sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bioskop XXI dan sepenggal tahap revitalisasi Taman Ismail Marzuki

Bioskop XXI TIM ditutup karena masa kontraknya habis dan terkena imbas revitalisasi TIM.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Rabu, 21 Agst 2019 10:15 WIB
Bioskop XXI dan sepenggal tahap revitalisasi Taman Ismail Marzuki

Udiarti bergegas ke toilet bioskop XXI yang berada di kompleks Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM), usai menonton film Perburuan pada Sabtu (17/8) petang lalu.

Tak lama, sekelompok anak kecil datang menggunakan toilet yang sama. Sebagian membuang air kecil, beberapa di antaranya sekadar mencuci tangan. Mereka baru selesai berlatih breakdance di pelataran gedung Graha Bakti Budaya (GBB) yang bersebelahan dengan XXI TIM.

“Ayo, kalau mau pipis di sini dipuas-puasin, siapa tahu besok-besok enggak bisa sempat lagi,” kata seorang petugas kebersihan bioskop.

Udi menganggap lalu celetukan sang petugas. Guru taman kanak-kanak di Tebet, Jakarta Selatan ini baru mengerti maksud ucapan tersebut setelah mendapat informasi penutupan bioskop XXI TIM pada Senin (19/8).

Udi cukup terkejut mendapat kabar tersebut. Baginya, bioskop XXI di TIM telah menjadi tempat langganan untuk menonton film terbaru. Pemutaran film-film yang tidak tayang di biokop lain, menjadi alasannya kerap datang ke bioskop ini. Dalam sebulan, setidaknya perempuan yang menjadi salah satu pengurus Komunitas Salihara ini satu kali menonton di XXI TIM.

“Tiketnya murah, dan buat ke sananya gampang. Tinggal turun di Stasiun Cikini, terus jalan kaki sama teman-teman,” ucapnya saat berbincang dengan reporter Alinea.id, Selasa (20/8).

Selama ini, XXI TIM menjadi salah satu gedung film pilihan warga Ibu Kota. Selain murah, lokasinya yang berada di pusat kota, serta di dalam kompleks PKJ TIM, menjadikannya ruang menonton yang ramah. Namun, hal ini akan berakhir karena masa kontrak yang habis pada Senin (19/8). Selain itu, gedung film ini juga terimbas proyek revitalisasi TIM yang dimulai pertengahan tahun ini hingga 2021 mendatang.

Proyek yang dipegang oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) ini akan berlangsung dalam tiga tahap. Proyek ini akan memakan biaya Rp1,8 triliun dengan penyertaan modal daerah (PMD) yang telah masuk dalam APBD DKI Jakarta.

Tahap pertama, revitalisasi yang dimulai pada Juni 2019 akan dilakukan pada area pintu masuk, Masjid Amir Hamzah, dan Gedung Perpustakaan. Tahap ini ditarget rampung pada Desember 2020.

Revitalisasi tahap kedua akan dimulai pada Januari 2020, dan ditarget dapat beroperasi pada 2021. Pada tahap ini akan dibangun Wisma TIM dan Asrama Mahasiswa dan Seniman.

Adapun pada tahap ketiga, revitalisasi dilakukan pada Gedung Planetarium, Gedung Galeri Cipta II, Gedung HB Jassin, dan Graha Bhakti Budaya. Tahapan ini akan dimulai pada Januari 2021 dan ditargetkan selesai pada Juni 2021.

Pada April lalu, sentra kantin TIM yang berada sekitar 30 meter di depan gedung bioskop XXI juga dibongkar. Disusul pula pembongkaran lahan parkir kendaraan di halaman tengah TIM, yang dilakukan guna pembangunan fondasi gedung baru.

Tak mengherankan, suasana di pelataran gedung XXI dan GBB TIM menjadi lebih lengang. Selasa siang, (20/8) misalnya, hanya ada tiga anak yang menari kecil di pelataran depan gedung GBB. Tanpa diiringi musik, mereka menggerakkan tubuh dalam beberapa pose berbeda.

Suasana TIM lengang setelah bioskop XXI ditutup. Alinea.id/Robertus Rony Setiawan

Candradimuka seniman

Tak hanya menyediakan tempat untuk menonton film, TIM juga kerap menyelenggarakan pameran atau pertunjukan yang menarik perhatian peminat seni. Dalam sebulan, sedikitnya lima acara seni terjadwal dalam kalender acara Dewan Kesenian Jakarta. Selain XXI yang menayangkan film terbaru produksi dalam dan luar negeri, TIM menjadi rujukan publik untuk menyaksikan pertunjukan teater, konser musik, pameran lukisan, ataupun pertunjukan tari dan diskusi sastra.

Sejumlah bangunan tempat mempresentasikan karya seni dan ilmu pengetahuan terdapat dalam kompleks TIM, selain gedung film dan GBB, terdapat pula Teater Jakarta yang mencakup Gedung Teater Kecil, Teater Besar, dan Teater Terbuka. Selain itu, ada juga Planetarium, Galeri Cipta I-III, Kineforum, Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, kantor Dewan Kesenian Jakarta, dan Perpustakaan Daerah DKI Jakarta.

PKJ TIM memang telah menjadi ruang berkesenian bagi para pelaku seni. Tak terkecuali bagi Jose Rizal Manua, seniman teater yang telah menghidupi TIM sejak 46 tahun lalu. Bagi Jose, yang mengelola sebuah toko buku di satu sudut pelataran GBB, revitalisasi PKJ TIM tahun ini merupakan sesuatu yang niscaya.

“Sebenarnya revitalisasi TIM ini sudah direncanakan sejak sepuluh tahun lalu, sewaktu Gubernur Sutiyoso, tetapi baru terwujud sekarang,” kata Jose saat ditemui dalam sebuah diskusi sastra di PDS HB Jassin, Selasa (20/8). 

Menurut Jose, beberapa kali renovasi dan perombakan gedung-gedung pertunjukan di TIM selama ini kerap tidak memperhatikan nilai sejarah dan kebutuhan bagi seniman.

Dia mencontohkan, bangunan Teater Jakarta yang berarsitektur tegap dan berdinding kaca sekarang, merupakan bangunan baru yang menggusur nilai dan kapasitas gedung lama sebagai ruang pertunjukan. Dia membandingkan arsitektur gedung pertunjukan Teater Jakarta di era 1970-an yang bercorak khas Nusantara. Menurutnya, gedung baru saat ini menampilkan wujud prosenium yang modern, tetapi kaku dan berdaya tampung penonton lebih sedikit.

“Dulu penonton di Teater Tertutup menampung 360 penonton. Teater Arena 400 penonton. Teater Terbuka bisa mencapai 2.500 penonton. Kita tak punya gedung semacam itu sekarang,” kata dia. 

Selain itu, jejak gedung lama yang menyimpan kenangan pementasan opera atau pertunjukan tokoh-tokoh teater di masa lalu, menjadi sama sekali tak tersisa.

“Dulu pentas Rendra di Teater Tertutup dan Teater Terbuka, sudah tidak bisa kita lihat dan ingat lagi karena gedungnya sudah tidak ada. Jadi ada sejarah yang terputus,” ucapnya.

Gedung Graha Bakti Budaya di TIM. Alinea.id/Robertus Rony Setiawan

Jose berharap revitalisasi dan pembangunan kompleks gedung baru TIM yang direncanakan selama empat tahun, harus mengacu pada idealisme pendirian TIM sebagaimana dimaksudkan Gubernur Ali Sadikin.

“Idealismenya harus dijaga sesuai ide Ali Sadikin yang menghendaki TIM sebagai pusat laboratorium seniman berkesenian,” ujarnya.

Sebagai laboratorium seni, TIM sudah semestinya menunjang kebutuhan para seniman terhadap lokasi dalam berproses kesenian. Selain itu, TIM sebagai tempat mempresentasikan karya seni harus dapat menampung jenis karya seni yang beragam, dari seni tradisional ataupun modern, sastra hingga musik, serta teater dan film.

Meskipun begitu, Jose menilai desain maket kompeks TIM yang baru sangat menarik. Dia mengapresiasi penyediaan lokasi parkir kendaraan pengunjung yang berada di basement (bawah tanah) gedung. Selama beberapa tahun belakangan, Jose menilai lokasi parkir kendaraan di TIM sudah tidak mencukupi.

“Desain gedungnya keren. Juga akan ada kompleks perkantoran. Lalu lintas kendaraan dan parkir di basement, sehingga TIM akan penuh dengan taman untuk tempat latihan seniman-seniman,” ujarnya.

Pertahankan nilai

Namun begitu, Jose juga mengingatkan agar revitalisasi TIM tetap memperhatikan keberadaan seniman sebagai subjek yang memproduksi karya kesenian. Dia berharap proyek ini tidak menimbulkan praktik komersialisasi ruang-ruang di TIM yang memberatkan seniman. Misalnya, kenaikan biaya sewa gedung untuk menyelenggarakan pertunjukan bagi sanggar-sanggar atau kelompok kesenian.

“Harus mempertimbangkan kemampuan dan kapasitas seniman. Karena biaya untuk memproduksi kesenian susah didapat,” ujarnya.

Sam Ancoe Amar, pengajar di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, mengingatkan agar revitalisasi memperhatikan ide dasar Ali Sadikin sebagai pelopor berdirinya TIM.

Dari penutupan bioskop XXI TIM saja, Sam mengkhawatirkan adanya perubahan nilai dan standar TIM sebagai pusat kesenian. Menurut dia, keberadaan TIM sebagai ruang presentasi karya seni selama ini sudah sangat sesuai bagi kebutuhan masyarakat dari berbagai kalangan.

“Dari segi lokasi dan harga, TIM tidak sulit untuk dijangkau oleh publik. Ruang tontonan kita selama ini masih lebih banyak di mal-mal sehingga menonton menjadi kegiatan sampingan, misal sekalian belanja atau kegiatan lainnya,” katanya menuturkan.

Karena itu dia menilai revitalisasi, yang salah satunya berimbas pada penutupan bioskop XXI TIM, akan berpengaruh signifikan bagi publik. Dia mengkhawatirkan keunikan XXI TIM yang berada dalam kompleks pusat kesenian, berpotensi berubah menjadi lebih komersial.

“Kita tak akan melihat lagi ikon TIM sebagai pusat kebudayaan, tetapi nanti malah juga sebagai pusat makanan atau jajanan. Revitalisasi pasti akan mempengaruhi kedudukan itu,” katanya.

Meski demikian, proyek revitalisasi PKJ TIM sudah dan akan terus berlangsung. 

“Semoga TIM tidak hilang identitasnya sebagai tempat berkebudayaan yang berbeda seperti konsep awal dari Ali Sadikin. Jangan hanya dengan alasan revitalisasi, lalu begitu saja menghilangkan ide dasarnya,” ujar Sam.