laba bersih perseroan selama semester-I 2022, sedangkan DPK, Kredit, dan Total Aset merupakan konsolidasi hingga kuartal-II 2022.

Sumber: Laporan Keuangan Perusahaan

Berbicara soal perbankan, tak lengkap rasanya jika tidak menyinggung soal perbankan digital. Meski tidak setinggi bank konvensional, kinerja apik pun terlihat dari laporan keuangan beberapa bank digital. Sebut saja Allo Bank yang mencatat pertumbuhan laba tertinggi.

Pada paruh pertama tahun ini, bank milik konglomerat Chairul Tanjung alias CT ini membukukan laba bersih senilai Rp150,62 miliar, meroket 557,16% dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya yang hanya untung sebesar Rp22,92 miliar. Kinerja positif ini ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (NII) yang juga melonjak 306,23% dari Rp53,47 miliar menjadi Rp217,24 miliar. Juga dari pendapatan berbasis komisi yang senilai Rp118,01 miliar.

Melesatnya pendapatan bank dengan kode saham BBHI ini dibarengi pula dengan kenaikan penyaluran kredit hingga 205% sejak awal tahun (year to date/ytd), menjadi Rp6,71 triliun. Kemudian, penghimpunan DPK Allo Bank juga tumbuh 71,89% yoy menjadi Rp3,18 triliun.

Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo bilang, kenaikan DPK perusahaan yang cukup signifikan ini tidak lain disebabkan oleh kenaikan simpanan deposito, yang hingga akhir Juni 2022 tumbuh 61% ytd menjadi Rp2,98 triliun. Sementara tabungan melesat 80% menjadi senilai Rp186,7 triliun.

Namun demikian, dana murah perusahaan tercatat mengalami kontraksi 22% ytd, menjadi hanya sebesar Rp209,5 miliar. “Dengan realisasi ini, kami menargetkan total DPK sekitar Rp7,5 triliun pada akhir tahun ini,” katanya beberapa waktu lalu.

Ilustrasi Pixabay.com.

Kinerja BRI, BCA dan Allo Bank ini memang tidak bisa mencerminkan kinerja keuangan perbankan nasional secara keseluruhan. Namun, paling tidak kinerja positif dari beberapa bank ini dapat menjadi bukti bahwa industri perbankan Indonesia mulai membaik.

Kinerja bank digital semester-I 2022

Bank

Laba/Rugi Bersih

DPK

Kredit

Total Aset

 

Bank Jago

Rp0,28 triliun

Rp5,84 triliun

Rp7,04 triliun

Rp14,61 triliun

 

Allo Bank

Rp0,15 triliun

Rp3,19 triliun

Rp6,71 triliun

Rp9,7 triliun

 

SeaBank

Rp0,59 triliun

Rp16,93 triliun

Rp13,95 triliun

Rp20,86 triliun

 

Bank Neo Commerce

(-)Rp0,61 triliun

Rp11,1 triliun

Rp7,04 triliun

Rp14,36 triliun

 

BCA Digital*

(-)Rp0,04 triliun

Rp4,4 triliun

 

Rp8,35 triliun

 

Keterangan: * Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun Bank BCA Digital adalah dana konsolidasi hingga 14 Juli 2022. BCA Digital juga belum menyalurkan kredit melalui aplikasi BLU BCA.

Harapan pascapandemi

Ekonom sekaligus Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, kinerja positif perbankan tak lain disebabkan oleh kondisi makro ekonomi Indonesia yang cukup baik. Dengan pertumbuhan ekonomi pada semester-I 2022 ini mencapai 5,23% secara tahunan seiring dengan mobilitas masyarakat yang sudah mulai kembali normal.

“Apalagi kuartal-II, ada pola konsumsi yang di-boost dengan lebaran, itu yang membuat laju lebih tinggi. Segmen digital juga sama,” kata Eko, kepada Alinea.id, Selasa (16/8).

Kondisi ekonomi yang cukup moderat inilah yang membuat permintaan penyaluran kredit perbankan melaju kencang. Dari catatan Bank Indonesia (BI), laju penyaluran kredit perbankan hingga Juni 2022 melesat cukup kencang, yakni 10,3% yoy mencapai Rp6.156,2 triliun. Pertumbuhan kredit ini ditopang oleh permintaan kredit perorangan dan korporasi yang masing-masing menunjukkan pertumbuhan sebesar 9,4% yoy dan 12,5% yoy menjadi Rp2.914 triliun dan Rp3.197 triliun.

Sebaliknya, DPK yang dihimpun perbankan hingga Juni 2022 nampak melambat bila dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 10,1%. Hingga akhir kuartal-II kemarin, DPK yang dihimpun perbankan hanya mencatatkan kenaikan sebesar 8,9% yoy atau senilai Rp7.330,3 triliun.

“Perkembangan DPK perbankan terutama disebabkan oleh perlambatan seluruh jenis simpanan, yakni giro, tabungan dan deposito. Berdasarkan golongan nasabah, perlambatan simpanan terjadi pada golongan nasabah perorangan maupun korporasi, khususnya pada giro,” jelas Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangannya kepada Alinea.id, beberapa waktu lalu.

Rupiah masih stabil

Dari sisi moneter, nilai tukar rupiah juga dinilai relatif stabil jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Selain itu, meski terjadi depresiasi, namun angka ini juga masih cenderung lebih rendah dari negara-negara lain.

Dari catatan BI dalam Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Tukar Rupiah, Jumat (5/8), rupiah ditutup di level Rp14.930 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/8) dan dibuka di level Rp14.890 pada perdagangan Jumat (5/8).

Penyebab lain dari laju kencang pertumbuhan perbankan, utamanya bank-bank besar ialah karena strategi internal dari masing-masing bank. Ekonom Senior Halim Alamsyah mengungkapkan, strategi ini tak lepas dari kondisi likuiditas perbankan yang melimpah, meskipun BI sudah mencoba mengurangi melalui kenaikan giro wajib minimum (GWM) Rupiah yang saat ini ada di level 7,5% dan diperkirakan akan menjadi 9% di akhir tahun nanti.

Perlu diketahui, sejak 1 Maret hingga 15 Juli kemarin, BI melakukan penyesuaian GWM Rupiah dan pemberian insentif GWM. Dengan langkah ini, BI pun berhasil menyerap likuiditas perbankan hingga Rp219 triliun.

“Tapi ternyata normalisasi kebijakan likuiditas yang dilakukan Bank Indonesia tidak mengganggu kondisi likuiditas dan intermediasi perbankan dalam menyalurkan kredit,” kata Halim, kepada Alinea.id, Rabu (17/8).

Lebih dari itu, suku bunga perbankan terus menunjukkan penurunan sejalan dengan tren perbaikan persepsi risiko. Di pasar dana, suku bunga deposito 1 bulan turun 69 basis points (bps) sejak Juni 2021 menjadi 2,81% pada Juni 2022. Di pasar kredit, suku bunga kredit menyusut 58 bps pada periode yang sama menjadi 8,94%.

Paling penting, ketahanan sistem keuangan tetap terjaga saat intermediasi perbankan terus meningkat. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan per Mei 2022 tetap tinggi, 24,67%, dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loans/NPL) terjaga di level 3,04% (bruto) dan 0,85% (neto).

“Dengan likuiditas melimpah, mereka bisa menurunkan biaya dananya menjadi sangat murah dan ini akan tercermin dari bank-bank besar terutama yang mampu mengoleksi CASA. Sehingga mereka bisa menekan biaya dana dan kondisi makro yang membaik ini mengakibatkan kredit mulai tumbuh,” lanjut Halim.

Selain itu, kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mengizinkan perbankan untuk melakukan restrukturisasi kredit bermasalah selama pandemi ini juga turut berperan. Dari catatan OJK, hingga April 2022, nilai restrukturisasi kredit perbankan masih senilai Rp630,11 triliun, turun 3,7% dari bulan sebelumnya.

Ilustrasi Pexels.com.

Bertolak dari indikator-indikator tersebut, tak mengherankan jika kredit tahun ini diperkirakan tumbuh 9,0-11,0% (yoy) dengan kecukupan likuiditas perbankan yang tetap terjaga. Namun, di balik kinerja gemilang, perbankan diharuskan tetap waspada untuk menghadapi sisa tahun ini dan tahun depan.

Sebab, meski perekonomian nasional kian membaik, Indonesia tidak bisa lepas dari tantangan perekonomian dunia. “Kita baru mendapatkan kabar, bahwa di second quarter ini AS mengalami kontraksi dan ini menjadi sinyal bahwa ekonomi AS barangkali menuju ke arah resesi. Kita tahu kalau AS resesi, kita juga akan terpengaruh sedikit banyak,” kata dia.

Kemudian, ada pula tantangan dari potensi penurunan ekonomi China serta perkembangan konflik antara negara itu dengan Taiwan. Dari dalam negeri, perbankan harus segera bersiap dengan akan berakhirnya kebijakan restrukturisasi kredit oleh OJK yang bakal berakhir pada Maret 2023. Belum lagi, BI juga dinilai masih akan terus melakukan pengetatan likuiditas.

“Dengan pertumbuhan ekonomi di kuartal-II yang lebih dari 5% ini, akan sedikit banyak membantu kredit tetap tumbuh. Namun, tantangan yang ada tidak mudah,” kata Halim mewanti-wanti.

Dengan berbagai tantangan itu, perbankan pun diharuskan untuk menjaga margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) dan pendapatan bunga bersih (NII) mereka. Hal ini perlu dilakukan sebagai antisipasi terjadinya tekanan inflasi, yang mungkin mengakibatkan BI menaikkan suku bunga acuannya (BI 7 Days Repo Rates/BI7DRR).

Sementara bagi bank mini yang modal intinya belum mencapai Rp3 triliun, juga diharuskan untuk mengantisipasi modal inti minimalnya. Sedangkan bagi bank-bank yang masuk dalam konglomerasi keuangan, dalam kesempatan lain Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menyarankan agar bank-bank ini dapat mengoptimalisasi penerapan IFRS (International Financial Account Standard) yakni standar pelaporan akuntansi yang diakui global dan telah diterapkan di Indonesia sejak beberapa tahun lalu dan Basel III.

“Ini untuk manage dan mitigasi risiko terintegrasi,” katanya, kepada Alinea.id, Selasa (16/8).
 

Berita Lainnya
×
tekid