sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Protes terhadap Xi Jinping terjadi di China

Sejumlah masa di distrik Haidan membentangkan spanduk protes terhadap Xi Jinping.

Aditya Putera Pratama
Aditya Putera Pratama Sabtu, 15 Okt 2022 12:04 WIB
Protes terhadap Xi Jinping terjadi di China

Tirani pemerintahan komunis di China tidak menghambat protes terhadap pemerintahan China. Pada Jumat (13/10) hal tersebut dilakukan sekelompok masa di jalanan wilayah distrik Haidan. 

Masa dalam protes tersebut membentangkan spanduk yang besar dan membakar ban bekas di tengah jalanan tersebut.

“Kami ingin makanan, bukan tes PCR. Kami menginginkan kebebasan, bukan penguncian. Kami ingin rasa hormat, bukan kebohongan. Kami menginginkan reformasi, bukan Revolusi Kebudayaan. Kami ingin suara, bukan pemimpin. Kami ingin menjadi warga negara, bukan budak,” tulis salah satu spanduk seperti dikutip dari Guardian, Sabtu (15/10. 

Spanduk yang lain bertuliskan boikot sekolah, lakukan pemogokan dan memecat Xi. 

Protes ini terjadi akibat adanya usulan pengangkatan Xi Jinping menjadi pemimpin 3 periode. Usulan tersebut terjadi saat ribuan delegasi politik turun ke Beijing untuk melakukan pertemuan tertutup. Hal tersebut jika terjadi akan membuat memperkuat kekuatannya Xi sebagai pemimpin otoriter China.

Di sosial media pun foto dan video unjuk rasa tersebut tersebar luas. Pada Jumat (14/10) tagar di Weibo “Saya melihatnya” sempat menjadi trending, di mana orang–orang merujuk insiden tersebut dan sudah dilihat lebih dari 180.000 sebelum akhirnya dihapus. Hal ini membuat beberapa orang di negara tersebut sudah ingin melakukan revolusi terhadap sistem pemerintah yang saat ini berlangsung, termasuk cukup lamanya kekuasaan Xi Jinping memimpin di negara tersebut.

Banyak warga internet yang menyinggung kejadian ini dengan membagikan kalimat dari Mao Zedong yang mengatakan “Sebuah percikan kecil dapat membakar padang rumput”. 

Dampak dari protes ini sendiri, semua spanduk yang berbau protes terhadap pemerintah dan Xi Jinping di cabut dan dibersihkan oleh pihak keamanan. Namun, seperti biasa di suatu negara komunis, kejadian seperti ini akan membuat tingkat senstifitas menjadi tinggi, termasuk petugas memasuki toko, dan menghentikan pejalan kaki untuk diinterogasi. 

Sponsored

Wartawan Associated Press diinterogasi tiga kali dan diminta untuk menunjukkan identitas. Polisi membantah terjadi sesuatu yang tidak biasa di daerah itu. 

Hal tersebut membuat tidak adanya kenyamanan bagi masyarakat di tempat kejadian. Kejadian ini dianggap akan menjadi bentuk revolusi baru di China.

Mengingat saat ini sistem pemerintahan yang komunis membuat kebebasan rakyat sangat terbatas dan cendrung tidak boleh menyampaikan kebebasannya. Revolusi sangat harus disegerakan, mengingat dulu China negara yang sangat tertutup dan akhirnya bisa sedikit membuka diri, namun masa dalam hal ini menginginkan kebebasan yang lebih terbuka lagi. 

China merupakan negara dengan sistem pemerintahan yang komunis, namun negara ini masih memberikan kebebasan terhadap sistem ekonominya untuk keberlangsungan negara ini.

Berita Lainnya
×
tekid