sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bukan hanya tingkat dasar, paradigma imunisasi harus diubah jadi rutin lengkap

Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) 2022 Kementerian Kesehatan akan dimulai pada Mei mendatang.

Nadia Lutfiana Mawarni
Nadia Lutfiana Mawarni Senin, 11 Apr 2022 14:45 WIB
 Bukan hanya tingkat dasar, paradigma imunisasi harus diubah jadi rutin lengkap

Imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-11 bulan ternyata tidak cukup membentuk kekebalan kelompok atas penyakit tertentu. Paradigma akan kebutuhan imunisasi harus diubah menjadi imunisasi rutin lengkap.

Plt. Direktur Pengelolaan Imunisasi Direktorat Jenderal P2P, Prima Yosephine, menyebutkan imunisasi dasar lengkap belum cukup memberikan perlindungan terhadap PD3I atau penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan vaksin. Beberapa antigen memerlukan booster atau pemberian dosis lanjutan pada usia 18 bulan, usia anak sekolah (BIAS), dan usia dewasa (WUS).

Imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-11 bulan mencakup HBO satu dosis, BCG satu dosis, DPT-HB-Hib tiga dosis, polio tetes (OPV) satu dosis, polio suntik (IPV) satu dosis, dan campak rubela satu dosis. Imunisasi lantujan pada anak usia 18-24 bulan mencakup DPT-HB-Hib satu dosis dan campak rubela satu dosis. Kemudian imunisasi BIAS meliputi campak rubela dan DT pada anak kelas satu dan Td pada anak kelas dua dan lima. Sementara pada usia dewasa atau WUS, perempuan harus mendapatkan imunisasi tetanus.

“Kekebalan komunitas hanya bisa dicapai dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata. Dengan menurunnya cakupan imunisasi rutin lengkap, maka semakin turun pula tingkat kekebalan komunitas,” ujar Prima dalam webinar Pekan Imunisasi Dunia 2022 yang disiarkan lewat Youtube Kementerian Kesehatan, Senin (11/4).

Sponsored

Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) 2022 Kementerian Kesehatan akan dimulai pada Mei mendatang. Selama periode itu, Kementerian Kesehatan akan menggenjot imunisasi polio tetes dan suntik dengan tujuan melengkapi status imunisasi balita yang terlambat diimunisasi sesuai jadwal. Kemudian imunisasi campak rubela dengan tujuan memberikan dosis tambahan tanpa memandang status imunisasi serta pelaksanaan perluasan dan introduksi vaksin baru dengan tujuan penambahan kekebalan terhadap penyakit tertentu.

Medical Officer WHO Indonesia, Praba Palihawadana, menekankan imunisasi merupakan langkah pembangunan global untuk menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. Saat ini dunia memiliki vaksin yang bisa mencegah lebih dari 20 penyakit yang mengancam jiwa. Saat ini WHO juga berupaya untuk mengurangi kesenjangan akses imunisasi.

Berita Lainnya