sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kisah penjaga harapan pasien dan upaya mencegah risiko kanker

Di Indonesia, angka penyakit kanker berada di 136,2 per 100.000 penduduk.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Rabu, 15 Jan 2020 19:05 WIB
Kisah penjaga harapan pasien dan upaya mencegah risiko kanker
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1986
Dirawat 1671
Meninggal 181
Sembuh 134

Kanker masih menjadi penyakit mematikan nomor dua di dunia, setelah penyakit jantung. Penelitian Globocan mencatat, pada 2018 terdapat 18,1 juta kasus baru kanker, dengan angka kematian sebesar 9,6 juta jiwa.

Di Indonesia, angka penyakit kanker berada di 136,2 per 100.000 penduduk. Hal ini membuat Indonesia berada di urutan ke delapan di Asia Tenggara dan 23 di Asia untuk kasus kanker.

Risiko kematian nyatanya tak membuat pasien kanker dapat leluasa berobat. Penderita kanker mesti mengatre untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit, yang terbatas fasilitas dan kamarnya.

Direktorat Jenderal (Ditjen) Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, pada 2018 hanya ada tiga rumah sakit khusus kanker di Indonesia, dengan jumlah tempat tidur sebanyak 609. Hal itu membuat pendamping dan pasien kanker harus mencari rumah singgah sembari menunggu.

Edi adalah salah seorang pasien kanker yang intensif berobat. Sudah dua setengah bulan ia tinggal di rumah singgah Cancer Information and Support Center Association (CISC) di Jalan Anggrek Neli Murni 2 Blok C, Palmerah, Jakarta Barat.

Letak rumah singgah ini tak jauh dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, hanya sekitar 1,8 kilometer. Edi merupakan pasien kanker tulang asal Lampung. Di sini, ia tinggal bersama istrinya. Pekan depan, Edi akan menjalani kemoterapi untuk kelima kalinya di RS Dharmais.

“Di sini sudah seperti keluarga, baik semua,” tutur Edi saat ditemui reporter Alinea.id di rumah singgah CISC, Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (14/1).

“Penjaga” harapan pasien kanker

Sponsored

Rumah Anyo, salah satu rumah singgah pasien kanker di Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (14/1/2020). Alinea.id/Manda Firmansyah.

Mega merupakan salah seorang pengurus rumah singgah CISC. Sudah 11 tahun ia bekerja di sini. Menurut Mega, rumah singgah CISC dihuni pasien kanker dari peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan) kelas dua atau tiga yang berasal dari luar Kota Jakarta.

“Jumlah pasien yang bisa ditampung di sini sekitar 13-14 orang, plus pendamping,” ujar Mega saat dihubungi, Selasa (14/1).

Setiap pasien harus membayar Rp10.000 per hari jika ingin menginap di rumah singgah ini. Mega mengatakan, rumah singgah ini masih mengontrak. Selain di sini, terdapat dua rumah singgah CISC lagi di Jakarta, yakni di Jalan Anggrek Neli Murni VII B, Palmerah, Jakarta Barat, serta di daerah Paseban, Senen, Jakarta Pusat. Mega bahagia bekerja mengurus pasien kanker yang ingin berobat ke RS Dharmais.

“Banyak suka daripada dukanya. Tidak ada beban,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Komunitas Taufan Andriana Suhardjono mengatakan, pasien kanker perlu diberi dukungan. Sebab, beragam informasi tentang harapan hidup pasien kanker sudah menggerus optimisme mereka untuk bisa sembuh.

“Kalau tidak didukung, mereka akan merasa menjadi orang paling sial sedunia,” ujar Andriana saat ditemui di sekretariat Komunitas Taufan, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (13/1).

Relawan di Komunitas Taufan bekerja mendampingi sebanyak mungkin keluarga pasien anak penderita kanker dan penyakit berisiko lainnya. Hingga kini, Komunitas Taufan sudah memiliki 500 relawan, yang tersebar di Jabodetabek. Berdiri pada 16 Desember 2013, komunitas ini sudah membantu lebih dari 1.000 pasien kanker.

Menurut Andriana, pasien kanker masih memiliki kesadaran rendah untuk berobat. Pendampingnya pun kadang pesimis. Kendala administrasi dan beban biaya pun jadi halangan. Komunitasnya, kata dia, selain mendampingi juga memberikan donasi untuk pasien kanker. Donasi tersebut berasal dari donatur mereka.

“Pihak rumah sakit (sering) mengontak kita karena mereka tahu, yayasan kita yang paling fleksibel dalam melihat kondisi dan situasi lapangan,” tutur Andriana.

Penderita meningkat

Dokter spesialis urologi dari RS Dharmais Rachmat Budi Santoso yang sejak 2006 menangani pasien penderita kanker, memberikan gambaran mengenai salah satu penyakit pembunuh berbahaya ini. Ia mengatakan, setiap orang mewarisi sel-sel kanker dari silsilah anggota keluarga yang lebih tua.

“Bila gaya hidupnya tidak sehat, maka faktor penyebab kanker pada seseorang akan lebih termanifestasi,” kata Rachmat saat dihubungi, Selasa (14/1).

Menurut Rachmat, ada kecenderungan jumlah pasien kanker meningkat dari tahun ke tahun. Ia mengatakan, pada 2006 pasien dengan keluhan kanker yang berobat kepadanya sehari sekitar lima hingga enam orang. Akan tetapi, belakangan jumlah itu bertambah hingga enam kali lipat.

“Sekarang ini, setiap hari bisa 25 hingga 30 orang pasien,” ucapnya.

Di samping itu, Rachmat mengungkapkan, ada perubahan profil pasien penderita kanker. Ia mencatat, awal 2020 usia penderita kanker lebih muda. Belum lama ini, Rachmat menerima pasien penderita kanker kandung kemih atau prostat, berusia 27 tahun.

“Kanker prostat itu umumnya diderita orang berusia 50-an tahun. Jadi, selain jumlah penderita kanker meningkat terus, usia penderita pun bergeser ke yang lebih muda,” kata dia.

Selain kanker prostat, Rachmat menyebut, ada peningkatan serupa pada pasien kanker leher rahim atau serviks dan kanker payudara.

 

Merujuk riset kesehatan dasar (riskesdas) Kemenkes 2018, prevalensi kanker di Indonesia memang meningkat, dari 1,4 per 1.000 penduduk pada 2013 menjadi 1,79 per 1.000 penduduk pada 2018.

Angka kejadian kanker tertinggi di Indonesia untuk laki-laki adalah kanker paru, sebesar 19,4 per 100.000 penduduk, dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk. Lalu, kanker hati, sebesar 12,4 per 100.000 penduduk, dengan rata-rata kematian 7,6 per 100.000 penduduk.

Sementara angka kejadian kanker untuk perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara, sebesar 42,1 per 100.000 penduduk, dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk. Kemudian, kanker serviks sebesar 23,4 per 100.000 penduduk, dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.

Terkait kanker serviks, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Cut Putri Arianie mengatakan, deteksi dini kanker serviks bisa dilakukan dengan memeriksa kesehatan. Selain itu, untuk mengetahui risiko terkena kanker serviks, bisa dilakukan inspeksi visual asam asetat (IVA) dan pap smear test.

“Ada empat pilar penanganan kanker, yaitu promosi kesehatan, deteksi dini, perlindungan khusus, dan pengobatan,” kata Cut Putri saat dihubungi, Rabu (15/1).

Baik Cut Putri maupun Rachmat sepakat bahwa pelayanan kesehatan khusus kanker di RS Dharmais merupakan yang terbaik se-Indonesia. Di Indonesia jumlah rumah sakit khusus kanker tak banyak. Selain di RS Dharmais, ada MRCCC Siloam Hospitals Semanggi.

Kata Rachmat, melalui proses akreditasi rumah sakit, RS Dharmais telah memenuhi standar pelayanan kesehatan yang prima. Mengenai kecenderungan sebagian masyarakat Indonesia yang berobat kanker ke rumah sakit di negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, Rachmat menilai, hal itu berkaitan dengan pilihan mendapatkan kenyamanan pelayanan bagi pasien.

Ia mengatakan, sejumlah rumah sakit di Penang, Malaysia, cukup baik dengan menyediakan layanan antar-jemput pasien dari bandar udara ke tempat penginapan dan rumah sakit.

Menurut Rachmat, hal itu sedang dikembangkan dirinya bersama beberapa dokter ahli kanker lain di Indonesia. Program semacam itu dinamakan wisata medis.

“Jadi di bandara sudah disiapkan fasilitas penjemputan pasien,” kata Rachmat.

Pentingnya deteksi dini

Suasana di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta Barat, Selasa (14/1/2020). Alinea.id/Robertus Rony Setiawan.

Perihal upaya perlindungan khusus, kata Cut Putri, Kemenkes sudah melaksanakan imunisasi pencegahan risiko kanker serviks. Imunisasi ini dilakukan untuk perempuan berusia 11 hingga 12 tahun. Hingga kini, imunisasi baru diujicoba di beberapa kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Terkait dengan deteksi dini kanker, Rachmat mengatakan, kesadaran masyarakat Indonesia masih rendah. Hal ini dipengaruhi sifat penyakit kanker yang sulit diantisipasi kemunculannya. Umumnya, kata dia, pasien kanker yang berobat ke rumah sakit setelah mengalami gejala cukup parah dan mencapai stadium lanjut.

“Gejala kanker stadium satu, sulit diantisipasi karena sulit diketahui penyebabnya. Kanker stadium satu dalam setiap orang juga tidak dapat dirasakan atau terlihat gejalanya secara fisik,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya melakukan cek kesehatan menyeluruh secara rutin, setidaknya setahun sekali. Pengecekan kesehatan ini bertujuan untuk mencegah seseorang berpotensi mengidap kanker.

Bila kemunculan awal penyakit kanker tidak segera ditangani, ia khawatir akan menjadi parah dan menimbulkan keluhan fisik.

“Bila pemeriksaan dokter memunculkan hasil yang keluar dari ukuran normal, maka dilakukan pengecekan lebih lanjut. Tujuannya untuk mengetahui apa yang menyebabkan kondisi tidak normal, apakah itu anomali biasa atau memang ada potensi kanker,” katanya.

Ia menjelaskan, pengecekan kesehatan menyeluruh untuk mendeteksi potensi kanker stadium satu mencakup rontgen, ultrasonography (USG), dan cek laboratorium. Dalam setiap cek kesehatan tersebut, terdapat standar kesehatan untuk mengetahui kondisi normal atau tidak.

Misalnya, pada deteksi dini kanker prostat, ada pengecekan prostate specific antigen (PSA). Standar normal, kata Rachmat, jika kandungan antigen dalam setiap satu mililiter air seni tak lebih dari empat nanogram.

“Bila seseorang kencing dengan sehat, tetapi nilai antigennya di atas empat nanogram per mililiter, kami curigai ada kanker,” katanya.

Selanjutnya, seseorang yang dicurigai berpotensi terkena kanker itu dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan biopsi. Hal ini dilakukan melalui pengambilan sampel jaringan untuk mendiagnosis potensi penyakit kanker, penanganan, pengobatan, atau terapi yang tepat bagi pasien.

Rachmat mengakui, selain kesadaran masyarakat menjalani deteksi dini relatif rendah, sistem asuransi kesehatan di Indonesia kurang memihak upaya pencegahan penyakit kanker. Ia menyayangkan, jasa asuransi kesehatan lebih berurusan pada tanggungan biaya pengobatan.

“Sistem pelayanan dan asuransi kesehatan kita tak mendukung deteksi dini. Padahal kalau mendukung deteksi dini, biaya yang dikeluarkan warga lebih murah. Sebaliknya, kalau sudah menderita kanker stadium lanjut, biayanya akan lebih berat,” tuturnya.

Lebih lanjut, menurut Rachmat, layanan BPJS Kesehatan cukup mampu meringankan beban biaya pengobatan. Di RS Dharmais, kata dia, setiap pasien penderita kanker bisa menggunakan jasa BPJS Kesehatan untuk biaya perawatan dengan mudah, melalui daring.

“Kami tidak memilih-milih pasien lagi, entah dibayar sendiri atau dengan BPJS. Selama dia punya kartu BPJS, seluruhnya biaya ditanggung,” kata dia.

Infografik kanker paru. Alinea.id/Firgiawan.

Ia menguraikan, penyakit kanker dapat ditangani dengan tiga macam metode penyembuhan, yakni operasi, radiasi, dan kemoterapi. Pilihan pengobatan itu ditentukan berdasarkan diagnosis atas jenis kanker yang diderita pasien.

Sementara itu, perihal risiko kanker faktor genetik, Rachmat menyarankan pentingnya mencegah potensi terkena penyakit kanker pada tingkat lanjut. Hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan pola hidup sehat, kesadaran cek kesehatan secara rutin, dan melakukan kontrol deteksi dini.

Dari sisi gaya hidup, kata dia, beberapa perilaku tak sehat akan memperbesar peluang terkena kanker, seperti waktu istirahat yang kurang dan tekanan psikologis atau stres, yang membuat sulit mengendalikan emosi.

Konsumsi makanan cepat saji dan minuman bersoda, menurut Rachmat, harus dihindari. Kebiasaan merokok dan konsumsi zat-zat berbahaya, kata Rachmat, dapat dipastikan akan berdampak potensi kanker.

Sebenarnya, risiko kanker bisa ditekan dengan meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan. Rachmat mengibaratkan, gen kanker dalam tubuh setiap orang layaknya sebatang lilin yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya.

On atau off-nya tergantung sikap kita, apakah menyalakannya atau mencegah potensinya dengan berperilaku hidup sehat,” katanya. (Ron)

Berita Lainnya