logo alinea.id logo alinea.id

Dilema putri Jepang, antara cinta dan takhta

Satu per satu putri Jepang memilih meninggalkan singgasana demi cinta pada rakyat jelata, memicu kekhawatiran soal masa depan kekaisaran.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 04 Jul 2018 09:46 WIB
Dilema putri Jepang, antara cinta dan takhta

Putri Ayako (27) dari keluarga Kekaisaran Jepang jadi pusat perhatian pekan ini setelah pada Senin (2/7) ia tampil perdana di hadapan awak media bersama calon suaminya, Kei Moriya. Pasangan itu bicara soal rencana masa depan mereka.

Ayako adalah anak bungsu dari Pangeran Norihito dan Putri Hisako yang merupakan sepupu Kaisar Akihito. Pasangan suami istri ini bergelar Pangeran dan Putri Takamado.

Putri Ayako dan Kei, yang merupakan seorang karyawan di perusahaan ekspedisi NYK Line, bertemu kurang dari satu tahun lalu. Tidak butuh waktu lama bagi sang pria untuk melamar pujaan hatinya. 

Namun Ayako mengisahkan, ia tidak langsung mengiyakan pinangan Kei. Butuh waktu untuk menjawabnya, ungkap perempuan jebolan Josai International University itu.

"Dia meminang saya tahun ini dalam makan malam di sebuah restoran. Itu begitu tiba-tiba, jadi saya meminta waktu untuk berpikir. Menyusul semakin dalamnya hubungan termasuk antar keluarga kami, teman-teman dan pihak-pihak terkait, saya mengambil keputusan dan menerima pinangan ini," ujar Putri Ayako seperti dikutip dari CNN, Rabu (4/7).

Ibu Ayako, Putri Hisako, ternyata telah lebih dulu mengenal orang tua Kei saat ia bekerja di sebuah lembaga non profit lokal. Kemudian Hisako memperkenalkan lembaga swadaya masyarakat tersebut pada Ayako, dengan harapan putrinya akan terinspirasi untuk melakukan kegiatan amal. Namun siapa sangka bahwa berawal dari sana, jalan bagi Ayako dan Kei untuk menuju pelaminan terbuka.

"Saya tidak tahu apa harapan ibu dengan memperkenalkan saya pada Kei," kata Ayako sembari tertawa kecil. "Saya merasa ini merupakan sebuah kesempatan luar biasa yang dipersiapkan oleh ibu kami sebagaimana kami tumbuh dalam rasa ketertarikan satu sama lain lewat banyak acara dan berbagi kenangan." 

Kei, yang ibunya meninggal pada tahun 2015, mengatakan bahwa ia terpesona dengan kebaikan Ayako dan ingin menghabiskan hidup bersamanya.

Sponsored

"Saya merasa semakin dekat dengannya ketika dia menunjukkan pengertiannya atas dampak mental kehilangan sosok ibu," tutur Kei.

Pernyataan Kei diakui Ayako. Sang putri mengatakan bahwa dia merasakan hal yang sama. Bagi Ayako, pengalaman kehilangan membantu mengikat kebersamaan mereka.

"Saya ingin membentuk sebuah keluarga hangat yang dipenuhi tawa. Kami berdua memiliki pengalaman kehilangan orang tua secara tiba-tiba, Kei kehilangan ibunya dan saya kehilangan ayah saya. Kami tidak ingin begitu saja melewati hari, melainkan ingin menemukan kebahagiaan dan kesenangan dalam kehidupan sehari-hari," cerita Ayako.

Secara resmi, pasangan itu akan bertunangan pada 12 Agustus sebelum akhirnya melaksanakan pernikahan di kuil Meiji Jingu pada 29 Oktober mendatang.

Putri Ayako bukan yang pertama

Ayako dan Kei telah mengumumkan rencana pernikahan mereka pekan lalu. Keputusan Ayako untuk menerima pinangan Kei akan memaksa sang putri meninggalkan Rumah Tangga Kekaisaran. Karena di bawah hukum Jepang, bangsawan yang menikah dengan rakyat jelata tidak diizinkan mempertahankan status mereka.

Aturan kontroversial tersebut tidak berlaku bagi bangsawan pria yang menikahi perempuan biasa. Kaisar Akihito dan dua putranya diketahui menikah dengan rakyat jelata.

Tidak lama sebelum Ayako, seorang putri lainnya dari keluarga Kekaisaran Jepang telah lebih dulu mengumumkan menerima lamaran dari kalangan rakyat biasa. Dia adalah Putri Mako (26).

Putri Mako yang merupakan anak Pangeran Akishino, putra kedua Kaisar Akihito, rela melepas gelar kebangsawanannya demi pria bernama Kei Komuro, seorang karyawan di sebuah firma hukum. Pasangan ini mengumumkan pertunangan mereka pada September 2017.

Namun belakangan, pernikahan Putri Mako yang semulai dijadwalkan berlangsung pada November mendatang diundur.

Sebagaimana dilansir BBC yang mengutip Jiji Press, alasan di balik pengunduran pernikahan adalah kurangnya waktu untuk menyusun 'persiapan yang matang'.

Seorang juru bicara Kekaisaran Jepang mengatakan pasangan Mako dan Kei berencana menikah setelah serangkaian upacara turun takhta Kaisar Akihito dan naik takhtanya Pangeran Naruhito, yang tidak lain adalah paman Putri Mako.

Dalam kesempatan yang sama, juru bicara kekaisaran membantah penundaan pernikahan Putri Mako terkait dengan artikel di sebuah majalah yang menyinggung persoalan keuangan yang diduga membelit ibu Kei, calon mertua Putri Mako.

Memilih cinta dan meninggalkan istana juga merupakan keputusan yang diambil oleh Putri Sayako. Ia merupakan putri satu-satunya Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko. Sayako merupakan anak ketiga Akihito, tepatnya setelah Pangeran Naruhito dan Pangeran Akishino.

Pada tahun 2005, Sayako memutuskan menikah dengan Yoshiki Kuroda, seorang perencana tata kota untuk pemerintah kota Tokyo. Pernikahannya keduanya berlangsung sederhana.

Pascadisunting pria biasa, Sayako harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang serba jauh lebih sederhana. Dari istana ia pindah ke apartemen dengan satu kamar tidur.

Keadaan mengharuskannya belajar menyetir, berbelanja di supermarket, hingga membeli perabotan sendiri.

Jika ditarik jauh ke belakang, sejumlah putri Jepang juga menempuh langkah yang sama dengan Sayako, Mako, dan Ayako.

Tiga putri dari Kaisar Hirohito, yaitu Taka, Yuri, dan Suga dikabarkan menikahi rakyat jelata. Ada pun dua putri dari Pangeran Mikasa, saudara laki-laki Kaisar Hirohito, yakni Yasuko dan Masako pun rela melepas gelar kebangsawanannya.

Pada tahun 2014, Putri Noriko, anak kedua dari Pangeran Norihito, dikabarkan menikah dengan Kunimaro Senge.

Kasus di mana seorang putri menikahi orang biasa menjadi persoalan tersendiri di Negeri Sakura. Pasalnya, peristiwa tersebut membuat jumlah anggota keluarga kekaisaran menyusut dengan cepat. Putri Ayako menolak untuk mengomentari isu ini.

"Menurunnya keluarga kekaisaran memang terjadi. Tapi saya menahan diri untuk membuat komentar, termasuk sistem itu sendiri karena saya tidak dalam posisi untuk menjawab pertanyaan itu," ungkap Ayako yang tak henti menebar senyum saat tampil di muka awak media.

Hukum kekaisaran hanya memungkinkan takhta diwariskan kepada anak laki-laki, sementara itu hanya ada tiga pangeran yang tersisa. Pertama adalah Putra Mahkota Pangeran Naruhito, adik laki-lakinya Akishino, dan seorang lagi adalah anak bungsu Akishino, Pangeran Hisahito.

Selain Putri Mako dan Putri Ayako, terdapat putri lain yang saat ini belum menikah. Mereka juga terancam kehilangan gelar kebangsawanan jika memilih menikahi orang biasa. Kemungkinan tersebut memicu kekhawatiran keluarga Kekaisaran Jepang tidak memiliki cukup anggota untuk terus menjalankan tugas-tugas publik.