sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Diingat yah bun, imunisasi bukan sekadar rutinitas

Sangat penting bagi dokter dan tenaga kesehatan untuk menjelaskan apa manfaat manfaat vaksin.

Hermansah
Hermansah Sabtu, 24 Apr 2021 14:38 WIB
Diingat yah bun, imunisasi bukan sekadar rutinitas

Setiap minggu keempat April diperingati sebagai Pekan Imunisasi Dunia atau World Immunization Week. Indonesia termasuk salah satu dari 180 negara anggota World Health Organization (WHO) yang turut memperingati momen ini dengan terus berupaya mengedukasi masyarakat, mengenai pentingnya vaksinasi untuk membentuk imun masyarakat.

Dokter Spesialis Anak dan Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional ITAGI Soedjatmiko menyampaikan, sangat penting bagi dokter dan tenaga kesehatan untuk menjelaskan apa manfaat manfaat vaksin. Sehingga orang tua tidak sekadar menganggap imunisasi sebagai rutinitas semata, namun juga dapat teredukasi dengan baik.

“Misalnya vaksin BCG untuk mencegah radang paru dan radang otak karena tuberkulosis. DPT untuk mencegah penyakit difteri yang menyebabkan radang tenggorokan dan otot jantung. Vaksin tetanus untuk mencegah radang otot sehingga sulit bernafas,” tuturnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/4).

Hal itu dinilai penting. Mengingat dampak jangka panjang apabila anak-anak Indonesia kurang lengkap dalam memperoleh imunisasi, adalah berisiko terserang penyakit-penyakit yang sebenarnya 
bisa dicegah.

“Setelah terserang penyakit tersebut, pasien dapat dirawat di rumah sakit,  bahkan bisa cacat meskipun sudah sembuh. Paling buruk berakhir pada risiko kematian,” ujar Soedjatmiko.

Bagi mereka yang sudah divaksinasi pun risiko untuk terpapar penyakit-penyakit di atas masih ada. Kendati begitu, gejalanya jauh lebih ringan dan tidak berbahaya bagi yang sudah divaksinasi.

“Kesimpulannya, bagi yang memiliki bayi, balita, anak-anak, dan remaja, segera lengkapi vaksinasinya. Kalaupun catatannya hilang, divaksinasi dua kali pun tidak apa-apa,” tambah Soedjatmiko.

Hal yang paling tidak diinginkan tenaga kesehatan adalah merebaknya wabah penyakit baru seperti wabah campak. Padahal saat ini masyarakat masih berjuang melawan pandemi Covid-19.

Sponsored

“Betapa itu akan merepotkan dan sedihnya kita sebagai orang tua melihat anak-anak kita jatuh sakit, masuk rumah sakit dan berisiko kecacatan ataupun kematian,” terang Soedjatmiko.

Untuk itu, Soedjatmiko berpesan kepada seluruh masyarakat agar berperan aktif mengingatkan para orang tua bayi, balita, anak-anak, dan remaja, serta mengomunikasikan manfaat vaksinasi atau imunisasi rutin yang jauh lebih besar daripada isu-isu negatif seputar vaksinasi.

“Sekitar 22 juta anak Indonesia diimunisasi tiap tahun dan tidak ada masalah. Imunisasi itu aman dan bermanfaat. Untuk itu, segera lengkapi imunisasi bagi yang belum lengkap,” pesannya.

Pekan Imunisasi Dunia kali ini diharapkan juga menjadi momentum yang tepat untuk mendorong kelompok masyarakat lanjut usia untuk melindungi diri dari Covid-19 dengan cara divaksinasi.

“Dari sekitar 21 sampai 22 juta lansia di Indonesia perlu diinformasikan mengenai vaksinasi Covid-19 gratis ini. Pengurus RT/RW, relawan, harus mendatangi rumah-rumah lansia dan menjelaskan manfaat vaksinasi Covid-19 serta dibantu ke lokasi vaksinasi terdekat,” ujar Soedjatmiko.

Sementara juru bicara Covid-19 untuk Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, imunisasi pada anak pada hakekatnya melindungi kelompok usia yang rentan terhadap berbagai penyakit. 

Situasi ini juga sama dengan Vaksinasi Covid 19 yang juga ditujukan kepada lansia, karena itu sangat penting mendorong agar semakin banyak lansia untuk turut berpartisipasi. Saat ini tingkat partisipasi lansia dalam vaksinasi Covid-19 masih terhitung rendah, padahal risiko dan kerentanan mereka sangat tinggi.

Lansia termasuk kelompok berisiko tinggi yang apabila tertular virus Covid-19 akan memperburuk kondisi kesehatan mereka. Tingkat kesakitan dan kematian nya juga 50% lebih tinggi bagi lansia yang terkena Covid-19.

Fatality rate pada golongan usia 50-69  tahun lebih tinggi daripada nonlansia. Kalau dulu kita yang dibawa orang tua untuk mendapatkan imunisasi, sekarang saatnya tangan kita membimbing tangan orang tua kita untuk diberikan perlindungan,“ terang Nadia.

Untuk mendorong partisipasi lansia diperlukan terobosan-terobosan mengingat sejumlah kendala yang lansia hadapi.

“Untuk lansia, kita membutuhkan upaya-upaya yang lebih proaktif untuk mengajak, mendaftarkan, dan menjemput mereka agar dapat ikut serta dalam program vaksinasi. Contohnya di Kediri dan Surabaya, lansia dijemput dengan menggunakan becak dan odong-odong untuk mempermudah mobilisasi peserta vaksinasi. Di daerah lain seperti DKI Jakarta dan Surabaya juga mendekatkan akses vaksinasi lansia dengan cara lurah bersama RT/RW mendata lansia di wilayahnya lalu 
menjemput door to door ke pemukiman warga untuk bisa mendapatkan vaksin,” tutup Nadia.

Berita Lainnya