logo alinea.id logo alinea.id

AS uji rudal jelajah, Rusia dan China protes

AS menyatakan bahwa uji coba rudalnya ditujukan untuk mengirim pesan kepada China, Rusia atau Korea Utara.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 22 Agst 2019 10:28 WIB
AS uji rudal jelajah, Rusia dan China protes

Rusia dan China meminta Dewan Keamanan PBB untuk bertemu pada Kamis (22/8) terkait dengan pernyataan pejabat Amerika Serikat soal rencana mereka untuk mengembangkan dan menempatkan rudal jarak menengah.

Moskow dan Beijing ingin 15 anggota DK PBB bersidang di bawah agenda ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Selain itu, keduanya juga meminta agar kepala urusan pelucutan senjata PBB Izumi Nakamitsu untuk memberi pengarahan singkat kepada mereka.

Pada Senin (19/8), Pentagon mengatakan bahwa mereka telah melakukan uji coba rudal jelajah yang dikonfigurasi secara konvensional yang mencapai sasarannya setelah terbang lebih dari 500 km. Ini merupakan tes perdana sejak Negeri Paman Sam hengkang dari Traktat Pembatasan Senjata Nuklir Jarak Menengah (INF).

Menteri Pertahanan AS Mark Esper pada Rabu (21/8) menuturkan bahwa uji coba tersebut ditujukan untuk mengirim pesan kepada China, Rusia atau Korea Utara. Dia mengindikasikan bahwa kekhawatiran utama adalah Tiongkok. 

"Kami ingin memastikan bahwa kami ... memiliki kapabilitas untuk mencegah perilaku buruk China," kata Esper.

Dalam kunjungannya ke Australia beberapa waktu lalu, Esper mendukung penempatan rudal jarak menengah di Asia.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu mengatakan bahwa AS dalam posisi siap untuk mengerahkan rudal jelajah darat baru di Romania dan Polandia, sebuah skenario yang dia anggap sebagai ancaman yang perlu direspons Moskow. 

Adapun AS telah mengungkapkan tidak memiliki rencana untuk meluncurkan rudal jelajah darat di Eropa.

Sponsored

Uji coba yang dilakukan AS beberapa waktu lalu dilarang di bawah INF, mengurangi kemampuan AS dan Rusia untuk meluncurkan serangan nuklir dalam waktu singkat. China sendiri tidak terlibat dalam INF dan memiliki gudang besar berisi rudal jarak menengah berbasis darat.

AS secara resmi menarik diri dari INF pada 2 Agustus setelah menuduh Rusia melanggar pakta tersebut. Kremlin telah membantah tuduhan AS.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang pada Selasa menuturkan bahwa uji coba AS menunjukkan Washington memicu perlombaan dan konfrontasi senjata baru, yang akan memiliki dampak negatif serius pada keamanan regional dan global.

Seorang juru bicara Korea Utara pada Kamis mengatakan, uji coba AS dan rencananya untuk mengerahkan jet F-35 serta peralatan militer ofensif di sekitar Semenanjung Korea adalah langkah yang berbahaya yang akan memicu Perang Dingin baru di wilayah tersebut.

Ketika Menhan AS ditanya apakah Washington layak melanjutkan negosiasi dengan Pyongyang setelah negara itu melakukan uji coba rudal berulang kali, Esper mengatakan bahwa kekhawatiran terbesar AS adalah soal uji coba rudal jarak jauh Korea Utara. Uji coba semacam itu terakhir kali dilakukan pada 2017.

Sumber : Reuters