sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Imunisasi harus terus dilakukan untuk cegah wabah ganda

Program imunisasi kembali dioptimalkan untuk mencegah anak-anak mudah terjangkit Covid-19 ataupun penyakit menular lain.

Firda Cynthia
Firda Cynthia Rabu, 10 Jun 2020 08:01 WIB
Imunisasi harus terus dilakukan untuk cegah wabah ganda
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 396.454
Dirawat 60.694
Meninggal 13.512
Sembuh 322.248

Imunisasi menjadi hak kesehatan bagi para anak agar bisa hidup dan berkembang untuk mengejar cita-citanya kelak. Imunisasi juga dapat menjadi penyelamat anak dari ancaman berbagai penyakit.

Namun, selama pandemi Covid-19, penyelenggaraan imunisasi mendadak lumpuh. Banyak pusat layanan kesehatan yang terdampak mengingat adanya kebijakan pembatasan aktivitas secara ketat.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Vensya Sitohang mengatakan, penyelenggaraan imunisasi sangat terdampak akibat pandemi.

"Sesuai survei cepat yang dilakukan Kemenkes pada April, hampir 83,9% pelayanan imunisasi tak dapat dilaksanakan. Baik di posko layanan terpadu (posyandu) ataupun pusat kesehatan masyarakat (puskesmas)," katanya pada Talkshow "Pentingnya Imunisasi Anak di Masa Pandemi Covid-19" di kantor Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta, Senin, (8/6).

Kemenkes telah mengeluarkan kebijakan yang menekankan bahwa imunisasi tetap harus dilaksanakan selama pandemi. Pelaksanaan ini juga dengan memperhatikan protokol kesehatan dan bekerja sama dengan petugas satuan tugas (satgas) Covid-19 setempat.

"Pada waktu pendaftaran, yang sakit dan sehat gak boleh dicampur. Pada saat menunggu harus jaga jarak dan hand sanitizer. Setelah selesai juga harus tetap ada hand sanitizer," jelasnya.

Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota Pengurus Pusat, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Hartono Gunardi, menambahkan lumpuhnya program imunisasi selama pandemi akan beresiko munculnya wabah ganda atau double outbreak.

"Ini sangat berisiko menyebabkan double outbreak. Sudah mengalami Covid-19, ditambah outbreak lain yang padahal seharusnya bisa dicegah oleh imunisasi, seperti campak dan difteri," terangnya.

Sponsored

Hartono menyebut, risiko wabah campak dan difteri akan lebih berbahaya jika terjangkit pada anak. Sebab, satu orang Covid-19 dapat menularkan kepada 1,5 sampai 3,5 orang, namun pengidap campak dapat menularkan hingga ke 18 orang.

"Jangan sampai anak-anak kita terjangkit penyakit difteri dan campak padahal sudah ada vaksinnya. Jadi jangan sampai lupakan imunisasi," ucap dokter tersebut.

Penutupan layanan imunisasi sudah terhitung dua bulan sejak April. Hal ini menyebabkan banyak jadwal rutin imunisasi anak yang terganggu.

"Kita bisa melakukan imunisasi kejar atau catch-up immunization. Jadi sekali imunisasi bisa beberapa vaksin," jelasnya.

Hartono mengingatkan, setelah imunisasi, beberapa anak mungkin akan mengalami demam. Hal ini wajar karena reaksi tubuh anak terhadap vaksin yang disuntikan.

"Demam biasanya terjadi hanya satu sampai dua hari. Itu tidak apa-apa. Jauh lebih bahaya daripada anak tersebut enggak diimunisasi sama sekali," pungkasnya.

 

Berita Lainnya