logo alinea.id logo alinea.id

Hipnoterapi, usaha sembuh psikis dan fisik dengan hipnosis

James Braid dianggap sebagai pelopor hipnotisme dan hipnoterapi yang penting dan berpengaruh.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Kamis, 04 Apr 2019 12:06 WIB
Hipnoterapi, usaha sembuh psikis dan fisik dengan hipnosis

Sebelum dikenal sebagai praktisi hipnoterapi yang berpraktik di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Robbyzal punya pengalaman sembuh dari ketergantungan pada rokok. Ia tak lagi mengisap rokok, sejak berkonsultasi dengan Yan Nurindra, pembimbing sekolah hipnoterapi di Jakarta pada 2011 lalu.

Ia lantas mempertimbangkan dampak buruk merokok yang bisa mengganggu kesehatannya. Ia pun lalu punya kesadaran bahwa merokok lebih memberikan kerugian daripada manfaat.

“(Dahulu) dalam sehari saya bisa menghabiskan rokok sebanyak tiga bungkus. Setelah lepas dari adiksi, saya tertarik mempelajari hipnoterapi lebih dalam,” kata Robbyzal saat ditemui di kliniknya di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (2/4).

Muasal hipnoterapi

Robbyzal berkisah, pada 2013 ia mulai membuka klinik hipnoterapi hanya untuk kenalan dekat dan kerabatnya. Namun, lambat laun orang makin mengenal terapi hipnoterapi sebagai salah satu metode pengobatan alternatif.

Hipnoterapi adalah penyembuhan gangguan jiwa dengan membawa penderita ke suatu keadaan trans agar penderita mengeluarkan isi hatinya. Pengobatan ini mengandalkan ilmu hipnosis.

Dasar ilmu hipnosis dilahirkan dari pemikiran seorang dokter asal Jerman pada 1700-an, Franz Anton Mesmer. Berdasarkan Encyclopedia Britannica Mesmer mengenalkan sistem pengobatan terapeutik yang disebut mesmerisme, cikal bakal praktik modern hipnotisme.

Disertasi Mesmer di University of Vienna pada 1766, banyak meminjam karya dokter Inggris Richard Mead, yang mengemukakan daya tarik gravitasi planet memengaruhi kesehatan manusia, dengan memanfaatkan unsur tak kasat mata yang ada dalam tubuh manusia dan seluruh alam.

Pada 1775, Mesmer merevisi teorinya tentang “gravitasi hewan” menjadi “magnet hewan”, di mana unsur tak kasat mata dalam tubuh bertindak sesuai hukum magnetisme.

“Penyakit adalah hasil dari ‘hambatan’ dalam aliran cairan melalui tubuh, dan hambatan ini dapat dipecahkan oleh ‘krisis’ (kondisi trans, sering berakhir dengan delirium atau kejang) untuk mengembalikan keharmonisan aliran cairan,” tulis Encyclopedia Britannica.

Namun, kata Robbyzal, sesungguhnya dasar pemikiran mengenai hipnosis telah dimulai sejak lampau di zaman Babilonia. Lebih lanjut, menurut Robbyzal, pemikiran Mesmer dikembangkan para pemikir setelahnya, seperti James Braid.

Braid adalah seorang ahli bedah asal Skotlandia. Pada 1842, praktik penyembuhan ala Mesmer mendorong Braid sebagai orang yang pertama kali mencetuskan istilah hipnotisme. Di dalam karyanya Neurypnology (1843), Braid mendefinisikan hipnosis sebagai akronim neuro-hipnotism (saraf tidur).

Braid dianggap sebagai pelopor hipnotisme dan hipnoterapi yang penting dan berpengaruh. Ia dianggap sebagai hipnoterapis pertama dan Bapak Hipnotisme Modern.

Robbyzal membuka klinik hipnoterapi di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Alinea.id/Robertus Rony Setiawan.

Tahap hipnoterapi

Hipnoterapi berfungsi menggali ingatan dari alam bawah sadar si pasien. Robbyzal mengatakan, hal itu karena perilaku manusia cenderung lebih dikendalikan alam bawah sadar. “Kehidupan keseharian kita itu dipengaruhi pikiran alam sadar sebesar 12%, sedangkan alam bawah sadar 88%,” kata dia.

Robbyzal menjelaskan, ada beberapa proses yang harus dijalani saat seseorang menjalani hipnoterapi. Pertama, pasien harus lebih dahulu mengenali persoalan yang sedang dihadapi. Hal ini penting untuk mengawali keterbukaan pasien kepada hipnoterapis, dalam mengisahkan masalah batin yang ia rasakan.

“Kuncinya jujur. Jangan ada yang ditutup-tutupi supaya tekanan dalam dirinya bisa terbuka dan lepas,” tuturnya.

Kemudian, hipnoterapis memberi sejumlah pertanyaan umum yang merangsang pasien untuk bercerita. Tujuannya, untuk menggali dan mengetahui emosi dari peristiwa di masa lalu, yang menjadi penyebab trauma.

Di dalam proses ini, Robbyzal menyarankan agar pasien bersedia mengungkapkan masalah secara terbuka, ikhlas, dan menerima pengalaman yang sudah berlalu. Bila belum diterima dan dilepaskan, kata dia, pasien akan sulit lepas dari bayang-bayang masa lalu.

“Tugas saya memancing agar pasien bercerita sampai emosinya mencapai titik puncak. Setelah itu, emosi dirinya ditenangkan kembali,” ucapnya.

Saat masuk ke masa relaksasi, pasien dituntun untuk fokus pada ingatan atas peristiwa masa lalu. Di dalam proses ini, hipnoterapis mendorong agar pasien mampu menghapus emosi yang mengesankan kepahitan atau kesedihan dari ingatan tersebut.

Bila emosi buruk sudah terhapus, pasien dirangsang lagi untuk mau merefleksikan pembelajaran dari kejadian silam itu. “Kita berikan sugesti positif. Apa makna yang bisa dipetik bagi diri sendiri dari kejadian di masa lalu itu?” ucap Robbyzal.

Robbyzal menegaskan, selain kejujuran, penyembuhan dengan didukung metode hipnoterapi memerlukan sikap rela dalam diri. “Setelah melepaskan kenangan atau pengalaman di masa lalu, kita bisa ikhlas. Artinya menerima kejadian tersebut sudah kita alami,” katanya.