logo alinea.id logo alinea.id

6 gunung di Pulau Jawa erupsi dan terbakar

Sejumlah gunung di Tanah Air tengah terbakar dan mengalami erupsi sehingga pendakian ditutup. Simak daftarnya.

Sukirno
Sukirno Senin, 12 Agst 2019 21:36 WIB
6 gunung di Pulau Jawa erupsi dan terbakar

Sejumlah gunung di Tanah Air tengah terbakar dan mengalami erupsi sehingga pendakian ditutup.

Biasanya, saat Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia pada 17 Agustus, para pendaki menggelar upacara di puncak-puncak gunung. Namun, kali ini sejumlah gunung di Pulau Jawa tak kondusif.

1. Gunung Semeru

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur menunjukkan aktivitas kegempaan letusan, hembusan, tremor dan tektonik pada periode pengamatan 11 Agustus 2019 pada pukul 00.00 hingga 24.00 WIB.

"Berdasarkan laporan yang kami terima dari Pos Pengamatan Gunung Api Semeru di Gunung Sawur tercatat kegempaan letusan sebanyak 15 kali dengan amplitudo 10-22 mm dengan durasi 55-130 detik," kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Hendra Gunawan saat dihubungi dari Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (12/8).

Selain itu, lanjut dia, gunung yang memiliki ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut itu memunculkan kegempaan hembusan sebanyak 9 kali dengan amplitudo 2-9 mm berdurasi 25-150 detik, kemudian gempa tremor harmonik sebanyak satu kali dengan amplitudo 1 mm durasi 200 detik, dan satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 5 mm berdurasi 55 detik.
 
Hendra menjelaskan aktivitas Gunung Semeru masih tetap pada level II atau waspada, sehingga masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.

"PVMBG juga memberikan rekomendasi kepada warga dan pendaki Gunung Semeru agar mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jonggring Seloko, sehingga diimbau mematuhi batas aman yang direkomendasikan," katanya.

Sementara itu data di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tercatat jumlah pendaki yang naik ke Gunung Semeru pada Agustus 2019 mengalami peningkatan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, bahkan kuota pendaki penuh sejak Rabu (14/8) hingga Sabtu (17/8).

Sponsored

Kuota pendaki untuk naik ke gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut dibatasi maksimal 600 orang per hari, sehingga pendaki yang ingin mengikuti upacara bendera di sejumlah titik jalur pendakian Semeru sudah harus mendaftar melalui dalam jaringan (daring) jauh-jauh hari.

Pihak Balai Besar TNBTS membatasi jalur pendakian gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut sampai Kalimati sesuai rekomendasi PVMBG, sehingga pendaki dilarang keras untuk nekat ke puncak Semeru (Mahameru) karena berbahaya.

2. Gunung Slamet

PVMBG Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status Gunung Slamet menjadi Level II (Waspada) dari sebelumnya Level I (Normal).

Peningkatan status mulai berlaku efektif sejak hari ini, Jumat 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Kepala PVMBG, Kasbani meminta masyarakat, pengunjung/wisatawan untuk tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak Gunung.

"Berdasarkan data pemantauan instrumental, terjadi peningkatan yang cukup signifikan dan perlu diantisipasi jika terjadi erupsi, sehingga tingkat aktivitas Gunung Slamet dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 9 Agustus 2019 Pukul 09.00 WIB," ujarnya.

Ia dalam informasi dari Kementerian ESDM menambahkan, potensi ancaman bahaya Gunung Slamet saat ini adalah erupsi magmatik yang menghasilkan lontaran material pijar yang melanda daerah di sekitar puncak di dalam radius 2 km, atau erupsi freatik dan hujan abu di sekitar kawah tanpa ada gejala vulkanik yang jelas.

Gunungapi Slamet adalah gunungapi strato berbentuk kerucut dengan tinggi puncak 3.432 mdpl, secara administratif masuk ke dalam 5 wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah.

Dalam Level II (Waspada) ini PVMBG merekomendasikan agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak Gunung Slamet.

"Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau Pos Pengamatan Gunungapi Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang," jelas Kasbani.

3. Gunung Merapi

Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mengeluarkan tiga guguran lava ke arah hulu Kali Gendol pada Senin (12/8).

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida melalui keterangan resminya di Yogyakarta menyebutkan tiga kali guguran lava itu memiliki jarak luncur 450 - 900 meter.

Selain guguran lava, BPPTKG pada periode pengamatan pukul 00:00-06:00 WIB juga mencatat enam kali gempa guguran dengan amplitudo 6-60 mm selama 47.8-89.76 detik, 1 kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 7 mm selama 11.72 detik.

Hingga saat ini BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.

BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Sehubungan semakin jauhnya jarak luncur awan panas guguran Merapi, BPPTKG mengimbau warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan.

4. Gunung Ciremai

Seluruh jalur pendakian Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan dan Majalengka, Jawa Barat, untuk sementara ditutup karena area hutan di kawasan puncaknya terbakar pada Rabu (7/8) sekitar pukul 13.00 WIB.

"Mulai hari ini seluruh jalur pendakian, baik dari Linggarjati, Palutungan, maupun Majalengka sementara ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan," kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Kuswandono dalam pesan tertulis.

Menurut dia, tim gabungan dari Balai TNGC, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majalengka, warga, dan Mitra Pendakian Gunung Ciremai (MPGC) Apuy menuju lokasi kebakaran pukul 15.00 WIB untuk mengevakuasi para pendaki dan melakukan pemadaman.

"BTNGC dan petugas MPGC mengevakuasi semua pendaki yang ada di jalur pendakian baik Jalur Apuy, Palutungan, dan Linggarjati," ujarnya.

Menurut data BPBD Kabupaten Kuningan, pendaki yang masih berada di jalur pendakian jumlahnya 61 orang dengan perincian 25 orang di jalur pendakian Apuy, 31 orang di jalur pendakian Palutungan, dan lima orang di jalur pendakian Linggarjati.

Kebakaran terjadi di blok Gua Walet di puncak Gunung Ciremai yang masih wilayah Kelurahan Argamukti, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Asap terlihat pada Rabu (7/8) pukul 15.10 WIB dari wilayah Argalingga, Kabupaten Majalengka. Perkiraan luas lahan yang terdampak sekitar 308 hektare.

"Otoritas taman nasional telah mengeluarkan pengumuman tentang penutupan jalur pendakian. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan," kata Pelaksana Harian Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo.

5. Gunung Guntur

Jajaran Kepolisian Sektor Tarogong Kaler menyelidiki penyebab kebakaran hutan di Gunung Guntur, Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang ditemukan adanya dugaan unsur kesengajaan oleh manusia untuk membuka lahan di lereng gunung.

"Betul karena ulah manusia untuk pembukaan lahan di daerah Guntur," kata Kepala Polsek Tarogong Kaler Ipda Asep Saepudin di Garut, Minggu (11/8).

Ia menuturkan, sejumlah personel telah terjun ke kawasan hutan Gunung Guntur untuk menelusuri penyebab terjadinya kebakaran di hutan pada musim kemarau tersebut.

Hasil penelusuran, kata dia, terjadinya kebakaran hutan itu lebih disebabkan adanya pembukaan lahan oleh sekelompok orang dengan cara membakar alang-alang yang tumbuh kering di kawasan Gunung Guntur.

"Sebenarnya ini ulah pemilik lahan yang membuka lahan dengan cara dibakar, api membesar dan merembet ke tanaman ilalang (alang-alang)," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, polisi bersama pihak terkait yang melakukan pendakian ke gunung menemukan adanya beberapa warga yang sedang membuka lahan di Blok Citiis antara perbatasan Gunung Guntur dan Gunung Masigit.

Bahkan, lanjut dia, ada juga lokasi pembukaan lahan hutan di perbatasan antara Gunung Guntur dan Gunung Putri di Kecamatan Tarogong Kaler.

"Saat itu kami mengingatkan kepada warga agar tidak membakar tanaman di sana," ucapnya.

6. Gunung Arjuno

Pendakian ke Gunung Arjuno di Jawa Timur yang memiliki ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl), kembali dibuka usai kebakaran hutan yang menghanguskan kurang lebih 350 hektare area hutan tersebut.

"Sudah dibuka sejak Jumat (8/8)," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo Ahmad Wahyudi di Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (10/8).

Ia mengatakan bahwa pendakian ke Gunung Arjuno sudah mulai dibuka kembali setelah kondisi dinyatakan benar-benar aman untuk para pendaki.

Wahyudi menambahkan, kendati telah dibuka, namun hingga saat ini belum ada laporan dari pos-pos pendakian terkait berapa banyak pendaki yang sudah memasuki kawasan Gunung Arjuno.

Namun, diperkirakan pada 17 Agustus 2019, akan ada banyak pendaki yang akan berada di puncak Gunung Arjuno. Diperkirakan, ada kurang lebih 200-300 orang pendaki yang akan melakukan upacara bendera di puncak Arjuno.

"Masih belum ada update laporan berapa banyak pendaki per hari. Untuk upacara 17 Agustus 2019, diperkirakan ada sebanyak 200-300 orang," kata Wahyudi.

Wahyudi mengingatkan, bagi para pendaki yang akan mendaki di Gunung Arjuno, diimbau untuk tidak membuat api unggun dan menyalakan api. Hal tersebut dilakukan dalam upaya untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan.

"Pada saat pendaki berada di pos perizinan, mereka diimbau untuk tidak membuat api unggun dan bakar-bakar," kata Wahyudi.

Beberapa waktu lalu, terjadi kebakaran di kawasan hutan Gunung Arjuno yang menghanguskan kurang lebih 350 hektare lahan. Kebakaran itu bermula pada Minggu (28/7), namun berhasil ditangani dengan cepat.

Akan tetapi, akibat hembusan angin yang cukup kencang membuat bara api sisa kebakaran, kembali memunculkan api. Kebakaran kedua tersebut jauh lebih hebat dan lebih sulit ditangani oleh tim pemadam gabungan, karena medan yang sulit.

Lokasi titik kebakaran cenderung curam sehingga mempersulit petugas untuk mencapai titik kebakaran, bahkan, tingkat kemiringan lokasi mencapai lebih dari 60 derajat, sehingga harus mendatangkan satu unit helikopter untuk melalukan operasi water bombing.

Setelah operasi water bombing atau penyiraman air dari udara tersebut, tim pemadam darat melakukan penyisiran bara api. Pada 6 Agustus 2019, dipastikan bara api yang ada di Gunung Arjuno sudah padam, dan status tanggap darurat dicabut pada 7 Agustus 2019. (Ant)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

"Menang jadi arang. Kalah jadi abu", begitulah kata pepatah. . Api yang kalah karena dipadamkan menyisakan debu yang amat mudah tertiup angin sehingga menyebabkan udara menjadi kotor. . Sementara tim pemadam yang menang pun kehilangan banyak energi, waktu, dan biaya untuk bergelut dengan api. . #sobatCiremai, jelaslah sudah, mencegah kebakaran lebih dikehendaki daripada memadamkan. . So, ayo cegah kebakaran hutan sekarang juga!. Salah satunya dengan bijak berwisata alam seperti mematikan puntung rokok dan tidak menggunakan perapian yang tak terkendali. . [Teks & foto ©️ BTNGC | 082019] . #klhk #ayoketamannasional #gunungciremai #cegahkarhutla #CiremaiZeroFire2019 #MPA #StopForestFire #polhut #pesonakuningan #pesonamajalengka #pesonaindonesia #wonderfulindonesia

A post shared by TN Gunung Ciremai (@gunung_ciremai) on