sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Jelang Pemilu India, Perdana Menteri Modi dihantui sapi liar

Pada Desember 2018 dan Januari 2019, para petani yang jengkel di Uttar Pradesh mengunci sapi-sapi liar di sekolah-sekolah setempat.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 06 Apr 2019 18:30 WIB
Jelang Pemilu India, Perdana Menteri Modi dihantui sapi liar

Kebijakan Perdana Menteri India Narendra Modi terkait perlindugan sapi dinilai menyulitkan masyarakat di pedesaan. Persoalan ini kembali menghantui Modi menjelang Pemilu India pada 11 April 2019. Dalam pesta demokrasi itu, ia mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua.

Awalnya, para petani di India sangat mendukung Bharatiya Janata Party (BJP), partai nasionalis yang mendukung Modi naik ke tampuk kekuasaan pada 2014. Akan tetapi, langkah-langkah pemerintah yang ketat terkait perlindungan sapi—yang dianggap suci bagi umat Hindu—menyebabkan masyarakat pedesaan pusing bukan kepalang.

"Kami telah mencoba segalanya, mulai dari orang-orangan sawah hingga kawat berduri, tetapi sapi-sapi itu selalu menggerogoti tanaman kami," tutur Reghuvir Singh Meena, petani yang memiliki ladang di Distrik Pilani, Rajashtan. "Pemerintah hanya bermain politik, mereka tidak peduli dengan petani miskin."

Sebelum Modi berkuasa, penyembelihan dan konsumsi daging sapi sudah dilarang di Rajasthan serta banyak negara bagian lainnya di India, yang juga menjadi rumah bagi sejumlah warga beragama Islam atau Kristen.

Namun, hukum terkait perlindungan sapi liar kini diterapkan lebih ketat dan sanksinya pun diperberat. Para kritikus menilai, BJP sedang dalam misi untuk memaksakan hegemoni Hindu atau Hindutva di India.

Mereka juga memperingatkan, BJP telah mendorong kelompok Hindu pinggiran untuk main hakim sendiri dan menyerang Muslim minoritas dan Dalit kasta rendah karena mereka mengonsumsi, menyembelih, dan mendagangkan sapi.

Menurut Human Rights Watch, insiden penyerangan semacam itu meningkat. Sebanyak 44 orang tewas akibat serangan terkait perlindungan sapi antara Mei 2015 hingga Desember 2018.

BJP menegaskan, mereka menentang segala jenis kekerasan, tetapi ketakutan akan penyerangan dan hukum yang ketat terkait sapi telah menghambat perdagangan ternak. Lantaran takut untuk dijual atau disembelih, banyak petani yang memilih untuk membuang sapi mereka yang sudah tua dan lemah.

Sponsored

Akibatnya, banyaknya sapi yang berkeliaran di jalan, menimbulkan kecelakaan lalu lintas, dan mengacaukan daerah pedesaan.

Dalam sensus ternak pada 2012, dinyatakan ada sebanyak 5,2 juta sapi liar yang berkeliaran di India. Sekarang jumlahnya diyakini telah melonjak sejak sensus itu dikeluarkan.

Sapi yang berkeliaran, terkadang memakan sampah plastik. Sapi-sapi ini juga mengacaukan lalu lintas yang sibuk, dan menjadi pemandangan umum yang bisa ditemukan di kota-kota dan pedesaan di India sejak Modi menjabat. Pada 2015, diperkirakan lebih dari 550 warga tewas dalam kecelakaan akibat sapi liar.

Mantan Kepala Desa Churu, Sumer Singh Punia, menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang berani menyentuh sapi-sapi itu, karena takut akan diserang para kelompok pelindung sapi yang seringkali main hakim sendiri.

Dia menuturkan, tempat penampungan sapi tidak cukup tersedia, dan penampungan yang ada sudah begitu sesak.

"Kami umat Hindu, kami tidak ingin melukai sapi-sapi itu, tetapi kami tidak mampu memelihara dan memberi makan begitu banyak sapi liar ketika kami sendiri berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup," kata Sumer Singh Punia.

Ketidakpuasan warga terbukti ketika BJP kalah dalam pemilihan negara bagian pertanian, Rajashtan, dan Madhya Pradesh pada Desember 2018. Satu-satunya "menteri sapi" dari pemerintah yang bertugas di Rajasthan juga diusir dari negara bagian itu.

Kondisi itu merupakan perubahan besar sejak 2014, ketika mayoritas dari 262 juta petani negara mendukung BJP. Saat itu, BJP berjanji akan melipatgandakan pendapatan pertanian pada 2022.

Beberapa penduduk desa kini berupaya mengumpulkan uang untuk membangun tempat penampungan sementara bagi sapi liar, demi memastikan keselamatan tanaman mereka selama musim panen.

Pada Desember 2018 dan Januari 2019, para petani yang jengkel di Uttar Pradesh mengunci sapi-sapi liar di sekolah-sekolah setempat untuk melindungi tanaman mereka. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar diadakan di luar ruangan.

Sandeep Kajla, Kepala Gramya Bharat Jan Chetna Yatra, sebuah organisasi sosial yang berbasis di Pilani, mendesak agar partai-partai politik memasukkan isu sapi liar dalam manifesto pemilu mereka.

"Satu peternak masih sanggup memelihara satu sapi. Tapi di sini, ada ratusan sapi liar yang berkeliaran," kata Kajla. (AFP)