logo alinea.id logo alinea.id

41 orang tewas akibat pesawat Aeroflot terbakar di Rusia

Pesawat jenis Sukhoi Superjet-100 milik maskapai Aeroflot itu mengangkut 78 penumpang dan lima awak.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 06 Mei 2019 09:19 WIB
41 orang tewas akibat pesawat Aeroflot terbakar di Rusia

Setidaknya 41 orang tewas setelah sebuah pesawat Rusia melakukan pendaratan darurat sebelum akhirnya meledak di Bandara Sheremetyevo di Moskow.

Video di media sosial menunjukkan penumpang menggunakan seluncurĀ keluar secara darurat untuk melarikan diri dari pesawat Aeroflot yang terbakar.

Media Rusia melaporkan, dua anak dan seorang pramugari termasuk di antara yang tewas. Pesawat itu mengangkut 78 penumpang dan lima awak.

Menteri Kesehatan Rusia Veronika Skvortsova mengatakan enam korban berada di rumah sakit dan tiga di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Aeroflot, maskapai nasional Rusia, mengatakan pesawat nahas itu terpaksa kembali ke bandara karena alasan teknis. Tetapi mereka tidak menjelaskan lebih lanjut.

Pesawat jenis Sukhoi Superjet-100 itu berangkat dari Bandara Sheremetyevo pukul 18.02 waktu setempat ke Kota Murmansk. Para kru mengeluarkan sinyal marabahaya ketika malafungsi terjadi tidak lama setelah keberangkatan.

"Setelah melakukan pendaratan darurat di bandara, mesin pesawat terbakar di landasan pacu," sebut Aeroflot dalam sebuah pernyataan. "Kru melakukan segalanya untuk menyelamatkan penumpang, yang dievakuasi dalam 55 detik."

Aeroflot sudah merilis 37 daftar korban selamat yang telah diidentifikasi. Mereka menyatakan akan terus memperbarui informasi.

Sponsored

Penjabat Gubernur Murmansk Andrey Chibis mengatakan bahwa keluarga mereka yang tewas dalam kecelakaan tersebut masing-masing akan menerima santunan US$15.300. Sementara para korban yang dirawat di rumah sakit akan mendapat US$7.650.

Investigasi telah dibuka terhadap insiden ini. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan telah diberitahu dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Wilayah Murmansk mengumumkan masa berkabung tiga hari.

Sumber : BBC