sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Total 780 warga sipil tewas sejak kudeta militer di Myanmar

Mendekati hari ke-100 kudeta, gerakan protes terus berlanjut.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 10 Mei 2021 13:27 WIB
Total 780 warga sipil tewas sejak kudeta militer di Myanmar

Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Thailand, pada Minggu (9/5) melaporkan bahwa militer Myanmar telah membunuh 780 demonstran sejak kudeta pada 1 Februari.

Mendekati hari ke-100 kudeta, gerakan protes terus berlanjut, dibantu aksi pemogokan oleh mahasiswa dan pegawai negeri di seluruh Myanmar.

Sementara itu, seorang penyair asal Myanmar yang karyanya mempromosikan perlawanan terhadap junta militer telah meniggal.

Kabar tersebut disampaikan oleh keluarga sang penyair, Khet Thi, pada Minggu.

Khet Thi dan istrinya, Chaw Su, diinterogasi pada Sabtu (8/5) di Shwebo di wilayah Sagaing. Chaw Su dibebaskan tetapi Khet Thi tetap ditahan

"Mereka menelepon saya pada pagi hari dan mengatakan kepada saya untuk menemuinya di rumah sakit di Monywa," kata Chaw Su. "Saya pikir di hanya mengalami patah lengan atau semacamnya. Tetapi ketika saya tiba di sana, dia berada di kamar mayat dan organ dalamnya diambil,"

Anggota keluarga mengatakan kepada wartawan bahwa tubuhnya kehilangan beberapa organ dan menunjukkan tanda-tanda penyiksaan ketika mereka pergi untuk mengidentifikasinya di kamar mayat.

Khet Thi merupakan penyair yang mempopulerkan kalimat yang akhirnya menjadi salah satu slogan gerakan antikudeta yakni, "They shoot in the head, but they don't know the revolution is in the heart".

Sponsored

Junta militer, yang merebut kekuasaan dalam kudeta pada Februari, belum secara terbuka mengomentari penahanan atau kematian penyair tersebut.

Khet Thi setidaknya adalah penyair ketiga yang tewas sejak kudeta. Penyair itu berteman dengan K Za Win, seorang penyair lainnya yang ditembak saat protes antikudeta pada Maret.

Tatmadaw, nama lain militer Myanmar, telah membenarkan kudeta tersebut dengan mengklaim bahwa pemilu pada 2020, yang dimenangkan secara telak oleh Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), dipenuhi dengan penipuan.

Militer berjanji untuk mengadakan pemilu baru beberapa saat setelah keadaan darurat yang berlangsung selama satu tahun.

Banyak pemimpin NLD, termasuk pemimpin sipil, Aung Sang Suu Kyi, tetap ditahan sejak ditangkap pada 1 Februari. Sementara itu, pejabat sipil lainnya bersembunyi. 

Tokoh budaya, seperti Khet Thi, telah menjadi pendukung vokal protes antikudeta.

Sumber : Voice of America

Berita Lainnya