Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan pekerja tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Jobstreet by SEEK bertajuk Workplace Happiness Index.
Laporan tersebut disusun berdasarkan survei daring yang dilakukan lembaga riset Nature pada Oktober hingga November 2025 terhadap sekitar 1.000 responden berusia 18 hingga 64 tahun yang aktif di pasar kerja Indonesia.
Hasil survei menunjukkan, 82% pekerja di Indonesia menyatakan merasa cukup atau sangat bahagia di tempat kerja. Angka ini jauh melampaui negara lain di Asia Pasifik, seperti Hong Kong 47%, Singapura 56%, dan Australia 57%.
Tak hanya itu, 86% pekerja Indonesia merasa dihargai, sementara 75% menyatakan pekerjaan mereka memberikan kepuasan batin fulfilling.
Meski gaji lebih tinggi masih menjadi keinginan utama bagi 54% pekerja, laporan ini menegaskan bahwa kebahagiaan kerja tidak semata ditentukan oleh pendapatan.
Faktor yang paling berkontribusi terhadap kebahagiaan pekerja Indonesia meliputi hubungan dengan rekan kerja atau tim 77%, lokasi tempat kerja 76%, serta tujuan kerja atau rasa bermakna dalam pekerjaan 75%.
Data ini menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja atau work-life balance dan rasa memiliki tujuan atau purpose memainkan peran kunci dalam menjaga kebahagiaan jangka panjang.
Di balik tingginya tingkat kebahagiaan, laporan ini juga menyoroti tantangan serius yang masih dihadapi pekerja di Indonesia. Sebanyak 44% responden mengaku mengalami stres, sementara 56% merasa terbebani oleh tuntutan pekerjaan.
Kepemimpinan senior juga menjadi faktor penting, namun tingkat kepuasan di aspek ini baru mencapai 64%. Angka tersebut menunjukkan masih perlunya peningkatan transparansi dan komunikasi dua arah antara manajemen dan karyawan.
Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director Jobstreet by SEEK Indonesia, mengatakan gaji kompertitif memang penting untuk menarik kandidat, namun kebahagiaan jangka panjang lebih mungkin tercapai ketika karyawan merasa pekerjaan mereka memiliki makna dan mereka memiliki keseimbangan untuk menikmati hidup di luar pekerjaan.
“Pemimpin perusahaan memiliki peran krusial untuk menjembatani kesenjangan ini dengan membina komunikasi yang terbuka dan mengakui pencapaian setiap individu secara lebih transparan,” tambahnya.
Selain itu, laporan ini juga mengungkap adanya kesenjangan kebahagiaan atau happiness gap antar generasi. Gen X menjadi kelompok paling bahagia dengan tingkat kepuasan 85%, disusul Milenial sebesar 84%.
Sementara itu, Gen Z yang baru memulai karier mencatat tingkat kebahagiaan terendah di angka 76%. Kelompok ini dinilai masih kesulitan merasa dihargai dan mengaitkan pekerjaan sehari-hari dengan tujuan jangka panjang.
Bagi Gen X dan Milenial, kebahagiaan banyak dipengaruhi oleh hubungan tim yang solid dan ritme kerja yang stabil. Sebaliknya, Gen Z cenderung merasa kurang dihargai dan kesulitan mengaitkan tugas harian dengan tujuan jangka panjang, menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan dalam mengelola talenta muda.
Dari sisi industri, sektor teknologi mencatat tingkat kebahagiaan tertinggi dengan angka mencapai 93%. Rasa bangga terhadap tempat kerja dan kejelasan tujuan menjadi pendorong utama di sektor ini.
Secara geografis, Jabodetabek muncul sebagai wilayah dengan pekerja paling bahagia 87%. Sebaliknya, wilayah barat Indonesia mencatat tingkat kebahagiaan terendah di angka 75%, dipengaruhi oleh faktor pendapatan dan keterbatasan akses fasilitas kerja.
Wisnu menegaskan capaian indonesia dalam kebahagiaan kerja merupakan cerminan dari budaya optimisme dan positif yang kuat di tanah air,
Meski begitu, dia juga menginatkan kepada para perushaan agar tidak terlena sebab angka burnout di Indonesia tergolong tinggi mencapai 43% dan kekhawatiran terhadap AI merupakan alarm bagi para pemberi kerja untuk bertindak proaktif.
“Kebahagiaan yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika perusahaan mampu menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan mental karyawan,” tutur Wisnu.