close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Asap terlihat menyusul kebakaran di pabrik Aramco di Abqaiq, Arab Saudi, Sabtu (14/9). ANTARA FOTO/REUTERS
icon caption
Asap terlihat menyusul kebakaran di pabrik Aramco di Abqaiq, Arab Saudi, Sabtu (14/9). ANTARA FOTO/REUTERS
Dunia
Rabu, 18 September 2019 11:49

Pejabat AS: Serangan ke Arab Saudi datang dari barat daya Iran

Hubungan AS-Iran memburuk dengan cepat setelah Trump membawa negaranya keluar dari JCPOA.
swipe

Amerika Serikat meyakini bahwa serangan terhadap dua fasilitas utama Saudi Aramco, perusahaan minyak nasional Arab Saudi, pada Sabtu (14/9) berasal dari barat daya Iran. Demikian diungkapkan seorang pejabat AS kepada Reuters.

Tiga pejabat AS yang berbicara secara anonim menuturkan pula kepada Reuters bahwa serangan melibatkan rudal jelajah dan drone, menunjukkan itu melibatkan tingkat kompleksitas dan kecanggihan yang lebih tinggi dibanding yang diperkirakan sebelumnya.

Mereka tidak menunjukkan bukti atau menjelaskan data intelijen apa yang mereka gunakan untuk mengevaluasi serangan tersebut. 

Para pejabat AS mengatakan bahwa sistem pertahanan udara Arab Saudi tidak menghentikan drone dan rudal karena mereka diarahkan ke selatan, untuk mencegah serangan dari Yaman.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi dilaporkan akan mengadakan konferensi pers pada Rabu (18/9) untuk memaparkan bukti keterlibatan Iran dalam serangan ke fasilitas Aramco, termasuk penggunaan senjata Iran.

Salah satu dari tiga pejabat AS mengungkapkan keyakinannya bahwa penyelidikan Arab Saudi akan menghasilkan bukti forensik yang meyakinkan yang akan menunjukkan dari mana asal serangan.

Presiden Donald Trump pada Senin (16/9), dengan kata-kata kurang meyakinkan, juga menunjuk Iran sebagai dalang serangan.

Teheran telah membantah terlibat dalam serangan. Adapun sekutu Iran dalam perang Yaman, kelompok Houthi, telah mengaku bertanggungjawab dengan mengatakan mereka melancarkan serangan menggunakan drone.

Dari Prancis, Menteri Luar Negeri Jean Yves Le Drian mengatakan bahwa dia tidak yakin jika ada bukti terkait tuduhan itu. Sementara, kantor berita Arab Saudi, SPA, melaporkan bahwa Presiden Emmanuel Macron pada Selasa (17/9) menelepon Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk membahas serangan.

Menurut SPA, Presiden Macron bersedia membantu penyelidikan.

Arab Saudi berusaha meyakinkan pasar pascaserangan yang mengurangi separuh produksi minyak dengan mengatakan pada Selasa bahwa produksi akan kembali normal pada akhir bulan. Menteri Energi Arab Saudi Abdulaziz bin Salman menuturkan bahwa pihaknya akan mencapai kapasitas 11 juta barel per hari pada akhir September.

Dalam konferensi persnya, Abdulaziz bin Salman juga mengatakan bahwa pasokan minyak bulan ini untuk pelanggan tidak akan terganggu. Dia memastikan bahwa Arab Saudi akan mempertahankan perannya sebagai pemasok utama pasar minyak global, menambahkan bahwa pihaknya perlu mengambil tindakan tegas untuk mencegah serangan lanjutan.

Harga minyak jatuh 5% setelah muncul kabar bahwa produksi Aramco berangsur normal, memperpanjang kerugian mereka. Sebelumnya harga minyak sempat melonjak lebih dari 20% pada Senin, lompatan terbesar sejak Krisis Teluk.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei menyampingkan pembicaraan dengan AS kecuali pemerintahan Trump kembali ke koridor kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) yang ditinggalkan AS tahun lalu.

"Para pejabat Iran, pada tingkat apapun, tidak akan pernah berbicara dengan pejabat AS ... Ini adalah bagian dari kebijakan mereka untuk menekan Iran," ungkap Khamenei seperti dikutip oleh televisi nasional Iran.

Trump sendiri pada Selasa menekankan bahwa dia tidak mengincar pertemuan dengan Presiden Hassan Rouhani di sela-sela Sidang Umum PBB di New York bulan ini. Peluang pertemuan Trump dan Rouhani sebelumnya diembuskan AS.

Hubungan AS-Iran memburuk dengan cepat setelah Trump membawa negaranya keluar dari JCPOA dan menerapkan kembali sanksi atas Iran, menuntut Negeri Para Mullah kembali ke meja perundingan untuk menegosiasikan ulang kesepakatan nuklir. Trump sejak lama mengkritisi JCPOA yang dicapai pemerintahan Barack Obama merugikan AS.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, kesepakatan nuklir 2015 yang berusaha diselamatkan oleh Uni Eropa, merupakan titik di mana semua pihak harus kembali ke sana.

Trump kalem

Setelah pada Senin mentwit bahwa AS siaga merespons serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco, belakangan Trump menurunkan nadanya dengan mengatakan dia tidak terburu-buru untuk membalas. Presiden ke-45 AS itu juga menuturkan bahwa pihaknya berkoordinasi dengan sekutu di Teluk dan Eropa.

Trump juga mengutus Menteri Luar Negeri Mike Pompeo ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk berkonsultasi.

"Ada banyak waktu ... Tidak perlu terburu-buru," ujar dia.

Pejabat AS menjelaskan bahwa Trump ingin memastikan pelaku serangan diidentifikasi secara positif.

Sikap Trump tersebut sangat kontras dengan yang terjadi pada 2017, tepatnya kurang dari tiga bulan masa kepresidenannya. Saat itu, Trump hanya menunggu dua hari sebelum akhirnya meluncurkan serangan udara untuk merespons dugaan penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad. (Reuters dan BBC)

img
Khairisa Ferida
Reporter
img
Khairisa Ferida
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan