sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tantangan dari China mampu jadi perekat NATO?

NATO saat ini terdiri dari 29 negara anggota dan sejumlah negara mitra termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Australia.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 04 Des 2019 14:48 WIB
Tantangan dari China mampu jadi perekat NATO?

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg menyatakan, aliansi yang dipimpinnya perlu mempertimbangkan bahwa China semakin dekat dengan mereka. Hal tersebut disampaikan Stoltenberg selama KTT NATO di London, Inggris, pada 3-4 Desember.

"Kita melihat mereka (China) di Kutub Utara, kita melihat mereka di Afrika, kita melihat mereka berinvestasi besar-besaran di infrastruktur Eropa dan tentu saja di dunia maya," kata Stoltenberg.

NATO dibentuk pada 4 April 1949, dengan Uni Soviet sebagai ancaman utama. Namun, Soviet telah lama berlalu dan ancaman apa pun yang datang dari Rusia dinilai tidak sebanding.

Secara tradisional, NATO dipimpin oleh apa yang menjadi prioritas Amerika Serikat, sebuah cerminan dari besarnya peran militer AS dalam operasi apa pun. AS merupakan satu-satunya negara anggota aliansi yang mengajukan Pasal V, di mana para anggota setuju bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu atau lebih dari mereka di Eropa mau pun di Amerika Utara akan dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota.

Pengajuan oleh AS itu kemudian tercermin pascaserangan 11 September 2001, di mana NATO mengambil peran utama dalam perang melawan teror.

NATO saat ini terdiri dari 29 negara anggota dan sejumlah negara mitra termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Australia, yang disebut telah berupaya menyeimbangkan kekuatan China yang tumbuh di kawasan. Tetapi, sebelumnya Beijing bukan figur yang dipertimbangkan dalam rencana-rencana NATO, bahkan ketika aliansi itu berkembang menjadi organisasi yang murni defensif sejak akhir Perang Dingin.

Sementara itu, Stoltenberg telah berusaha menekankan bahwa reorientasi terhadap China bukan tentang menantang Beijing di Pasifik, melainkan soal menolak pengaruh dan agresi China di Eropa.

Pada November Stoltenberg menuturkan, "Kita perlu lebih memahami kebangkitan China. Dan apa artinya bagi keamanan kita. Baik itu peluang mau pun tantangan."

Sponsored

"China akan segera menjadi ekonomi terbesar di dunia. Dan mereka sudah memiliki anggaran pertahanan terbesar kedua, banyak berinvestasi dalam kemampuan baru. Hanya dalam lima tahun terakhir, China telah menambahkan 80 kapal dan kapal selam dalam angkatan lautnya, setara dengan AL Inggris. Mereka memiliki ratusan rudal dengan jangkauan yang dilarang oleh INF. Dan baru-baru ini, mereka memperlihatkan rudal nuklir antarbenua yang canggih yang dapat mencapai AS dan Eropa. Demikian pula dengan rudal jelajah supersonik baru, bermacam-macam jenis drone baru, rudal antikapal dan peluncur hipersonik," jelas Stoltenberg.

Stoltenberg menambahkan bahwa tantangan yang ada melampaui militer. "Tiongkok menjadi pemimpin dalam pengembangan teknologi baru. Dari 5G hingga pengenalan wajah. Dan dari komputasi kuantum hingga pengumpulan data global dalam jumlah besar."

Militer China dilaporkan bergerak semakin kuat di bawah kepemimpinan Xi Jinping. Dan Beijing menebar pengaruh ekonominya di seluruh Pasifik dan Asia Tengah melalui megaproyek Belt and Road Initiative (BRI).

Tahun ini Washington telah mendesak sekutu-sekutunya untuk memblokir raksasa teknologi China, Huawei, dari jaringan 5G mereka dengan alasan keamanan. Huawei secara konsisten membantah kekhawatiran tersebut.

Pada awal tahun ini, Menteri Luar Negeri Jerman mengatakan, "China adalah tantangan dalam hampir seluruh topik, dan penting untuk mendapat pemahaman yang lebih baik tentang apa artinya itu bagi NATO."

Dalam kasus berbeda, Inggris dan Kanada yang juga anggota kunci NATO, terlibat dalam situasi sulit dengan China.

Inggris bentrok dengan China atas protes prodemokrasi Hong Kong dan penahanan seorang karyawan konsulernya. Sementara, dua warga Kanada masih ditahan di Tiongkok pascapenangkapan petinggi Huawei Meng Wanzhou oleh Kanada.

Pada Senin (2/12), Rusia meluncurkan jaringan pipa gas bernilai miliaran dolar ke China, menggarisbawahi ikatan ekonomi dan politik di antara saingan tradisional dan rival di Abad ke-21 NATO. 

Di lain sisi, para pemimpin Uni Eropa dibuat bingung dengan kebijakan apa yang akan diambil terhadap China mengingat beberapa negara anggotanya, terutama Italia yang juga anggota NATO, dengan senang hati menerima sumbangan Beijing.

Para pemimpin NATO diharapkan menandatangani pernyataan bersama untuk mengakui peluang dan tantangan yang disajikan oleh China.

KTT NATO

Pertemuan puncak NATO di London telah dibayangi ketegangan antara sekutu. Yang paling menonjol adalah cekcok antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Keduanya bertemu untuk berbincang soal peran NATO, Turki, dan ISIS.

Di luar perbedaan pandangan soal isu pertahanan dan keamanan, Trump dan Macron memang tengah berselisih soal pajak dan perdagangan serta pernyataan Macron bulan lalu yang menyebutkan bahwa komitmen AS untuk NATO telah memudar.

Pada Selasa, Trump lebih dulu menyerang Macron dengan mengatakan bahwa Presiden Prancis itu sangat tidak sopan dengan menggambarkan NATO "mengalami mati otak". Trump menyebut itu komentar yang jahat.

Soal anggaran pertahanan, yang sudah lama menjadi perhatian Trump, juga menjadi pemicu ketegangan. Seluruh anggota NATO memiliki target mengalokasikan 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) mereka untuk pertahanan kolektif.

"Kami membuat kemajuan nyata, yang paling penting soal pembagian beban. Dan kepemimpinan Anda dalam isu belanja pertahanan memiliki dampak nyata," ujar Stoltenberg dalam konferesi pers bersama Trump.

Stoltenberg menuturkan bahwa Kanada dan sekutu di Eropa telah menambahkan US$300 miliar untuk anggaran pertahanan sejak 2016 dan angkanya akan meningkat jadi US$400 miliar pada 2024. Hanya delapan negara, selain AS, yang disebut memenuhi target yang disepakati untuk mengalokasikan 2% dari PDB mereka untuk pertahanan kolektif. (CNN dan BBC)