sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

AS bangun koalisi pascaserangan ke Saudi Aramco

Pembentukan koalisi ini disampaikan oleh Menlu AS Mike Pompeo usai bertemu dengan pemimpin Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 20 Sep 2019 10:21 WIB
AS bangun koalisi pascaserangan ke Saudi Aramco

Amerika Serikat pada Kamis (19/9) mengatakan bahwa mereka tengah membangun koalisi untuk mencegah ancaman Iran. Namun Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan bahwa Donald Trump, yang telah memerintahkan lebih banyak sanksi terhadap Teheran, menginginkan solusi damai.

Pompeo mengungkapkan hal tersebut usai melawat ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk membahas serangan ke dua fasilitas minyak milik Saudi Aramco, perusahaan minyak nasional Arab Saudi, pada Sabtu (14/9). Mereka menuding Iran mendalangi serangan.

"Kami di sini untuk membangun koalisi yang bertujuan mencapai perdamaian dan resolusi damai. Itulah misi saya, itulah yang tentu saja diinginkan Presiden Trump untuk saya capai dan saya berharap Iran melihat hal yang sama," ungkap Pompeo.

Pompeo tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait koalisi. Namun, AS sebelumnya telah menciptakan aliansi keamanan maritim global sejak serangan terhadap tanker minyak di Teluk. Serangan yang juga menurut AS dilakukan oleh Iran.

Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Inggris dan Bahrain telah mengumumkan partisipasi mereka dalam aliansi tersebut. Irak menolak bergabung. Demikian pula dengan sejumlah besar negara-negara Eropa yang khawatir bahwa aliansi tersebut akan memicu ketegangan regional.

Pompeo mengumumkan bahwa serangan ke Saudi Aramco akan menjadi fokus utama AS dalam Sidang Umum PBB. Dia menyarankan Arab Saudi mengambil langkah serupa.

Iran menyangkal keterlibatannya dalam serangan ke pabrik pengolahan Abqaiq dan ladang minyak Khurais.

Sementara Pompeo menggambarkan koalisi yang dimaksudnya sebagai upaya diplomasi, Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif pada Kamis mengatakan bahwa pihaknya tidak akan berkedip jika memang diharuskan mempertahankan diri terhadap serangan militer AS atau Arab Saudi. Menurut Zarif itu akan mengarah pada perang habis-habisan.

Sponsored

Zarif meledek Pompeo. Dia mengatakan bahwa Pompeo adalah bagian dari apa yang disebut "Tim B", bersama dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, yang mencoba menipu Trump untuk memilih opsi perang.

Riyadh sendiri telah menggelar konferensi pers untuk menunjukkan apa yang mereka klaim sebagai puing-puing pesawat tanpa awal dan rudal Iran yang digunakan dalam serangan pada 14 September, menyebutnya sebagai bukti agresi Iran.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir pada Kamis menuturkan bahwa serangan terhadap Saudi Aramco adalah perpanjangan dari perilaku bermusuhan dan terlarang oleh rezim Iran. Dia meminta masyarakat internasional untuk mengambil sikap tegas terhadap perilaku kriminal Iran.

"Berdiam diri atas rezim Iran hanya akan mendorong mereka melakukan lebih banyak aksi terorisme dan sabotase di kawasan dan di seluruh dunia," twit al-Jubeir.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mendesak seluruh negara di Teluk untuk meredakan ketegangan dengan berdialog. Dia menyebut tuduhan tidak berdasar terhadap Iran meningkatkan ketegangan. Demikian dilaporkan Interfax.

Harga minyak, yang melonjak pascaserangan, berangsung-angsur pulih setelah Arab Saudi menyatakan bahwa produksi minyak akan kembali normal pada akhir September.

Kelompok pemberontak Houthi yang memerangi koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman telah mengaku bertanggungjawab atas serangan terhadap Saudi Aramco. Meski demikian, para pejabat AS dan Arab Saudi menolak klaim tersebut, dengan menyatakan bahwa serangan tidak datang dari selatan.

Visa akhirnya keluar

AS dilaporkan telah mengeluarkan visa yang memungkinkan Presiden Hassan Rouhani dan Menlu Zarif bepergian ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Demikian dikonfirmasi oleh juru bicara misi Iran untuk PBB Alireza Miryousefi. 

Zarif akan bertolak ke New York pada Jumat. Sebelumnya, Zarif dan Presiden Rouhani terancam absen dalam Sidang Umum PBB karena visa yang tidak kunjung keluar.

Bagi Teheran, tuduhan AS bahwa pihaknya mendalangi serangan adalah bagian dari kebijakan tekanan maksimum Washington untuk memaksanya menegosiasikan kembali kesepakatan nuklir 2015 yang telah lama dikritik oleh Trump. AS keluar dari pakta tersebut tahun lalu dan kemudian menerapkan sanksi yang bertujuan mencekik sumber pendapatan utama Iran; ekspor minyak.

Iran yang telah secara bertahap mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan nuklir menolak pembicaraan apapun kecuali sanksi dicabut.

"Amerika Serikat sekarang menggunakan minyak sebagai senjata; minyak bukanlah senjata," twit Menteri Perminyakan Iran Bijan Zangeneh.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya