sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Babi ngepet, tuyul, dan bagaimana takhayul muncul

Di zaman serba canggih, masih banyak orang percaya takhayul, seperti keberadaan babi ngepet atau tuyul.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Minggu, 09 Mei 2021 06:00 WIB
Babi ngepet, tuyul, dan bagaimana takhayul muncul

Cita-cita Adam Ibrahim akhirnya terwujud. Motifnya ingin jadi terkenal menuai sukses. Ia dibicarakan orang se-Indonesia karena ketahuan mengarang kisah fiktif babi ngepet.

Bermula dari keresahan warga yang mengaku kehilangan uang di malam-malam tertentu, Adam punya siasat. Bersama delapan orang lainnya, ia mengarang cerita babi ngepet yang ada di lingkungannya di Kampung Bedahan, Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Pada Senin (26/4) malam, dengan dipimpin Adam, seekor babi yang dianggap jadi-jadian ditangkap warga. Peristiwa penangkapan babi ngepet ini kemudian viral di media sosial.

Setelah polisi mengusutnya, ternyata desas-desus babi ngepet hanya bualan Adam. Sesudah ditangkap, Adam mengaku membeli seekor babi hutan seharga Rp900.000, dengan ongkos kirim Rp200.000 dari sebuah grup di Facebook.

Kebodohan menimbulkan efek domino. Sepulang menonton penangkapan babi ngepet palsu di Depok, seorang warga Kampung Baru, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Wati menuding tetangganya sebagai babi ngepet karena terlihat menganggur, tetapi memiliki banyak uang. Akibat tuduhan tak berdasar itu, Wati akhirnya diusir warga yang geram.

Babi ngepet hingga tuyul

Takhayul, termasuk kepercayaan terhadap babi ngepet, memang lekat dengan masyarakat kita. Jurnalis Mochtar Lubis menyinggung hal ini dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta pada 6 April 1977, yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Manusia Indonesia (2017).

Ia menyebut enam sifat manusia Indonesia. Salah satunya, percaya kepada takhayul. Selain percaya benda-benda punya kekuatan gaib, menurut Mochtar, manusia Indonesia percaya segala rupa hantu, seperti genderuwo, jurig, orang halus, kuntilanak, dan leak.

Sponsored

“Kepercayaan bahwa manusia bisa menjelma dalam binatang, tersebar luas di seluruh Nusantara kita,” kata Mochtar.

“Ada ilmu ngepet pada orang Sunda dan juga orang Jawa, kalau mau kaya, manusia menjelma jadi babi, anjing, dan sebagainya.”

Kepercayaan seperti ini, kata Mochtar, membawa manusia Indonesia jadi tukang bikin lambang. Akhirnya, percaya pada jimat dan jampe.

“Dengan jimat dan mantra kita merasa yakin telah berbuat yang tegas untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan atau kesehatan kita,” ujar Mochtar.

Ketika melakukan penelitian di Mojokuto, Jawa Timur pada 1950-an, antropolog terkemuka asal Amerika Serikat Clifford Geertz pun mendengar kisah pesugihan tiga warga yang mendadak kaya karena diduga punya tuyul.

Ilustrasi penjaga lilin./Unsplash.com.

“Seorang jagal kaya, seorang perempuan pedagang tekstil yang tiba-tiba menjadi orang kaya baru sejak pendudukan Jepang, dan seorang haji kawakan yang jadi saudagar sangat kaya di masa sebelum perang,” tulis Clifford Geertz dalam Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa (2017).

Geertz menyebut, masing-masing dari mereka pergi ke berbagai reruntuhan Hindu yang membentuk lingkaran besar di sekitar Mojokuto, yakni Borobudur di barat, Penataran di selatan, Bongkeng di timur, serta makam Sunan Giri di dekat Gresik sebelah utara.

“Di masing-masing tempat keramat ini, mereka bersumpah kalau makhluk halus di situ berkenan memberikan tuyul, mereka akan mempersembahkan korban manusia yang dibunuh secara magis untuk makhluk halus itu setiap tahunnya,” tulis Geertz.

Tuyul merupakan makhluk halus anak-anak. Mereka, sebut Geertz, sangat disenangi manusia karena membantu menjadi kaya dengan mencuri uang. Tuyul bisa didapatkan melalui puasa dan meditasi. Namun, tuyul bisa pula diperoleh tanpa melakukan hal tadi.

“Semuanya tergantung dari tuyul itu sendiri, kalau ia ingin menolong kita, ia akan menolong dan kalau ia tidak mau, ia akan menolak, tak peduli apa pun yang kita lakukan,” tulis Geertz.

“Tapi kebanyakan orang beranggapan, seseorang perlu membuat semacam perjanjian dengan setan, supaya tuyul mau menerima tawarannya.”

Geertz mengatakan, ada beberapa ciri seseorang yang memiliki tuyul. Mereka biasanya selalu kaya; kikir; berpakaian kedodoran; mandi di kali bersama kuli miskin; tak makan nasi, tetapi jagung dan ubi; sementara rumah mereka konon selalu dipenuhi emas.

Di samping itu, mereka kerap tampak menyimpang secara sosial, berbicara keras dan agresif, kurang beradat, punya kebiasaan yang kurang bersifat Jawa, seperti mengatakan sesuatu secara spontan tanpa berpikir panjang.

Selain tuyul, menurut Geertz, masyarakat Jawa mempercayai adanya jenis hantu lain, seperti memedi, lelembut, demit, dan danyang. Di samping tuyul dan babi ngepet, sejarawan Onghokham menyebut Nyi Blorong sebagai sosok makhluk halus yang bisa membuat orang menjadi kaya raya.

“Orang yang ingin kaya dapat mengadakan perjanjian atau perkawinan dengan Nyi Blorong,” tulisnya dalam Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara (2002).

Sentimen sosial

Sejarawan Kuntowijoyo menyebut, kepercayaan orang terhadap pesugihan yang bisa mendatangkan kekayaan bermula pada masyarakat tradisonal agraris di masa kolonial. Ketika berlaku sistem tanam paksa alias cultuurstelsel di era Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada 1830, para petani hidup sengsara.

Dalam buku Muslim Tanpa Masjid: Mencari Metode Aplikasi Nilai-Nilai Alquran pada Masa Kini (2001), Kuntowijoyo menulis bahwa aturan tanam paksa menetapkan petani harus memberi seperlima—bahkan pada praktiknya lebih dari itu—dari tanah pertaniannya. Artinya, empat seperlima adalah untuk petani. Kalau dalam hasil ada banyak, maka tanah itu harus dibagi dua—pemilik setengah dan penggarap setengah.

Dalam pandangan petani saat itu, orang tak bisa menjadi kaya tanpa orang lain yang menjadi miskin. Mereka hidup dengan kerja keras, sementara ada orang lain yang tak bekerja sekeras mereka punya hidup lebih sejahtera.

“Dalam masyarakat pertanian, ada kepercayaan tentang pesugihan, yang dapat menjadikan orang kaya tanpa bekerja, dengan memelihara tuyul, babi ngepet, dan semacamnya,” tulis Kuntowijoyo.

Di sisi lain, menurut Onghokham, masyarakat Jawa tradisional memandang kekayaan seseorang, terutama pengusaha dan pedagang, tak punya legitimasi karena mereka dianggap melakukan perjanjian dengan makhluk halus. Orang kaya dianggap bukan lagi “Jawa” lantaran punya hubungan dengan setan.

Ilustrasi peramal./Unsplash.com.

“Kepercayaan terhadap Nyi Blorong dan tuyul menjatuhkan status orang kaya di Jawa. Lebih-lebih dalam masyarakat Jawa tradisional, orang kaya dianggap pencuri, yang mencuri tentu tuyulnya,” tulis Ong.

Kekuasaan raja pun kerap dihubungkan dengan roh halus. Raja—terutama Raja Mataram—dipercaya menerima wahyu dari Tuhan dan hubungannya dengan Nyai Roro Kidul.

Namun, mitos hubungan raja dengan Nyai Roro Kidul tersebut justru memperkuat legitimasi seorang raja. Sebuah hal yang terbalik dengan orang kaya yang dianggap berhubungan dengan Nyi Blorong. Mereka kerap dipandang negatif.

“Dengan membandingkan legitimasi kekuasaan politik raja melalui dunia supranatural, dengan kekuasaan ekonomi orang kaya lewat roh halus, maka kekuasaan politik adalah lebih legitim di mata orang Jawa,” tulis Ong.

Ong memandang, ada gejala di masyarakat Jawa yang melihat sukses ekonomi minoritas China sebagai hasil memelihara tuyul. Ia melihat gejala demikian dari adanya desas-desus kalau tempat-tempat ziarah orang keturunan China tradisional, seperti Kelenteng Sam Po Kong di Semarang dan Gunung Kawi di Jawa Timur sebagai tempat mengambil tuyul.

“Dengan kepercayaan ini, maka golongan swasta kaya pribumi disamakan dengan minoritas China atau minoritas China diangkat pada taraf pribumi kaya,” kata Ong.

Menurut Ong, golongan pribumi dan minoritas China kaya tak punya legitimasi dalam masyarakat agraris Jawa. Perdagangan ijon dan kenaikan harga, walau bukan salah pedagang, dipandang petani sangat eksploitatif. Larangan riba dari agama, lalu memperkuat sentimen antiakumulasi modal dan sentimen antiorang kaya.

Dalam buku Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang (2019), Ong menulis, perasaan anti-China berasal dari sikap kebanyakan masyarakat petani terhadap orang kaya yang berada dalam perekonian uang, terutama pedagang.

Jika ada minoritas yang termasuk golongan perantara dalam ekonomi, kata Ong, maka masyarakat petani yang serba kekurangan dengan mudah melihat ia bermufakat dengan iblis.

“Biarpun kepercayaan akan tuyul ini adalah kepercayaan rakyat, sebenarnya kebudayaan rakyat ini berpengaruh di kalangan pejabat dan golongan atas lain yang bukan petani subsistens (serba kurang),” tulis Ong.

Dari semua gejala ini, Ong menjelaskan, ada perbedaan antara teori sosiolog Max Weber dan kepercayaan dunia gaib di Jawa. Teori Weber menyatakan, agama atau perubahan nilai-nilai agama menghasilkan kekayaan karena ada tekanan pada karya perorangan dan masyarakat.

“Sementara itu, orang sukses di Indonesia, menurut konsep tradisional, karena ada hubungan gaib,” ujar Ong.

“Dengan kata lain, tidak ada usaha pada mereka yang berkuasa secara politis maupun sukses sebagai usahawan swasta.”

Mengapa orang percaya takhayul?

Terkait takhayul, psikolog kognitif terapan dari Manchester Metropolitan University Neil Dagnall dan dosen senior sekaligus peneliti kognitif dan parapsikologi dari Manchester Metropolitan University Ken Drinkwater dalam artikel “The science of superstition—and why people believe in the unbelievable” yang terbit di The Conversation, 2 Juli 2018, menjelaskan bahwa hal itu timbul dari asumsi adanya hubungan antara peristiwa yang terjadi bersamaan dan tak terkait.

“Misalnya, anggapan kalau mantra bisa membawa keberuntungan atau melindungi Anda dari nasib buruk,” tulis Dagnall dan Drinkwater.

Menurut Dagnall dan Drinkwater, seseorang yang percaya takhayul bisa memberikan rasa kendali dan mengurangi kecemasan. “Itulah sebabnya tingkat takhayul meningkat pada saat stres dan cemas,” kata mereka.

Dagnall dan Drinkwater menulis, hal itu terutama terjadi ketika masa krisis ekonomi dan ketidakpastian sosial. Jika dikaitkan dengan kemunculan prasangka pesugihan di masyarakat pertanian Jawa, seperti yang dijelaskan Kuntowijoyo dan Onghokham, tampaknya ketidakpastian sosial sebagai penyebab munculnya takhayul sangat tepat.

Sementara profesor psikologi dari University of Bristol, Inggris, Bruce Hood di dalam bukunya, Supersense: Mengapa Kita Percaya Hal Tak Masuk Akal (2020) menyebutkan, kepercayaan supranatural bisa berasal dari agama, seperti menyembah dewa, percaya roh, hantu, dan malaikat.

Namun, orang yang tidak religius pun percaya terhadap hal supranatural, dalam bentuk kepercayaan terhadap kemampuan paranormal, kekuatan cenayang, telepati, dan berbagai fenomena yang tak bisa dijelaskan dengan hukum alam.

Infografik Alinea.id/Oky Diaz.

Hood menulis, kecenderungan menganggap hal yang sifatnya supranatural sebagai sesuatu yang riil—atau dalam bahasa Hood disebut supersense—juga melatarbelakangi munculnya takhayul-takhayul, yang merupakan wujud usaha manusia mengendalikan peristiwa sehari-hari melalui pengaruh kekuatan supranatural.

Hood mengutip pernyataan psikolog Stuart Vyse yang berpendapat, pengaruh kultur terhadap segala hal supranatural sangat bermakna. Vyse mengatakan, manusia tak lahir dalam keadaan percaya takhayul, tetapi mempelajari takhayul itu.

“Kita dibentuk menjadi orang yang percaya hal-hal semacam itu,” kata Vyse, seperti dikutip Hood dalam bukunya.

Hood mengatakan, kita mendapatkan keyakinan supranatural dari dua hal. Pertama, ide-ide yang ditanamkan orang lain dalam pikiran kita. Kedua, ide-ide yang memang sebagian sudah ada di dalam pikiran kita sendiri. Artinya, keyakinan itu merupakan produk alamiah dari pikiran manusia.

“Agama dan budaya memang memainkan peran penting bagi keyakinan supranatural, tapi mereka tidak bekerja sendirian,” tulis Hood.

“Mereka hanya memfasilitasi keyakinan-keyakinan supranatural yang sudah ada dalam pikiran kita sendiri.”

Berita Lainnya