sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Sepak bola Eropa dalam kemelut perang dan ancaman flu Spanyol

Piala Eropa digelar riuh dengan penonton di stadion. Situasi gawat terjadi kala flu Spanyol melanda 100 tahun lalu.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Jumat, 25 Jun 2021 16:17 WIB
Sepak bola Eropa dalam kemelut perang dan ancaman flu Spanyol

Gegap gempita kompetisi sepak bola UEFA EURO 2020 atau Piala Eropa sudah memasuki babak 16 besar. Laga tim-tim hebat di Benua Biru itu pun semarak dengan kehadiran penonton. Sebuah pemandangan yang nyaris tak terlihat selama setahun lebih akibat pandemi Covid-19.

Liga-liga di Eropa sebelumnya sempat berhenti sejenak. Lalu, digelar tanpa penonton. Perlahan, dengan masifnya vaksinasi, pemeriksaan Covid-19, dan pelonggaran peraturan pembatasan sosial, beberapa liga Eropa besar, seperti Liga Inggris atau Premier League dan Liga Italia atau Serie A, mengizinkan penonton hadir di stadion.

Serie A misalnya, pada awal Mei 2021 mulai mengizinkan kehadiran penonton di stadion maksimal 1.000 orang. Premier League pada pertengahan Mei 2021, mengizinkan sebanyak 10.000 penonton tuan rumah untuk menonton pertandingan secara langsung.

Ada 11 kota di 11 negara yang menjadi tuan rumah babak penyisihan grup EURO 2020. Setiap negara, punya aturan berbeda terkait kehadiran penonton di dalam stadion. Dari situs web UEFA disebut, Saint Petersburg di Rusia dan Baku di Azerbaijan mengizinkan 50% penonton.

Bucharest di Rumania, Roma di Italia, Glasgow di Skotlandia, Amsterdam di Belanda, dan London di Inggris, mengizinkan kapasitas 25% penonton. Sementara Stadion Puskas Arena yang ada di Kota Budapest, Hongaria, mengizinkan kehadiran 100% penonton. Namun, para penonton ini harus menunjukkan hasil tes negatif Covid-19 atau sertifikasi vaksinasi.

Maka tak heran, pertandingan grup F antara Hongaria melawan Portugal di Stadion Puskás Ferenc pada Selasa (15/6), yang selesai dengan skor 0-3 itu dihadiri puluhan ribu penonton, tanpa jarak fisik dan banyak yang tak mengenakan masker. Covid-19 tampaknya seperti sudah dilupakan di gelanggang EURO 2020.

Virus mengintai dalam stadion

Para tahanan perang Serbia yang dirawat di sebuah rumah sakit di Rotterdam, Belanda pada 5 Februari 1919, karena flu Spanyol./Europeana Collections/Repro buku Peran Melawan Influenza (2020) karya Ravando.

Sponsored

Sekitar 100 tahun silam, pemandangan sepak bola di Eropa lebih suram. Perang Dunia I, antara 1914-1918, yang melibatkan negara-negara besar, seperti Inggris, Prancis, Rusia, Jerman, Italia, Austria-Hongaria, memaksa sebagian besar pertandingan sepak bola di Eropa terhenti.

Di samping itu, ada ancaman berbeda selain peluru dari para serdadu. Pada 1918, banyak penduduk dunia terbunuh virus H1N1 dari influenza tipe A alias flu Spanyol.

Menurut History dalam artikel “Spanish Flu” yang terbit pada 19 Mei 2020, flu Spanyol menginfeksi sekitar 500 juta orang di seluruh dunia dan membunuh hingga 50 juta manusia, dari 1918 hingga 1920.

Pandemi paling mematikan sepanjang sejarah tersebut, menyerang sistem pernapasan. Virus ini sangat menular, melalui cairan tubuh ketika batuk, bersin, atau berbicara, yang melayang di udara kemudian dihirup orang lain. Penularan juga bisa terjadi jika seseorang menyentuh benda apa pun yang mengandung virus, lalu menyentuh bagian mata, mulut, dan hidung.

Meski sebagian besar kompetisi di Eropa terhenti, tetapi ada pula laga yang masih berlangsung. Belanda, negara yang netral dalam Perang Dunia I, tetap mengadakan kompetisi sepak bola tingkat nasional.

Menurut artikel “Football Lockdowns: The Spanish Flu of 1918” yang terbit di Football Makes History edisi 11 April 2020, alarm bahaya flu Spanyol muncul pada musim panas 1918 lewat kabar dari Sportblad, sebuah media asosiasi sepak bola di Amsterdam.

“Penyakit ini bisa menjadi kendala serius untuk pertandingan yang akan datang,” tulis Sportblad.

Peringatan dari Sportblad menjadi kenyataan. Pada akhir Agustus 1918, tim Feyenoord yang berbasis di Rotterdam, gagal bermain di Amsterdam. Penyebabnya, ada tujuh pemain tim lawan yang menderita sakit, terserang flu. Pada November 1918, separuh dari laga yang sudah direncanakan di bagian barat Belanda terpaksa dibatalkan.

“Di Winschoten, pesepakbola terkenal G. Schoonhoven dan di Deventer, Gerrit van Tongeren meninggal akibat penyakit itu,” tulis Football Makes History.

Akan tetapi, Koninklijke Nederlandse Voetbalbond (KNVB) atau Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda memutuskan untuk tidak menunda kompetisi.

Di Irlandia, sekolah ditutup sementara. Ada pula pelarangan pertemuan massal, termasuk kegiatan olahraga. Namun, tidak di semua acara olahraga dilarang. Final Piala Irlandia tetap digelar persis sebelum dan selama gelombang flu Spanyol pertama dan ketiga pada 1918 dan 1919.

“Yang menambah masalah, final membutuhkan dua pertandingan ulang, yang berarti sekitar 89.000 penggemar sepak bola berada dalam jarak dekat,” tulis Conor Murray dalam artikel “How Sport Returned in Ireland after the 1918 Flu Pancemic”, terbit di RTE, 17 Juni 2020.

Yang lebih ironis, pertandingan final pertama itu gratis untuk para tentara yang baru pulang dari perang. Beberapa di antara mereka, sebut media Belfast Newsletter yang dikutip Murray, telah terinfeksi virus.

Ambisi juara berujung maut

  Salah satu pertandingan sepak bola di Stadion Stamford Bridge, London, Inggris pada 1919/Foto ChelseaFC.com.

Di Inggris, menurut Callum Rice-Coates dalam “How the Great Spanish Flu Pancemic Sheds Light on Sport’s Careful Response to Coronavirus” yang terbit di Independent pada 24 April 2020, akibat perang liga sepak bola dan Piala FA di Inggris dibatalkan pada 1914, tanpa batas waktu yang pasti.

Meski demikian, pada 1918 liga regional tetap berjalan. Stadion bahkan tetap dipadati penggemar sepak bola, yang sebagian besar tak terganggu dengan munculnya flu Spanyol yang mematikan.

“Flu Spanyol adalah sebuah keheningan. Orang-orang tidak mau membicarakannya. Bagi seorang pria, itu adalah cara mati yang tidak heroik,” kata Catharine Arnold, penulis buku Pandemic 1918 (2018), seperti dikutip Callum Rice-Coates.

Seorang blogger Kantor Luar Negeri Inggris, Tara Finn, dalam artikel Pat Nevin berjudul “Chelsea in the Time of Spanish Flu” di situs web Chelsea FC mengatakan, pada 1918 angka kematian di Inggris melebihi angka kelahiran sepanjang sejarah sejak pemerintah mulai membuat catatan pada 1837. Penyebabnya, bukan karena perang. Melainkan flu Spanyol.

Namun, kompetisi regional di Inggris tetap berlangsung. Chelsea masih bersaing memenangkan trofi di tengah ancaman flu Spanyol pada 1919.

“Saat itu, sedikit dipahami atau disampaikan kepada publik tentang bagaimana flu ditularkan, tak ada vaksin, tak ada layanan kesehatan nasional untuk menangani wabah, dan sangat sedikit tindakan pemerintah untuk mengubah perilaku warga,” tulis Nevin.

Di tengah keadaan yang kritis, The Football Association (FA) atau Asosiasi Sepak Bola Inggris pada awal 1919 tetap memberikan izin liga sepak bola berjalan pada Agustus 1919 dan pertandingan internasional bakal digelar.

Sebanyak lebih dari 20.000 penonton menyaksikan pertandingan London Combination League di Stadion Stamford Bridge dari September 1918 hingga April 1919. Chelsea pun sukses menang Victory Cup wilayah London pada 1919.

Dalam laga final melawan Fulham pada 28 April 1919 di Highbury, Chelsea berhasil menang 3-0. Pertandingan itu disaksikan 36.000 penonton. Menurut Nevin, laga tetap berlangsung meski pemain mereka, Henry Thomas Ford dan Tom Logan terinfeksi flu Spanyol. Keduanya berhasil selamat. Namun, tidak bagi pemain lain.

Nevin menulis, pada Desember 1919 mantan pemain sayap kanan Chelsea yang bergabung ke Newcastle asal Skotlandia, Angus Douglas yang berusia 29 tahun meninggal dunia akibat flu Spanyol. Korban lainnya adalah mantan pemain sayap Gainsborough Trinity, John Bouch Pattinson dan bek tengah Millwall, Young. Pada akhirnya, flu Spanyol merenggut setidaknya 230.000 nyawa di Inggris.

Seorang blogger, Maryam Zahra, menulis gamblang terkait sepak bola dan flu Spanyol dalam artikelnya “The Spanish Flu and Football” di Medium, 1 Januari 2021. Menurut dia, pertandingan antara dua raksasa Spanyol, FC Barcelona dan Madrid FC—sekarang Real Madrid—dimainkan pada 17 dan 19 Mei 1918.

Namun, sebelum pertandingan kedua, pendiri FC Barcelona, Joan Gamper melaporkan bahwa delapan pemain mereka, yakni Gabriel Bau, Paulino Alcántara, Agustí Sancho, Vincenc Martinez, Josep Juliá, Francesc Viñals, Josep Costa, serta Carlos María Rovira tertular flu Spanyol.

“Beberapa media mengklaim Madrid beruntung terhindar dari kekalahan lagi, yang lain mengejek Barcelona karena tidak mampu menangani flu ‘biasa’,” tulis Maryam.

Infografik Alinea.id/Bagus Priyo.

Nyatanya, flu tersebut bukan flu biasa. Kasus dan kematian mengingkat cepat. Mary menulis, ketika Iberia SC—sekarang Real Zaragoza—menang telak melawan CD Fuenclara 7-0 pada November 1918, ada 4.000 orang di daerah itu yang meninggal dunia. Sebanyak 10.000 orang meninggal di wilayah yang lebih besar.

“Pada 17 Oktober 1918, 46 orang meninggal karena flu dan komplikasi di Barcelona,” tulis Maryam.

Ketika itu, Gamper muncul di hadapan pengurus Catalan Championships dan membujuk mereka bahwa kompetisi di Spanyol tetap berjalan sesuai rencana. Gamper memaksakan kempetisi tetap berjalan, demi ambisi memenangkan piala regional ke-9 FC Barcelona.

Nyatanya, kini Covid-19 masih mengintai EURO 2020. Pemain timnas Skotlandia, Billy Gilmour dinyatakan terinfeksi Covid-19 pada 21 Juni 2021. Sebelumnya, bek Slowakia Denis Vavro pun dinyatakan positif Covid-19 pada 17 Juni 2021.

Sebelum laga pembuka dimulai pada 12 Juni 2021, enam pemain lain, seperti Dejan Kulusevski dan Mattias Svanberg dari Swedia, Sergio Busquets dari Spanyol, Jasper Cillessen dari Belanda, Andrei Mostovoy dari Rusia, Joao Cancelo dari Portugal, gagal bertanding karena dinyatakan positif Covid-19.

Berita Lainnya