logo alinea.id logo alinea.id

Organ tubuh yang sensitif dari paparan gas air mata

Daya tahan tubuh menentukan besar potensi gangguan kesehatan akibat gas air mata.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Rabu, 25 Sep 2019 16:02 WIB
Organ tubuh yang sensitif dari paparan gas air mata

Pembubaran unjuk rasa mahasiswa pada Selasa (24/9) dilakukan aparat keamanan dengan cara menembakkan gas air mata. Cara tersebut dipilih bila ratusan anggota Brimob jika tak mampu mengatasi aksi massa. 

Di area depan pintu barat Gedung DPR MPR RI, Jalan Lapangan Tembak, Gelora, Jakarta Pusat, misalnya, sebaran gas air mata dirasakan warga sekitar. Selain itu, beberapa pengendara sepeda motor yang melintas di Jalan Tentara Pelajar di seberang utara Gedung DPR MPR turut merasakan dampak gas air mata, seperti terbatuk-batuk dan bersin-bersin.

Menurut spesialis penyakit paru dr. Feni Fitriani Taufik, umumnya efek dari gas air mata sensitif terhadap organ tubuh berselaput lendir yaitu: mata, hidung, dan tenggorokan. Akibatnya, orang yang terpapar gas air mata akan mengalami iritasi, seperti mata pedih, hidung berair, napas menjadi sesak, dan batuk-batuk.

“Ketika menjadi batuk-batuk, orang di sekitar lokasi yang terpapar gas air mata lantas menghindar atau pindah tempat. Itu seperti respons refleks tubuh untuk melindungi diri terhadap kondisi di luar yang tidak nyaman,” ujar Feni kepada Alinea.id, di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (25/9).

Feni menjelaskan, gas air mata mengandung campuran sejumlah bahan kimia yang bisa membuat iritasi. Dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh gas air mata ditentukan oleh beberapa faktor.

Selain jumlah dan besaran kandungan bahan kimia di dalamnya, efek gas air mata ditentukan oleh seberapa lama bahan kimia di dalamnya terhirup oleh manusia. Selanjutnya, seberapa besar dosis bahan kimia yang terhirup, dan seberapa lama waktu bagi seseorang untuk menjauhi lokasi itu.

Menurut Feni, efek gas air mata harus diwaspadai oleh orang yang berada di dekat tempat penyebaran gas air mata. Dia mengatakan, orang yang berdiri sangat dekat dari tempat tabung gas air mata dilemparkan akan menghirup bahan kimia lebih banyak. Ini berbeda dengan orang yang keberadaannya berjauhan dari tempat gas air mata dijatuhkan.

“Semakin lama kita di situ, maka semakin banyak bahan kimia dari gas air mata yang terhirup,” katanya.

Sponsored

Selain itu, faktor daya tahan tubuh menentukan besarnya potensi gangguan kesehatan akibat gas air mata.

Orang dengan daya tahan tubuh baik, mungkin efeknya kecil. Tetapi pada orang dengan gangguan pernapasan, atau daya tahan tubuh lemah karena saluran pernapasannya sensitif atau fungsi paru sudah tidak bagus, maka efeknya akan lebih berat.

Beberapa kalangan yang termasuk berdaya tahan tubuh lemah, kata Feni, adalah anak-anak, lansia, dan penderita asma. Kelompok tersebut secara umum memiliki daya tahan tubuh lemah atau sudah menurun.