close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi / Pixabay
icon caption
Ilustrasi / Pixabay
Dunia
Minggu, 22 September 2019 08:11

Pascaserangan ke Aramco, AS kirim pasukan ke Arab Saudi

AS mengatakan bahwa pengerahan pasukan ini merupakan kebijakan yang bersifat defensif.
swipe

Donald Trump pada Jumat (20/9) menyetujui pengiriman pasukan Amerika Serikat untuk meningkatkan pertahanan udara dan rudal Arab Saudi. Langkah ini diambil pascaserangan terhadap dua fasilitas perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco, pada Sabtu (14/9).

Pentagon menekankan bahwa pengerahan akan melibatkan pasukan moderat pada dasarnya kebijakan ini bersifat defensif. Pentagon juga mengungkap rencana untuk mempercepat pengiriman peralatan militer ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Sebelumnya dilaporkan bahwa Pentagon mempertimbangkan untuk mengirim baterai antirudal, drone dan lebih banyak jet tempur. AS juga mempertimbangkan untuk mempertahankan kapal induk di wilayah tersebut tanpa batas waktu.

"Merespons permintaan kerajaan, presiden telah menyetujui pengerahan pasukan AS, yang akan bersifat defensif dan terutama fokus pada pertahanan udara dan rudal," ujar Menteri Pertahanan AS Mark Esper. "Kami juga akan bekerja untuk mempercepat pengiriman militer ke Saudi dan Uni Emirat Arab untuk meningkatkan kemampuan mereka mempertahankan diri."

Trump sebelumnya menuturkan bahwa dia percaya langkah pengekangan militernya sejauh ini menunjukkan kekuatan. Di lain sisi, dia memberlakukan putaran lain sanksi ekonomi terhadap Iran.

"Hal termudah yang bisa saya lakukan adalah 'Oke, silakan. Hancurkan 15 titik di Iran' ... Tapi saya tidak ingin melakukan itu meski saya bisa," tutur Trump.

Namun, penyebaran pasukan AS tersebut dinilai dapat semakin membuat Iran jengkel. Teheran sendiri telah membantah mendalangi serangan ke Saudi Aramco.

Kelompok pemberontak Houthi yang memerangi koalisi Arab Saudi di Yaman telah mengaku bertanggungjawab atas serangan 14 September.

Serangan diluncurkan dari Iran?

Hubungan antara Washington dan Teheran memburuk dengan cepat setelah Trump menjabat, terlebih setelah dia menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 dan kemudian menerapkan kembali sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

Pejabat AS yang berbicara secara anonim telah menyebut bahwa serangan 14 September diluncurkan dari barat daya Iran. Mereka menentang klaim Houthi bahwa serangan berasal dari Yaman.

Salah satu pejabat AS mengungkapkan bahwa serangan mungkin telah mendapat persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei.

AS disebut memiliki kekhawatiran terlibat dalam konflik lain di Timur Tengah. Saat ini Washington memiliki pasukan yang ditempatkan di Suriah dan Irak, dua negara di mana pengaruh Iran disebut kuat dan kelompok yang didukung Iran beroperasi secara terbuka.

Para pejabat AS khawatir proksi Iran mungkin akan berusaha untuk menyerang pasukan AS di sana, sesuatu yang dapat dengan mudah memicu konflik regional yang lebih luas.

Arab Saudi mengungkapkan telah diserang oleh total 25 drone dan rudal, termasuk pesawat tanpa awak Iranian Delta Wing dan rudal jelajah "Ya Ali".

Kepala Staf Gabungan AS Joseph Dunford mengungkapkan masih menyusun kemampuan terbaik untuk pertahanan Arab Saudi, mencatat kesulitan memerangi segerombolan drone.

"Tidak ada sistem tunggal yang dapat bertahan melawan ancaman seperti itu, tetapi sistem kemampuan pertahanan berlapis akan mengurangi risiko kawanan drone atau serangan lain yang mungkin datang dari Iran," kata Dunford.

img
Khairisa Ferida
Reporter
img
Khairisa Ferida
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan