logo alinea.id logo alinea.id

China: Negosiasi dengan AS letakkan dasar penyelesaian sengketa dagang

Negosiasi tiga hari antara China dan AS berlangsung di tengah gencatan senjata atas perang dagang.

Khairisa Ferida Kamis, 10 Jan 2019 17:51 WIB
China: Negosiasi dengan AS letakkan dasar penyelesaian sengketa dagang

China menyebutkan bahwa perundingan perdagangan dengan Amerika Serikat di Beijing telah meletakkan dasar bagi penyelesaian sengketa dagang antara dua raksasa ekonomi dunia.

"Negosiasi yang berlangsung dalam pekan ini luas, mendalam, dan terperinci," ungkap Kementerian Perdagangan China.

Menurut Kementerian Perdagangan China, kedua pihak sepakat untuk mempertahankan komunikasi.

Baik China maupun AS tidak menerangkan kapan keduanya akan kembali bertemu untuk negosiasi lebih lanjut. Pembicaraan tingkat menengah di Beijing dimulai pada Senin (7/1) dan berakhir pada Rabu (9/1).

Sejak awal, perundingan tidak diharapkan menghasilkan kesepakatan akhir. Meski demikian, optimisme tentang progres telah memberi dampak positif bagi pasar saham global pekan ini.

Perwakilan Dagang AS lewat pernyataannya menuturkan bahwa pembicaraan di Beijing berfokus pada janji China untuk membeli sejumlah besar produk pertanian, energi, manufaktur, dan lainnya serta layanan dari AS.

Perundingan di Beijing menandai pembicaraan formal perdana sejak pertemuan Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G-20 di Buenos Aires, Argentina, pada Desember 2018. Dalam tatap muka tersebut, Trump dan Xi setuju menerapkan gencatan senjata dengan tidak mengenakan tarif baru.

Gencatan senjata tercapai setelah kedua belah pihak memberlakukan sejumlah putaran tarif pada 2018.

Sponsored

Washington memberlakukan tarif lebih dari US$250 miliar atas produk-produk China, dengan ancaman lebih banyak lagi.

Tiongkok merespons dengan menerapkan tarif senilai US$110 miliar atas barang-barang AS.

Trump mengatakan jika tidak ada kesepakatan yang dicapai sebelum gencatan senjata berakhir pada 2 Maret 2019, dia akan meningkatkan bea atas barang-barang China senilai US$200 miliar atau dengan kata lain dari 10% menjadi 25%.

Sumber : BBC