sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kerentanan kesehatan jiwa pada anak dan remaja saat pandemi

Situasi yang tidak normal saat pandemi, rentan membuat kesehatan jiwa anak dan remaja terganggu.

Firda Cynthia
Firda Cynthia Senin, 20 Jul 2020 18:08 WIB
Kerentanan kesehatan jiwa pada anak dan remaja saat pandemi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 404.048
Dirawat 60.569
Meninggal 13.701
Sembuh 329.778

Menurut data Satgas Covid-19 per 19 Juli, 8,1% kasus positif Covid-19 terjadi pada anak. Selain rentan terhadap paparan Covid-19, pandemi juga rentan memberi tekanan emosional kepada anak-anak dan remaja, seperti muncul rasa takut yang berlebihan dan kebosanan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan Fidiansjah mengatakan, proses belajar jarak jauh atau belajar dari rumah juga dapat membawa risiko masalah kesehatan jiwa dan gangguan jiwa anak saat pandemi Covid-19.

Hal itu terkonfirmasi berdasarkan studi "Penilaian Cepat Dampak Covid-19 dan Pengaruhnya Terhadap Anak Indonesia". Di mana selama proses belajar dalam masa pembelajaran jarak jauh, hanya 68% anak yang punya akses terhadap jaringan daring itu sendiri.

Selain itu, anak dan remaja usia sekolah juga harus mengalami proses belajar sendiri. Masih dari studi yang sama, 37% anak tidak bisa mengatur waktu belajar, 30% anak kesulitan memahami pelajaran, dan 21% anak tidak memahami instruksi guru.

Fidiansjah menambahkan, anak usia sekolah juga harus disiplin menerapkan berbagai protokol Covid-19 seperti menjaga jarak, pakai masker, dan tidak berkumpul. Hal ini, dapat membawa rasa stres tersendiri bagi setiap anak karena adanya perubahan yang tidak biasa dilakukan. Dampaknya, tekanan psikososial meningkat di kalangan anak dan remaja. Bahkan, beberapa anak juga mengalami kekerasan fisik dan kekerasan verbal.

Pemerhati Kesehatan Jiwa Anak UNICEF Ali Aulia Ramly mengatakan, kekerasan yang meningkat di dalam rumah di saat pandemi dapat menyebabkan tekanan psikologis.

"Kekerasan emosional misalnya, menjelek-menjelekkan atau merendahkan si anak. Belum lagi kekerasan fisik ketika kita (pengasuh) berpikir kalau kita mencubit anak adalah untuk mendidik atau mendisiplinkan," kata Ali Aulia pada Talkshow bertajuk "Status Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja di Masa Pandemi” di kantor Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (20/7).

Ia memaparkan, beberapa perubahan kondisi jiwa rentan terjadi di saat pandemi. Misalnya, mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan motivasi. Ini masih menjadi gejala umum yang sebetulnya normal ketika seseorang berada di situasi yang tidak normal.

Sponsored

"Tetapi kalau sampai berkepanjangan, maka butuh dukungan dari spesialis," lanjutnya.

Orang tua atau pengasuh dapat menghubungi layanan kesehatan jiwa jika perlu penanganan profesional. Saat ini, BNPB menyediakan layanan konsultasi psikologi Sehat Jiwa (Sejiwa) di nomor 119 ext. 8. Selain itu juga bisa melalui layanan psikologi lainnya seperti Halodoc dan Sehat Sedia.

Berita Lainnya