logo alinea.id logo alinea.id

Donald Trump tepis kekhawatiran soal resesi

Donald Trump meyakini bahwa perang dagang dengan China tidak akan menganggu perekonomian AS.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 19 Agst 2019 19:11 WIB
Donald Trump tepis kekhawatiran soal resesi

Donald Trump dan para pejabat Gedung Putih menepis kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi mungkin goyah, dengan mengatakan pada Minggu (18/8), risiko resesi sangat kecil meski pasar obligasi sempat bergejolak. Mereka menegaskan bahwa perang dagang dengan China tidak akan menganggu perekonomian Amerika Serikat.

"Kami melakukannya dengan sangat baik, konsumen kami kaya, saya memberikan potongan pajak yang luar biasa," kata Trump.

Tapi, Trump kurang optimistis dibanding para pembantunya dalam isu kesepakatan dagang dengan China.

"Saya belum siap untuk membuat kesepakatan," tutur Trump.

Presiden ke-45 AS itu mengisyaratkan bahwa pihaknya ingin lebih dulu melihat penanganan China atas aksi protes yang tengah berlangsung di Hong Kong.

"Saya ingin melihat Hong Kong ditangani dengan cara yang sangat manusiawi," ujar Trump. "Saya pikir itu akan sangat baik bagi kesepakatan dagang."

Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menuturkan bahwa para deputi perdagangan AS-China akan bertemu dalam waktu 10 hari. Jika tatap muka tersebut berjalan baik, AS berencana meminta China datang ke negaranya untuk memajukan perundingan dan mengakhiri perang dagang yang telah muncul sebagai risiko potensial terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Senada dengan Trump, kepada Fox News Sunday, Kudlow mengatakan bahwa perekonomian AS tetap dalam kondisi yang baik.

Sponsored

"Tidak ada resesi di depan mata," kata Kudlow. "Warga tetap bekerja. Upah mereka meningkat. Mereka belanja dan menabung."

Pernyataan Trump dan Kudlow muncul menyusul kekhawatiran terkait resesi AS yang telah membebani pasar keuangan dalam sepekan terakhir. Demokrat pada Minggu berpendapat bahwa kebijakan perdagangan Trump menimbulkan risiko akut jangka pendek terhadap perekonomian AS.

Pasar saham AS merosot pekan lalu dengan ketiga indeks utama AS ditutup turun sekitar 3% pada Rabu, memangkas kerugian mereka pada Jumat menyusul ekspektasi Bank Sentral Eropa mungkin menurunkan suku bunga.

Federal Reserve AS dan 19 bank sentral lainnya telah melonggarkan kebijakan moneter, langkah yang pekan lalu digambarkan Fitch Ratings sebagai perubahan terbesar sejak resesi 2009. 

Ke depannya, pasar mengharapkan lebih banyak penurunan suku bunga. 

Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro pada Minggu menolak gagasan bahwa vilatilitas pasar pekan lalu adalah peringatan. Dia mengatakan bahwa dinamika ekonomi yang baik mendorong investor untuk memindahkan uang ke AS.

"Kami memiliki ekonomi terkuat di dunia dan uang datang kemari untuk pasar saham kami. Mereka juga datang untuk mengejar hasil di pasar obligasi kami," ungkap Navarro kepada program This Week ABC.