logo alinea.id logo alinea.id

2 pelajar asal Bangka beraksi di film Sutradara Amerika

Sutradara asal Amerika Serikat tertarik pada penelitian sains dua remaja pelajar asal Bangka Belitung untuk tampil di dalam film.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 03 Apr 2019 01:31 WIB
2 pelajar asal Bangka beraksi di film Sutradara Amerika

Sutradara asal Amerika Serikat tertarik pada penelitian sains dua remaja pelajar asal Bangka Belitung untuk tampil di dalam film Inventing Tomorrow.

Inventing Tomorrow adalah film dokumenter yang disutradarai oleh Laura Nix. Film ini menampilkan kisah tujuh ilmuwan remaja yang berasal dari Amerika Serikat, India, Meksiko, dan Indonesia. 

Mereka melakukan proyek penelitian untuk dipresentasikan dalam kompetisi Intel International Science and Engineering Fair (ISEF) pada 2017 di Los Angeles, AS.

Dalam dokumenter berdurasi 104 menit tersebut, Indonesia diwakili oleh Intan Utami Putri dan Nuha Anfaresi.

Keduanya merupakan pelajar SMAN 1 Sungailiat, Kepulauan Bangka Belitung, yang sebelumnya telah menyabet gelar juara dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2016.

Nuha dan Intan menilai warga lokal menderita masalah kesehatan akibat industri penambangan timah mencemari air bersih yang umumnya digunakan masyarakat setempat untuk minum dan mencuci.

Mereka berdua mengembangkan BankSand, sebuah penyaring air yang dapat menyaring ion timah hasil penambangan. Filter yang dibuat dengan modal US$10 ini dapat mengubah air yang tekontaminasi menjadi air bersih.

"Sejak dulu saya dan Intan sering mendengar keluhan masyarakat di Bangka yang melihat dampak buruk dari penambangan timah di laut. Seiring berjalannya waktu, kekhawatiran itu justru makin bertumbuh. Karena itu, kami mau memberikan solusi," ujar Nuha dalam pemutaran dan diskusi film Inventing Tomorrow di Pacific Place, Jakarta, Selasa (2/4).

Sponsored

Gadis berusia 18 tahun itu menyatakan sejak duduk di bangku sekolah dasar, dia sudah sadar akan permasalahan akibat limbah dari penambangan timah.

"Ada banyak keluhan dan belum ada solusi, saya terpancing untuk bertindak. Kesadaran itu bisa mendorong kita melakukan banyak hal, salah satunya adalah melalui penelitian lingkungan," lanjutnya.

Bersahabat sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, Intan turut membantu penelitian Nuha. Seperti mayoritas warga di Kepulauan Bangka Belitung, Intan pun merasakan dampak nyata dari pencemaran air akibat penambangan timah di laut.

"Rumah kami hanya berjarak 15 menit dari pantai. Kami bisa melihat banyak sekali kapal-kapal penambang timah di laut. Tentu kami merasakan efek negatifnya juga," tutur Intan.

Intan memaparkan, dia dan Nuha merupakan satu-satunya perwakilan dari Bangka yang maju dan memenangkan LKIR.

Setelah meraih gelar juara, LIPI menunjang penelitian dua gadis tersebut dengan memberi akses bagi sejumlah fasilitas seperti peralatan, laboratorium, hingga menyediakan mentor untuk membantu proyek sains mereka.

"Kami diberikan akses bagi fasilitas LIPI di Jakarta dan diperkenalkan ke alat-alat yang akan kami butuhkan untuk meneliti," kata Nuha. "Dengan bimbingan dari mentor di LIPI, kami mengetahui lebih banyak soal riset kami dan cara mencari solusi yang tepat bagi komunitas."

Dengan bekal dari LIPI, Nuha dan Intan membawa ide mereka ke jenjang internasional yakni ISEF 2017. Kompetisi itu merupakan pertemuan para ilmuwan tingkat SMA terbesar di dunia, menarik sekitar 1.800 finalis yang berasal dari 75 negara.

Meski tidak meraih gelar juara, keduanya tidak patah semangat dan hingga kini terus mengembangkan penelitian mereka.

"Penelitian kami mendapatkan seed funding dari dua LSM yakni Young Water Solutions dari Swiss dan Aquafin dari Belgia. Pendanaan itu untuk pilot project yang sekarang masih berjalan, proyek itu bertujuan untuk mengimplementasikan penyaringan air BankSand bagi masyarakat lokal," jelas Nuha.

Dengan implementasi itu, Nuha berharap akan ada perubahan di Bangka, baik dari segi ketersediaan air bersih bagi masyarakat, maupun kesadaran akan dampak kontaminasi air oleh para penambang timah setempat.

Dalam kesempatan yang sama, Nix, sang sutradara asal AS, mengatakan telah mewawancarai lebih dari 200 remaja dari seluruh dunia dalam upaya mencari orang yang tepat untuk masuk dalam dokumenternya.

Nix tahu Indonesia merupakan salah satu tempat yang pasti menjadi tujuannya untuk syuting dan mencari peneliti muda. Berdasarkan risetnya, mayoritas siswa Indonesia mengerjakan proyek sains yang bertujuan untuk memperbaiki lingkungan sekitar. 

"Saya sangat senang ketika bertemu dengan Nuha dan Intan. Dua gadis itu sangat berani mengatasi persoalan di komunitas mereka," ungkapnya.

Pasalnya, Nuha dan Intan mengatakan bahwa industri penambangan timah menjadi tumpuan ekonomi setempat. Namun, mereka memiliki keberanian untuk memprotes dampak negatif yang industri itu sebabkan bagi lingkungan sekitar.

"Melalui film ini, saya ingin membagikan dan memperkuat pesan yang Nuha dan Intan ingin sampaikan, bahwa tidak ada pembenaran untuk merusak lingkungan," tuturnya.

Selain Nuha dan Intan, Nix menyoroti penelitian milik Sahithi dari India, Jared Goodwin dari Hawaii, serta tim asal Meksiko beranggotakan Fernando Villalobis, Jose Esparaza, dan Jesus Martinez.

Ketujuh remaja itu memiliki satu kesamaan, semua masalah lingkungan yang mereka hadapi berskala lokal.

Sahithi merancang aplikasi untuk menganalisis polutan air di kota asalnya, Bengaluru. Sedangkan, trio Meksiko meneliti cara menyerap polusi di wilayah sekitar rumah mereka di Monterrey menggunakan cat ramah lingkungan. Sementara itu, Jared terpaku untuk menyelidiki tingkat arsenik di tanah Hilo, daerah yang begitu dekat dengan rumahnya.

"Saya ingin memilih peneliti muda yang berurusan dengan masalah lingkungan yang bersifat pribadi bagi mereka, persoalan lokal yang berdampak langsung kepada mereka," jelas Nix.

Penelitian sains mereka, tambahnya, diarahkan untuk berkontribusi bagi komunitas masing-masing dan menjamin masa depan lingkungan hidup di sana.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

#Repost @thegrandcinema ・・・ These kickbutt teens will save us all. INVENTING TOMORROW is our 11/27 Tuesday Film, screening at 2PM and 7PM.⁣ ⁣ Follow 6 teens from around the world who are creating cutting-edge solutions to confront the world's environmental threats, right in their backyards.⁣ ⁣ Each student is preparing original scientific research to defend at ISEF, the Intel International Science and Engineering Fair. AKA "the Olympics of high school science fairs."⁣ ⁣ #tacoma_wa #tacomawa #pnw #northwestisbest #253 #gritcity #thegrandcinema #onlyatthegrand #isef #inventingtomorrow #teensintacoma @inventingtomorrowmovie @teensintacoma @citizensforahealthybay @graduatetacoma @tacomaschools @soundsfunmom

A post shared by Inventing Tomorrow (@inventingtomorrowmovie) on

Harapan bagi masa depan

Nix menuturkan bahwa solusi yang ditawarkan oleh kaum remaja mengenai permasalah lingkungan yang dihadapi saat ini menjadi titik awal pembuatan Inventing Tomorrow. Melalui dokumenter itu, Nix ingin memberi harapan bagi para penonton.

"Memikirkan masalah lingkungan dan alam itu melelahkan dan membuat seseorang merasa putus asa, maka itu saya ingin menyajikan cerita yang memperlihatkan ada harapan di generasi muda kita. Ada solusi potensial yang dapat kita telaah bersama-sama," tegasnya.

Inventing Tomorrow berhasil menjadi juara dalam kategori dokumenter di Seattle International Film Festival (SIFF) 2018 dan masuk ke dalam jajaran nominasi kategori dokumenter di Sundance Film Festival 2018.

Film itu disusun dalam dua bagian, bagian pertama berfokus pada latar belakang dan upaya kreatif masing-masing karakter dalam menghadapi masalah lingkungan lokal yang tercemar.

Tidak hanya menyoroti sisi akademik dari anak-anak itu, Nix juga memotret kehidupan sehari-hari mereka. Mulai dari interaksi dengan teman sebaya, orang tua, dan bahkan memperlihatkan latar belakang ekonomi dan budaya masing-masing.

Dalam bagian kedua, film itu menyoroti interaksi ketujuh remaja tersebut saat tiba di ISEF. Memperlihatkan kegigihan perjuangan mereka, serta menyisipkan pertukaran ide dan budaya yang mereka alami saat bertemu dengan anak-anak sebaya dari berbagai belahan dunia.