logo alinea.id logo alinea.id

5 alasan wajib nonton film Bebas sambil reuni

Film terbaru dari sineas Riri Riza dan Mira Lesmana bejudul Bebas akan segera meluncur ke tengah publik, tepatnya 3 Oktober 2019.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Sabtu, 21 Sep 2019 06:02 WIB
5 alasan wajib nonton film Bebas sambil reuni

Film terbaru dari sineas Riri Riza dan Mira Lesmana bejudul Bebas akan segera meluncur ke tengah publik. Diadaptasi dari film drama komedi asal Korea Selatan berjudul Sunny (2011) produksi CJ Entertainment, film Bebas siap tayang di bioskop mulai 3 Oktober 2019.

Film ini merupakan proyek kolaborasi pertama Miles Films dengan rumah produksi luar negeri. Di film ini, Riri bertindak sebagai sutradara, sedangkan Mira penulis naskah dan produser.  Dibandingkan dengan karya film produksi terdahulu, Bebas menjadi film adaptasi pertama yang diproduksi oleh Miles Film.

1. Latar sosial-politik 90-an

Film Bebas mengangkat tema persahabatan yang tergambar seperti dalam Sunny. Bedanya, Sunny mengambil latar tahun 1980-an, sedangkan Bebas mengulas kehidupan remaja pertengahan 1990-an hingga sekarang. Sunny mengangkat tema persahabatan berlatar tahun 1980-an. Saat itu, Korea Selatan tengah terjadi pergolakan politik, sosial, dan budaya. Film ini populer di Korea Selatan pada 2011.

Film Bebas pun berkesan khusus bagi Riri Riza selaku sutradara. Menurut dia, film ini berbicara dua hal. Pertama, menggambarkan bagaimana kehidupan pertengahan 1990-an. Kedua, menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia di masa sekarang.

Selain itu, era ’90-an adalah periode yang menarik bagi Riri. Itu juga memengaruhi era ’90-an yang menjadikan sebagai latar waktu dari cerita di film Bebas.

“Banyak perubahan terjadi di Indonesia saat itu. Musik Indonesia di era ’80-an dan ’90-an juga sedang berada di puncaknya. Di saat yang sama, masyarakat Indonesia juga sedang gelisah mencari ‘kebebasan’,” tutur Riri dalam keterangan pers saat peluncuran film Bebas, di Plaza Senayan XXI, Jakarta, belum lama ini.

“Film ini banyak berbicara tentang kehidupan masa pertengahan 1990-an juga bagaimana kehidupan kita sekarang. Ini bisa menjadi catatan memori yang penting untuk dikenang beberapa puluh tahun lagi,” kata Riri menambahkan.

Sponsored

2. Lagu-lagu hits

“Nama-nama karakter dan lagu-lagu dalam film ini adalah penanda era yang kami pilih dalam cerita. Saya dan Riri akhirnya sepakat menggunakan sepuluh lagu nostalgia dari era ’80-an dan ’90-an dalam cerita film Bebas,” kata Mira.

Kesepuluh lagu nostalgia itu dipilih dengan tujuan untuk mewakili rasa atau emosi cerita dan mendukung alur cerita.

“Semua lagu tertulis dalam skenario sejak awal, jadi bukan dipilih saat pascaproduksi,” ucap Mira.

3. Persahabatan 

Bebas mengisahkan geng persahabatan yang terdiri atas lima perempuan dan seorang lelaki pada dua masa berbeda, yakni saat remaja dan dewasa.

Vina, seorang remaja SMA yang berasal dari sebuah kota kecil di Jawa Barat, baru saja pindah ke SMA Negeri bergengsi di Jakarta. Pada hari pertama di sekolah, Vina ditertawakan karena logat bicaranya dan diintimidasi oleh seorang siswa cowok. Beruntung, Vina ditolong dalam beradaptasi oleh empat cewek dan seorang cowok yang disegani di sekolah itu.

Film Bebas menyajikan kisah persahabatan yang unik, lucu, dan mengharukan. Film Bebas juga menawarkan penonton nostalgia kisah cinta, patah hati, dan pertemanan yang abadi.

4. Bintang papan atas

Film Bebas dibintangi sederet aktor-aktor ternama, seperti Marsha Timothy (Pemenang Piala Citra 2018 kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik), Baim Wong, Susan Bachtiar, Agatha Pricilla, Indy Barends, Zulfa Maharani, Baskara Mahendra, Widi Mulia, Maizura, dan penyanyi Sheryl Sheinafia.

Beberapa pemain pendukung film ini antara lain ialah Sarah Sechan, Tika Panggabean, Darius Sinathrya, Bisma Karisma, dan Reza Rahadian (Pemenang Piala Citra 2016 Pemeran Utama Pria Terbaik).

5. Kesetaraan gender

Mira mengungkapkan, hasil riset untuk syuting film ini mencatat kendala pada terbatasnya sekolah khusus perempuan di Indonesia. Dia menyimpulkan, hal itu karena hanya ada sejumlah SMA khusus siswa perempuan di kota besar seperti Jakarta, antara lain Yayasan Santa Ursula, Santa Theresia, dan Yayasan Tarakanita. Akibatnya, capaian geng pelajar perempuan seperti dalam film Sunny tidak sepenuhnya dapat ditiru.

“Jumlah sekolah khusus perempuan itu tidak terlalu banyak. Jadi kalau konsep geng perempuan dipakai sepenuhnya akan kurang relevan dengan kondisi di Indonesia. Maka kita campurkan dengan karakter laki-laki dalam geng ini,” kata Mira.

Namun agar tak terjebak pola geng Cinta seperti dalam film Ada Apa Dengan Cinta?, karakter laki-laki dikreasikan secara khusus. Ini dimaksudkan agar karakter laki-laki dapat klop dalam persahabatan dengan anggota geng perempuan.

Untuk itu, Gina S. Noer selaku penulis skenario pendamping berkesempatan mengubah salah satu karakter perempuan di geng Bebas menjadi laki-laki yang bernama Jojo. Gina yang bergabung di draf ke-2 penulisan skenario mengatakan, keberanian Mira dan Riri dalam mengambil risiko membuat proses penggarapan film ini menyenangkan dan seru.

“Senang sekali bisa mengembangkan karakter Jojo. Bahkan dalam draf berikutnya, Mbak Mira dan Mas Riri memutuskan sebuah perubahan lagi dengan mengubah dua karakter pendukung cerita dari perempuan menjadi laki-laki. Ini menjadikan film Bebas berbeda dari film Sunny,” tutur Gina.

Karakter Jojo gubahan Gina itu, menurut Mira, mencerminkan sebuah kesetaraan.

“Para tokoh siswa perempuan bisa menghormati kedudukan si laki-laki, sedangkan si laki-laki bisa menghormati para perempuan,” ucapnya.