logo alinea.id logo alinea.id

Bantah klaim Turki, China rilis video penyair Uighur

Turki mengklaim bahwa Abdurehim Heyit telah meninggal di penjara. Untuk membantah itu, China merilis sebuah video.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 11 Feb 2019 14:29 WIB
Bantah klaim Turki, China rilis video penyair Uighur

Media pemerintah China merilis sebuah video yang menunjukkan bahwa penyair Uighur Abdurehim Heyit masih hidup. Mereka bersikeras bahwa pria itu dalam keadaan sehat di tengah klaim bahwa dia telah meninggal di penjara.

Video itu dirilis setelah muncul kecaman dari Turki, yang menggambarkan kamp-kamp interniran China sebagai kamp konsentrasi. Diduga satu juta muslim Uighur ditahan di kamp-kamp yang terletak di provinsi Xinjiang tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy memecah kesunyian negara itu atas isu Uighur. Aksoy mengklaim, pihaknya mengetahui kematian Abdurehim Heyit di penjara. 

Dalam sebuah video yang muncul hari ini, sosok Abdurehim Heyit muncul dan memberikan pernyataan singkat.

"Hari ini 10 Februari 2019. Saya tengah dalam proses penyelidikan karena diduga melanggar hukum nasional. Saya sekarang dalam kondisi sehat dan tidak pernah mengalami penyiksaan," sebut Abudrehim Heyit dalam video pendek tersebut.

Seorang juru bicara dari Kedutaan Besar China di Turki menegaskan, gagasan bahwa Tiongkok melanggar HAM sama sekali tidak konsisten dengan fakta dan sama sekali tidak dapat diterima oleh mereka.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa pusat-pusat kejuruan dirancang untuk memberikan keterampilan berbahasa dan profesional bagi etnis Uighur untuk memerangi kemiskinan dan ekstremisme.

"Ini adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa pemerintah China sangat mementingkan perlindungan hak-hak dasar masyarakat dari seluruh kelompok etnis di Xinjiang," terang juru bicara itu. "Singkatnya, mereka yang menuduh pemerintah China berusaha menghapus identitas etnis, agama, dan budaya Uighur serta kelompok muslim lainnya tidak bisa dipertahankan."

Sponsored

Patrick Poon, seorang peneliti China menuturkan bahwa sungguh aneh melihat video Abdrehim Heyit setelah mendengar berbagai sumber tentang kematiannya.

"Cara video disajikan mirip dengan kasus perekaman video lain, seperti Peter Dahlin dan Gui Minhai," tutur Poon. "Saya benar-benar berharap bahwa video itu nyata. Satu-satunya cara bagi pihak berwenang China untuk membuktikan keselamatannya adalah dengan membiarkannya berbicara dengan teman-temannya, keluarganya, dan jurnalis tanpa interferensi."

Abdurehim Heyit bukan hanya dikenal sebagai penyair, namun juga musisi. Dia mahir memainkan dutar, instrumen musik asal Iran yang terdiri dari dua senar dan Asia Tengan, dikabarkan dihukum delapan tahun penjara karena salah satu lagunya.

Beberapa menilai bahwa video Abdurehim Heyit mencurigakan.

Akademisi Elise Anderson, yang mempelajari musik Uighur, mencatat bahwa kulit Abrehim Heyit pucat dan dia terlihat sakit. Anderson juga mengatakan bahwa video itu menunjukkan, protes internasional dapat memaksa China untuk merespons.

"Kita harus melihatnya sebagai sesuatu yang luar biasa bahwa mereka telah merilis video ini ketika, misalnya, mereka memilih diam tentang keberadaan begitu banyak orang yang hilang," papar Anderson.

Magnus Fiskesjo, profesor antropologi di Cornell University mengatakan, video itu dirilis dalam kepanikan. Fiskesjo menambahkan, video itu bukan jaminan bahwa Heyit masih hidup. Dia mencatat soal nada, suasana, lokasi yang dirahasiakan dan dinding kedap suara seluruhnya merupakan ciri khas dari pengakuan yang dipaksakan, di mana subjek menjadi sasaran ancaman dan bahkan penyiksaan.

"Saya perhatikan bahwa dia tampak tidak nyaman dan gelisah, dan dia terlihat seperti diarahkan," kata Fiskesjo. (ABC News)