sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

2 mantan staf Twitter dituduh jadi mata-mata Arab Saudi

Dua mantan karyawan Twitter dituduh melakukan spionase karena memperoleh informasi dari akun pribadi sejumlah kritikus Arab Saudi.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 07 Nov 2019 16:01 WIB
2 mantan staf Twitter dituduh jadi mata-mata Arab Saudi

Sebuah laporan Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (DoJ) menyatakan bahwa dua mantan karyawan Twitter dituduh melakukan spionase karena memperoleh informasi dari akun pribadi sejumlah kritikus pemerintah Arab Saudi.

Laporan yang dirilis pada Rabu (6/11) di Pengadilan Distrik San Fransisco itu merinci upaya terkoordinasi oleh pejabat pemerintahan Arab Saudi untuk merekrut sejumlah karyawan di Twitter untuk mencari data pribadi dari ribuan akun penggunanya.

Salah satu mantan karyawan Twitter, Ahmad Abouammo, ditangkap pada Selasa (5/11) dengan tuduhan memata-matai dan memalsukan informasi untuk menghalangi penyelidikan FBI.

Abouammo, yang merupakan warga AS asal Arab Saudi, ditangkap di Seattle. Dia akan tetap berada di balik jeruji besi sambil menunggu sidang pada Jumat (8/11).

Mantan karyawan lainnya, seorang warga Arab Saudi bernama Ali Alzabarah, dituduh mengakses informasi pribadi lebih dari 6.000 akun Twitter pada 2015 atas perintah Riyadh. Dia bahkan berhasil mengakses alamat email dan nomor telepon pribadi yang terkait dengan akun tersebut.

Alzabarah juga mengakses akun sejumlah kritikus pemerintah terkemuka, termasuk Omar Abdulaziz, seorang jurnalis yang dekat dengan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post yang dibunuh di Konsulat Arab Saudi di Turki pada 2018.

DoJ menuduh bahwa kedua karyawan itu dibayar dengan arloji mahal senilai US$35.000 dan puluhan ribu dolar lainnya yang disalurkan ke rekening bank rahasia.

Alzabarah dilaporkan mengaku kepada atasannya bahwa dia pernah mengakses data pengguna dan mengatakan dirinya melakukan itu karena penasaran. Dia ditempatkan pada cuti administratif, laptopnya disita dan dikawal keluar dari kantor.

Sponsored

Keesokan harinya, dia terbang ke Arab Saudi bersama istri dan anaknya. Hingga kini, para penyelidik mengatakan bahwa dia belum kembali ke AS. DoJ telah mengeluarkan surat perintah penangkapannya.

Dalam pernyataannya, Twitter mengucapkan terima kasih kepada FBI dan DoJ karena sudah membantu jalannya penyelidikan.

"Kami menyadari adanya upaya pihak jahat untuk mencoba merusak layanan kami. Kami memahami risiko yang dihadapi banyak pengguna Twitter," bunyi pernyataan tersebut.

Twitter tidak merinci bagaimana awalnya mereka bisa mengetahui aktivitas dua mantan karyawannya itu. (The Guardian dan Reuters)