sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Terus diganggu, Taiwan enggan ladeni perlawanan China

"Yang jelas Republik China sama sekali tidak akan memulai atau memicu perang, tetapi jika ada gerakan, kami akan menghadapi," kata Chiu.

Elmo Julianto
Elmo Julianto Kamis, 14 Okt 2021 15:57 WIB
Terus diganggu, Taiwan enggan ladeni perlawanan China

Taiwan tidak akan memulai perang dengan China. Namun, kata, Menteri Pertahanan Chiu Kuo-cheng, akan mempertahankan kemerdekaan negaranya. 

Taiwan berulang kali telah menegaskan, membela diri jika diserang, tetapi tidak akan gegabah untuk melancarkan perlawanan dan ingin mempertahankan status quo dengan China.

"Yang paling jelas adalah bahwa Republik China sama sekali tidak akan memulai atau memicu perang, tetapi jika ada gerakan, kami akan menghadapinya," kata Chiu dalam rapat komite parlemen, menggunakan nama resmi Taiwan, Kamis (14/10).

Ketegangan Taiwan dengan China, adalah yang terburuk dalam lebih dari 40 tahun, kata Chiu, bahwa China akan mampu melakukan invasi "skala penuh" pada tahun 2025.

Dia berbicara setelah China melancarkan empat hari berturut-turut serangan angkatan udara massal ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan yang dimulai pada 1 Oktober, bagian dari pola yang dilihat Taipei sebagai peningkatan pelecehan militer oleh Beijing.

Tidak ada tembakan yang dilepaskan dan pesawat China berada jauh dari wilayah udara Taiwan, serta memusatkan aktivitas mereka di sudut barat daya zona pertahanan udara Taiwan.

Dalam sebuah laporan kepada parlemen, menteri pertahanan Taiwan memperingatkan, China tentang tindakan balasan yang kuat jika pasukannya terlalu dekat dengan pulau itu.

Chiu setuju dengan penilaian dari seorang anggota parlemen bahwa kemampuan China dibatasi oleh kapasitas pengisian bahan bakar di udara yang terbatas, yang berarti hanya memiliki pembom H-6 dan pesawat anti-kapal selam dan pengintai Y-8 yang telah terbang ke Selat Bashi yang memisahkan Taiwan dari Filipina.

Sponsored

Tiongkok terus lebih dekat ke pantai China, menurut peta aktivitas mereka yang dibuat oleh kementerian Chiu.

"Tujuan mereka di satu sisi untuk menekan Taiwan, dan di sisi lain untuk mengatakan kepada semua orang bahwa kami memiliki kemampuan untuk menakut-nakuti dan menghalangi pasukan militer asing untuk terlibat," katanya.

Pada hari Rabu (13/10), China menyebut, kegiatan militernya sebagai langkah "adil" untuk melindungi perdamaian dan stabilitas, dan sekali lagi menyalahkan "kolusi" Taiwan.

Kedutaan Besar China di Washington pada hari Rabu (14/10), mengatakan telah melapor kepada pemerintah AS tentang pertemuan antara duta besar de facto Taiwan untuk negara itu dan diplomat senior AS, dan tentang kunjungan komandan tentara Taiwan, Hsu Yen-pu, ke Amerika Serikat.

"AS seharusnya tidak berfantasi (tentang) mencari dukungan dan kerja sama China sementara dengan sembarangan menantang garis merah China pada pertanyaan Taiwan," katanya. (Sumber: reuters.com) 

Berita Lainnya
×
tekid