logo alinea.id logo alinea.id

Hancurkan barang solusi meredakan amarah?

Seseorang bisa melampiaskan emosinya dengan menghancurkan barang-barang. Namun, apakah itu solusi?

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Jumat, 05 Apr 2019 21:21 WIB
Hancurkan barang solusi meredakan amarah?

Lagu “Afterlife” milik grup musik Avenged Sevenfold menghentak di dalam ruangan berukuran sekira 3 x 4 meter persegi. Musik itu ikut memancing adrenalin saya untuk menghancurkan sepuluh botol bir kosong menggunakan linggis.

Prang! Prang!”

Satu persatu botol bir hancur. Kira-kira 10 menit, saya sudah membuat botol-botol itu berserak menjadi pecahan.

Ruangan itu diberi nama Rage Room. Sebuah ruangan yang ada di Temper Clinic, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Temper Clinic menyediakan ruang bagi siapa pun yang ingin melampiaskan amarahnya, dengan cara menghancurkan barang, seperti botol bir, televisi, printer, dan monitor komputer.

Tempat ini menyediakan dua jenis paket. Paket pertama untuk seorang pemain disediakan 10 botol kosong dengan harga Rp125.000 dalam durasi 10 menit. Sedangkan untuk dua pemain dikenakan tarif Rp200.000 untuk 20 botol kosong dalam durasi 25 menit.

Pengunjung bisa pula menambah barang lain yang akan dihancurkan, seperti televisi dengan harga Rp75.000 per buah dan printer dengan harga Rp50.000 per buah.

Sebelum menghancurkan barang-barang yang ada di dalam ruangan, pengunjung diberi helm, kacamata, masker, baju pelindung, sepatu bot, dan dua lapis sarung tangan.

Sponsored

Pakaian khusus ini berfungsi melindungi pengunjung dari luka akibat serpihan barang yang hancur. Sedangkan untuk meluluh lantakan barang-barang yang ada, pengunjung diberikan sebuah linggis.

“Enggak semua yang datang ke sini punya masalah psikologis atau apa. Lebih ke ngambil fun-nya aja sih. Tapi pernah ada perempuan datang sambil nangis-nangis ke sini, terus nyoba main. Dia mukulnya sambil teriak-teriak,” kata Roni, salah seorang karyawan Temper Clinic, Kamis (4/4).

Menghindari vandalisme

Pengunjung bisa menghancurkan televisi dengan tambahan biaya di Temper Clinic. /instagram.com/temperclinic.id.

Menurut salah satu pendiri Temper Clinic, Eron, ide membuat tempat pelampiasan amarah ini datang saat ia dan dua pendiri lainnya liburan ke Athena, Yunani pada 2018.

Di negeri para filsuf itu, ia menemukan sebuah tempat untuk orang-orang meluapkan amarahnya dalam satu ruangan khusus. Kemudian berpikir untuk membuatnya di Jakarta.

"Dari sana saya penasaran dan mulai riset-riset. Kan di Jakarta banyak juga orang yang stres sama masalah kemacetan, pekerjaan, atau percintaan," katanya saat dihubungi, Jumat (5/4).

Akan tetapi, Eron mengatakan, tujuan Temper Clinic hanya untuk sarana hiburan. Tempat ini juga didirikan untuk memberikan pesan kepada warga Jakarta agar menjauhi hal-hal yang bersifat vandal.

"Jika memiliki energi berlebih daripada merusak fasilitas umum, merugikan orang lain, dan merusak lingkungan lebih baik datang deh ke tempat kita," ujarnya.

Temper Clinic berdiri pada Agustus 2018. Menurutnya, tempat ini tak punya kaitan secara langsung dengan terapi psikologi. Kata “terapi” dalam tagline-nya, menurut Eron, sekadar strategi marketing.

"Mungkin ada terapi psikologi semacam itu, tapi kita enggak bilang ini jadi satu tempat terapi yang baik. Kalau orang mau melakukan itu, mungkin butuh psikologi guide-lah ya," tutur Eron.

Para pengunjung yang datang ke Temper Clinic, kata Eron, hanya untuk mencari kesenangan dan mencoba pengalaman baru. Eron mengatakan, para pengunjung merasa lega setelah mencoba menghancurkan barang.

"Merasakan experience-nya seperti apa," kata Eron.

Baik untuk psike?

Aneka barang yang bisa dihancurkan pengunjung Temper Clinic. Alinea.id/Nanda Aria Putra.

Ada orang yang melampiaskan emosinya dengan menangis. Ada pula yang puas setelah menghancurkan benda-benda di depan mata.

Menanggapi Temper Clinic, di mana pengunjung bebas menghancurkan barang yang disediakan, dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (Untar) Sandi Kartasasmita mengatakan, memecahkan barang adalah bentuk pelampiasan emosi yang mungkin dilakukan seseorang.

“Saat seseorang melampiaskan emosi dengan menghancurkan barang, orang tersebut meletakkan emosi itu pada barang, lalu dihancurkannya,” kata Sandi saat dihubungi, Jumat (5/4).

Akan tetapi, Sandi mengatakan, hal itu bukanlah solusi yang baik bagi seseorang dalam meluapkan emosi. Ia menjelaskan, dalam ilmu psikologi, untuk menyelesaikan sebuah masalah, seseorang harus mencari solusi dari setiap masalah yang dihadapi.

“Memecahkan barang tidak ada dalam pendekatan psikologi,” ujar dia.

Marah-marah dan menghancurkan barang, menurut Sandi, sangat tidak disarankan. Sebab, hanya menyalurkan energi, tanpa menyelesaikan masalah. Lebih jauh lagi, kata Sandi, meluapkan emosi dengan cara tersebut bisa merusak mental seseorang.

“Hanya akan merusak mental sendiri, bukan memperbaiki,” tutur psikolog dan psikoterapi yang berpraktik di Jakarta ini.

Mental yang dimaksud Sandi, seseorang akan merasa masalah yang dihadapinya telah selesai. Padahal, tidak tuntas sama sekali.

Kenali emosi sendiri

Pengunjung bisa menghancurkan botol-botol bir yang disediakan Temper Clinic menggunakan linggis. Alinea.id/Nanda Aria Putra.

Dihubungi secara terpisah, psikolog dari Yayasan Pulih, Ahastari Nataliza mengatakan, tindakan seseorang menghancurkan benda-benda untuk meluapkan emosi dapat membahayakan dirinya sendiri dan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Tindakan tersebut, dalam kacamata Ahastari tergolong agresif.

“Merugikan sekali ya. Barang dan benda rusak. Dilihat orang juga kasar,” katanya saat dihubungi, Jumat (5/4).

Namun, Ahastari memandang, hadirnya sarana semacam Temper Clinic untuk meluapkan amarah seseorang, tidak ada masalah bila hanya ditujukan sebagai hiburan belaka, alih-alih terapi psikis.

Ahastari memberikan catatan. Jika seseorang sedang kesal, tetapi tidak bisa ke tempat itu, jangan sampai merugikan sekitar.

“Harus tetap punya self control,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ahastari mengatakan, seseorang harus bisa mengendalikan emosi dengan memahami emosi apa yang sedang dirasakannya. Seseorang juga bisa mengendalikan emosi dengan tidak mengabaikan perasaan, apalagi memendamnya.

“Termasuk mengekspresikan dengan sehat dan positif,” kata dia.

Sejumlah orang meluapkan emosi dengan menghancurkan barang.

Selain itu, menurut dosen Universitas Pelita Harapan ini, seseorang tidak boleh berlarut-larut tenggelam terbawa emosi negatif. Metode ini, kata dia, merupakan cara manajemen emosi yang baik. Bukan dengan menghancurkan benda-benda.

Hal senada dikatakan Sandi Kartasasmita. Menurut dia, pengendalian emosi yang baik adalah dengan memahami sumber munculnya masalah yang menghasilkan emosi itu. Selanjutnya, kata Sandi, setelah tahu sumbernya, cari solusi untuk menyelesaikannya.

“Memecahkan barang meredakan emosi, namun tidak menyelesaikan masalah,” tutur Sandi.

 Prabowo dan halusinasi kuasa

Prabowo dan halusinasi kuasa

Kamis, 18 Apr 2019 20:53 WIB
Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Kamis, 18 Apr 2019 14:48 WIB