sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Jalan sunyi seorang perias jenazah

“Perias jenazah merupakan jenis pekerjaan yang erat kaitannya dengan panggilan jiwa."

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Selasa, 16 Jul 2019 18:23 WIB
Jalan sunyi seorang perias jenazah

“Saya merasa ada kepuasaan batin dan kebahagiaan saat merias mayat.”

Begitu kata Gloria Elsa Hutasoit, yang menekuni profesi merias jenazah sejak 2017. Profesi yang digeluti Elsa ini mungkin tak pernah didambakan orang kebanyakan. Namun, bagi Elsa, apa yang ia lakukan bukan perkara uang. Ia menganggap perias jenazah adalah panggilan hidup.

Laili Alfita di dalam tulisannya “Calling Orientation pada Perias Jenazah di Kota Medan", yang terbit di Jurnal International Psychology Education Counseling & Sosial Work Conference (2017), menyinggung perihal profesi ini.

“Perias jenazah merupakan jenis pekerjaan yang erat kaitannya dengan panggilan jiwa. Dikategorikan sebagai calling orientation, seorang perias jenazah cenderung bekerja bukan untuk meraup uang, melainkan bertujuan memuaskan hasrat melayani masyarakat,” tulis Laili.

Mengabdi secara gratis

Semua berawal ketika suaminya menderita sakit keras selama tiga tahun. Saat itu, Elsa semakin rajin pergi ke gereja untuk merapal doa. Di tengah pengalaman spiritual tersebut, Elsa terpanggil untuk membalas kebaikan Tuhan dengan berbuat baik kepada sesama.

“Sepertinya, saya harus mengembalikan apa yang telah Tuhan kasih kepada saya. Tapi, saya enggak punya uang,” tutur Elsa saat ditemui Alinea.id di kediamannya bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/7).

Elsa kemudian mengabdikan hidupnya dengan membuka pelayanan merias jenazah. Ia tak memungut bayaran alias gratis.

Sponsored

Dua tahun lalu, berbekal pengalaman di divisi kedukaan gereja dan keahlian merias jenazah dari ibunya, Elsa aktif merias mereka yang sudah berpulang. Elsa punya alasan mengapa ia menggratiskan jasa merias jenazah.

“Kalau orang Kristen meninggal dunia membutuhkan banyak biaya, dari membeli peti, bunga, gaun, dan jas. Peti mahal, belum tanahnya, dan (biaya) ambulansnya,” ujar Elsa.

Menurut Elsa, tarif jasa merias jenazah termurah sekitar Rp800.000. Biaya tersebut, kata Elsa, tentu akan menjadi beban lebih bagi keluarga yang tengah dirundung duka.

Sejak anak-anak, menurut Elsa, ia suka membantu ibunya yang seorang perawat, mengemban tugas merias, dan memandikan jenazah di gereja. Ia sempat pula ikut kursus merias. Ketika tantenya meninggal, Elsa bergegas merias dan memandikannya. Hasilnya, pengalaman-pengalaman itu membuat ia tak takut dalam menjalani profesinya itu.

“Enggak (takut), toh saya merias tante-tante saya. Sudah ada kedekatan. Ingin banget membuatnya cantik. Sepertinya saya ketagihan. Juga timbul rasa duka cita,” ucap Elsa.

Pada 2018 suami Elsa meninggal. Keadaan finansialnya sempat terpuruk. Meski begitu, Elsa tetap menggratiskan jasa merias jenazah. Ia mengais rezeki dari merias orang-orang yang ingin wisuda dan pesta.

Masalah ongkos transportasi menjadi kendala selama Elsa ingin membantu orang-orang yang memerlukan jasa merias jenazahnya.

“Karena saya tidak dibayar alias gratis, saya kesulitannya jika lokasinya jauh. Paling jauh sih di Cilincing. Naik Grab kena Rp150.000 dari sini. Serta, bila tiba-tiba harus berangkat jam 2 pagi, kan enggak mungkin naik angkot,” ujar Elsa.

Beban biaya pengadaan alat make up pun jadi penghalang lainnya. Ia mengakali dengan rajin mention selebgram yang mubazir membuang make up tak terpakai. Namun, semua mengabaikan. Usaha berikutnya, ia mengunggah permintaan pengumpulan make up bekas dan penawaran jasa rias jenazah gratis di akun Facebook pada Januari 2018.

“Tak disangka, unggahan itu menyebarluas. Unggahan itu juga disebarluaskan seorang selebtwett. Lalu, banyak media mewawancarai saya. Saya jadi kebanjiran kiriman make up,” tuturnya.

Tak hanya make up bekas, ia pun mendapatkan kiriman beauty case, make up baru, uang, dan make up sekali pakai. Elsa pun menerima make up kedaluwarsa.

"Expired setahun atau dua tahun bisa. Tapi, kalau sudah lebih dari itu susah banget dipakainya," katanya.

Pengalaman

Elsa mengatakan, seorang perias jenazah harus paham setelah meninggal berapa jam jenazah harus dirias. Bila wafat lebih dari dua jam, kulit jenazah akan dingin dan bedak sangat sulit masuk.

“Jadi, jauh lebih sulit daripada merias jenazah yang wajahnya hancur akibat kecelakaan,” ujarnya.

Elsa mengatakan, selalu berusaha mempersembahkan riasan jenazah yang indah. Tak sekadar menunaikan kepercayaan pengantin Kristus harus berpulang dalam keadaan elok semata, merias jenazah menurutnya bertujuan pula agar tak membuat pelayat ketakutan.

“Dan diharapkan mampu meredam kesedihan keluarga yang ditinggalkan,” katanya.

Selama menekuni profesi perias jenazah, Elsa acap kali mengerjakan sesuai permintaan dari keluarga jenazah, seperti blush on, bulu mata palsu, atau wig, asalkan masih wajar. Elsa mengenang pengalaman lucu saat merias jenazah seseorang yang banyak maunya.

“Maunya yang heboh, seperti mau ke pesta saja. Yang satunya minta sasaknya ditinggikan. Tapi, satunya lagi malah melarangnya. Yang satunya minta dipakaikan sanggul, yang satunya lagi enggak. Jadi, saya yang bingung dan akhirnya bilang gini, ‘Tante gimana kalau kita tanyakan saja pada jenazahnya, maunya bagaimana?’” tuturnya diiringi tawa.

Ia pun punya pengalaman memilukan saat merias seseorang yang tewas bunuh diri. Kasus bunuh diri kerap dirahasiakan karena dinilai keluarga memalukan. Ia pun gelisah sebelum mendandani jenazah itu. Membuatnya harus mengisap rokok terlebih dahulu.

“Seperti ada sesuatu yang disembunyikan, aura depresi dan perasaan perih. Apalagi, lebih susah meriasnya. Lidahnya menjulur. Jadi, semuanya harus dilekatkan pakai lem korea sebelum semua lubang ditutup kapas,” ujar Elsa.

Meski kasus seseorang yang bunuh diri membuatnya merinding, namun Elsa tetap menyukai pekerjaan merias jenazah. Sebab, merias jenazah menenangkan batinnya. Ia mengaku paling senang merias jenazah orang yang sudah berumur.

“Tugasnya sudah selesai. Anak-anaknya sudah menikah dan memiliki cucu. Sudah pasti tersenyum,” tutur Elsa.

Lebih lanjut, Elsa menjelaskan, bagian penting saat merias jenazah ialah membisikan permintaan izin agar Tuhan memberkatinya. Elsa bersyukur, bisa menolong, tertolong, dan ditolong orang lain.

Baginya, menolong seharusnya tidak mempertimbangkan masalah agama. Ia pernah merias jenazah orang Tionghoa, penganut Buddha, dan Konghucu. Bahkan, seringkali koleganya meminta dirinya membantu memandikan jenazah seorang Muslim secara medis di masjid dekat rumahnya.

Menurut Elsa, perias jenazah di rumah duka sekitar kawasan Jakarta terbilang banyak. Namun, kebanyakan sudah lanjut usia. Tergugah mengatasi persoalan regenerasi perias jenazah, Elsa pun membuka kursus merias jenazah gratis di rumahnya. Ia telah menyiapkan waktu luang dan make up untuk latihan.

“Nanti, saya berikan sebagian make up yang telah orang kasihkan ke saya. Tinggal datang, saya kasih nih alat tempurnya,” tutur Elsa.