logo alinea.id logo alinea.id

Trump kekeh soal dinding perbatasan, tawarkan opsi baja sebagai kompromi

Demokrat menolak meloloskan dana US$5,6 miliar yang diinginkan Trump untuk membangun dinding perbatasan. Itu memicu penutupan pemerintahan.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 07 Jan 2019 17:30 WIB
Trump kekeh soal dinding perbatasan, tawarkan opsi baja sebagai kompromi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak menyerah atas tuntutannya untuk membangun dinding perbatasan dengan Meksiko, isu yang telah memicu penutupan pemerintahan atau government shutdown.

Sebagai potensi kompromi dengan Demokrat yang menolak mendanai pembangunan dinding perbatasan tersebut, Trump pada Minggu (7/1) mengatakan bahwa penghalang itu bisa dibikin dari baja bukan beton.

Pernyataan Trump tersebut keluar pada awal pekan ketiga government shutdown yang telah menyebabkan ratusan ribu pekerja federal menganggur atau tanpa gaji.

Trump mengancam akan menyatakan darurat nasional sebagai cara alternatif untuk membangun dinding perbatasan. Ini tergantung pada hasil pembicaraan dalam beberapa hari mendatang.

Demokrat telah menolak meloloskan dana US$5,6 miliar yang diinginkan Trump untuk membangun dinding perbatasan, janji kampanyenya untuk mengatasi imigrasi ilegal.

"Ini merupakan pertempuran yang sangat penting untuk dimenangkan dari sudut pandang keselamatan, mendefinisikan negara kita dan siapa kita," tutur Trump di Gedung Putih sebelum berangkat menuju Camp David.

Orang nomor satu di AS itu menambahkan, "Pembatas atau dinding bisa dibangun dari baja bukan beton ... Mungkin itu lebih baik."

Dalam suratnya kepada para pemimpin Kongres yang merinci tuntutan pendanaannya, pemerintahan Trump memasukkan permintaan tambahan sebesar US$800 juta untuk menangani kebutuhan kemanusiaan mendesak di perbatasan selatan

Sponsored

Mick Mulvaney, pelaksana tugas kepala staf presiden mengatakan bahwa menyetujui gagasan pembatas dari baja akan memungkinkan Demokrat tetap pada pendirian mereka untuk menolak mendanai pembangunan dinding.

"Itu seharusnya membantu kita bergerak menuju arah yang benar," ungkap Mulvaney.

Ada pun pemimpin mayoritas DPR Steny Hoyer menolak berkomentar ketika disinggung terkait gagasan Trump untuk mengganti material dinding dengan baja. 

"Ini masih akan dibahas," ujarnya.

Wakil Presiden Mike Pence memimpin putaran kedua pembicaraan dengan staf Kongres pada Minggu terkait isu pembangunan dinding perbatasan. Namun, Trump terlanjur pesimistis dengan perundingan tersebut.

"Jika kita tidak menemukan sebuah solusi, (perdebatan) ini akan berlangsung lama. Tidak akan ada belokan di sini," tegas Trump.

Trump kemudian mentwit bahwa pembicaraan dengan Pence berlangsung produktif. Namun, seorang staf Demokrat yang mengetahui pertemuan itu menyebut bahwa Demokrat mendesak Gedung Putih untuk mengambil langkah demi membuka kembali pemerintahan tanpa dana pembangunan dinding perbatasan dan Pence menegaskan bahwa Trump tidak akan melakukannya.

Sumber yang sama juga mengatakan bahwa tidak ada kemajuan yang dicapai dan belum ada lagi pertemuan yang dijadwalkan.

Sebagian instansi pemerintahan AS tutup sejak 22 Desember setelah anggota parlemen dan Trump dihadapkan pada jalan buntu atas dana pembangunan dinding perbatasan.

Tidak semua Republikan setuju dengan desakan Trump yang meminta agar government shutdown dilanjutkan hingga perdebatan mengenai pendanaan dinding perbatasan diselesaikan.

"Bukanlah sebuah tanda kelemahan untuk mencoba mencari jalan tengah, dan saya rasa kedua belah pihak perlu menunjukkan kesediaan untuk mendengarkan dan berkompromi," papar Senator Susan Collins asal Maine. 

Demokrat di DPR berencana untuk meloloskan serangkaian RUU pekan ini demi membuka kembali pemerintahan, membongkar RUU yang telah disetujui untuk membuat Republikan menyepakati pembukaan sejumlah instansi pemerintahan.

"Kita harus membuka kembali pemerintahan dan bernegosiasi. Bukan sebaliknya," tutur Hoyer.

Sumber : Reuters

Intimidasi terhadap PPP dalam Pemilu 1977

Intimidasi terhadap PPP dalam Pemilu 1977

Senin, 25 Mar 2019 21:10 WIB
Kabar hoax yang meresahkan jelang Pemilu 1955

Kabar hoax yang meresahkan jelang Pemilu 1955

Senin, 25 Mar 2019 14:26 WIB
Friend Zone: Humor dan cinta sepasang sahabat

Friend Zone: Humor dan cinta sepasang sahabat

Sabtu, 23 Mar 2019 12:00 WIB