sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Solusi dua negara dinilai paling realistis selesaikan konflik Israel-Palestina

Di bawah prinsip tersebut, kedua pihak didorong hidup berdampingan dengan Yerusalem sebagai ibu kota bersama.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 05 Jun 2021 10:39 WIB
Solusi dua negara dinilai paling realistis selesaikan konflik Israel-Palestina

Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta menilai bahwa konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan paling realistis jika diselesaikan dengan prinsip "two-state solution (solusi dua negara)".

Di bawah prinsip tersebut, kedua pihak didorong untuk hidup berdampingan sebagai negara yang berdaulat, dengan Yerusalem sebagai ibu kota bersama.

Anis menyampaikan pernyataan tersebut dalam webinar "Indonesia di Tengah Pusaran Konflik Israel-Palestina" pada Jumat (4/6). 

Lebih lanjut, dikutip dari rilis yang diterima Alinea.id, Anis mendorong pemerintah Indonesia mendorong momentum prinsip "solusi dua negara" dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina. Menurutnya, setidaknya Indonesia bisa berperan menyatukan Hamas dengan Fatah, sehingga menjadi satu front untuk melawan Israel.

Selain itu, dia menilai pembubaran Israel bisa menjadi solusi atau jalan keluar untuk mengakhiri konflik di tanah Palestina selama ini.

Anis menjelaskan, pembubaran suatu negara merupakan hal biasa dan pernah terjadi menimpa Uni Soviet dan Yugoslavia. Setelah bubarnya Uni Soviet misalnya, kemudian muncul Rusia justru menjadi kekuatan global yang baru.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia Komaruddin Hidayat menilai, Indonesia sesuai amanah konstitusi tentu harus menentang segala penjajahan di muka bumi. 

Komaruddin menyebut, elite-elite politik Indonesia tidak akan populer kalau membela Israel. Intinya, Indonesia perlu terus terlibat dalam upaya penyelesaian konflik. 

Sponsored

"Ada satu gagasan bagaimana menjadi penengah, kalau kita tidak bisa merangkul keduanya. Jembatan itu kan harus kakinya terhubung. Terhubung dua kaki, yang satu adalah Palestina, yang satu Israel. Seperti kata Gus Dur, kita tidak mungkin jadi penengah kalau Indonesia tidak bisa bersahabat dengan Israel," tuturnya.

Terkait Palestina, dia menyatakan adanya perbedaan antara pembahasan mengenai agama dan bisnis.

Menurut Komaruddin, umat Islam di Indonesia anti-Israel dan sangat pro-Hamas. Sementara Hamas didukung oleh Iran yang mayoritas muslimnya merupakan Syiah.

"Umat Islam Indonesia itu anti-Syiah, padahal Syiah di Iran paling konsisten membela Hamas dan anti-Israel. Kita sangat dekat dengan Arab Saudi, sementara Arab Saudi itu bersahabat baik dengan Amerika Serikat dan juga Israel. Jad logika agama, ekonomi, dan politik ini berbeda-beda," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, pengamat politik internasional, Imron Cotan, menanggapi konflik Palestina-Israel dengan pendekatan multilateral.

Menurutnya, untuk menyelesaikan konflik dengan prinsip "solusi dua negara", dengan mengembalikan perbatasan Israel-Palestina sesuai dengan kondisi pada 1967 dan menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota dari Palestina dan Israel, adalah solusi yg berkeadilan. 

"Kita tidak bisa memaksakan kehendak karena di belakang Israel ada AS yang diharapkan jadi penengah konflik. Namun, nyatanya tidak bisa, karena mereka sudah diikat dengan komitmen dukungan penuh terhadap Israel. Untuk menyelesaikan masalah memang diperlukan penengah yang jujur, sampai saat ini belum ada. Mudah-mudahan Rusia sebagai penyeimbang bisa berperan," kata dia.

Selain itu, Imron juga setuju kalau Indonesia bisa jadi penengah antara Hamas dan Fatah, sehingga bersatu melawan penjajahan Israel.

Berita Lainnya