logo alinea.id logo alinea.id

Dubes Tantowi puji cara Selandia Baru hadirkan rasa aman

Pasca-teror Christchurch, kehadiran polisi masih ada di rumah-rumah ibadah. Namun mereka tidak terkesan menakuti.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 07 Mei 2019 16:11 WIB
Dubes Tantowi puji cara Selandia Baru hadirkan rasa aman

Usai teror di dua masjid di Christchurch pada 15 Maret, Duta Besar RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya memuji upaya pemerintah Negeri Kiwi untuk memberikan rasa aman bagi warganya.

"Kurang dari satu pekan setelah penembakan, aktivitas masyarakat sudah kembali normal. Masyarakat sudah bekerja dan rasa takut sudah tidak ada," jelas Tantowi kepada wartawan di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (7/5).

Kehadiran polisi, lanjut dia, masih terasa di tempat-tempat ibadah, khususnya di sejumlah masjid. Namun, Tantowi menyampaikan kehadiran mereka bukan untuk menakut-nakuti, tetapi justru memberikan rasa aman bagi warga muslim yang beribadah.

"Apalagi dalam bulan Ramadan ini, masyarakat muslim akan lebih intens ke masjid, maka otoritas keamanan memastikan akan menjaga dan memberikan rasa aman bagi mereka," kata dia. "Tapi cara mereka menjaga tidak berlebihan, kehadiran mereka tidak menggelisahkan."

Dubes Tantowi pun memuji cara Perdana Menteri Jacinda Ardern menangani krisis besar yang baru pertama kali melanda negara itu.

Menurutnya, PM Ardern melakukan hal yang tepat dengan tidak memenuhi tuntutan pelaku teror yang ingin menimbulkan rasa takut dan menuai popularitas dari aksi penembakannya di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood.

"Alih-alih melahirkan perasaan khawatir, PM Ardern memastikan warga Selandia Baru tidak takut dan mengajak mereka untuk menghadapi serangan teror ini bersama-sama," ungkap Dubes Tantowi.

Dia menuturkan bahwa seluruh umat beragama di Selandia Baru bersatu dan membela warga muslim di negara itu. Kerukunan itu, ungkapnya, menjadi momentum yang semakin menguatkan solidaritas masyarakat.

Sponsored

"Selain itu, PM Ardern juga tidak sudi memberikan teroris itu popularitas yang tidak pantas dia dapatkan. PM Ardern menolak untuk menyebut nama pelaku teror itu," kata dia.

Dubes Tantowi menyampaikan, masyarakat dan media lokal meniru langkah PM Ardern dengan tidak menyebut nama teroris dan justru lebih fokus mengenang 51 korban tewas dari penembakan tersebut.

"Mukanya disensor dan identitas pelaku tidak pernah disebut, hanya dicantumkan sebagai pelaku teror dari Australia," ujarnya. "Menurut saya, langkah pemerintah Selandia Baru sangat brilian dalam menangani tindakan terorisme itu."