logo alinea.id logo alinea.id

Libur puasa usul Sandiaga Uno sudah ada sejak zaman kolonial

Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno saat kampanye pernah mewacanakan akan menerapkan libur puasa jika terpilih.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Rabu, 15 Mei 2019 03:23 WIB
Libur puasa usul Sandiaga Uno sudah ada sejak zaman kolonial

Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno saat kampanye pernah mewacanakan akan menerapkan libur puasa jika terpilih. Sandiaga Uno berharap, libur puasa selama sebulan dapat digunakan untuk mengikut pesantren kilat.

"Ya, tentunya ini adalah salah satu terobosan yang akan kita bawa. Saya waktu masih muda pernah merasakan libur, dulu, saat Ramadan dan waktu anak-anak saya masih kecil, sekolah di Al-Azhar, waktu itu juga libur sebulan penuh," kata Sandiaga usai menghadiri konsolidasi juru kampanye nasional BPN Prabowo-Sandi di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Jumat (15/3).

Namun, wacana libur puasa untuk anak sekolah bukanlah sejak era pemerintahan Gusdur, melainkan sudah dari masa kolonial Belanda. Libur puasa anak sekolah erat kaitannya dengan perkembangan sekolah-sekolah Eropa di Hindia Belanda pasca Politik Etis. 

Mulanya, wacana libur puasa terlontar dari mulut Mohammad Husni Thamrin, anggota Dewan Rakyat (Volksraad) terpilih pada 1927.

“Atas inisiatif Pak Thamrin, pertemuan diadakan hari ini untuk membahas apa yang disebut Liburan Poeasa. Dari sisi pemerintah kota Batavia, ide Liburan Poeasa bertepatan dengan liburan sekolah-sekolah Eropa. Perwakilan dari asosiasi lokal P.S.I, Moehammadiyah, Pasundan, dan Boedi Oetomo turut diundang ke pertemuan tersebut,” tulis Bataviaasch Niewsblad edisi 19 Januari 1930.

Perwakilan dari asosiasi lokal P.S.I dan Moehammadiyah, tulis Bataviaasch Niewsblad edisi 19 Januari 1930, menentang usulan Liburan Poeasa tersebut dengan alasan keagamaan. “Bahwa anak-anak tidak akan berpuasa di bulan Puasa bukanlah alasan untuk membuat mereka pergi ke sekolah.”

Terutama di sini di Batavia, tulis Bataviaasch Niewsblad edisi 19 Januari 1930, kehidupan beragama sangat harmonis dalam beberapa tahun terakhir. 

Menurut asosiasi lokal P.S.I dan Muhammadiyah, anak-anak tetap diperbolehkan berpuasa ataupun memilih tidak berpuasa dengan alasan usia yang masih terlalu muda. Sebab, anak-anak belum sepenuhnya menyadari beban berat puasa.

Sponsored

Sebaliknya, perwakilan dari Pagoeyoeban Pasoendan sepenuhnya mendukung usulan dan maksud dari pembicaraan dalam pertemuan tersebut. Namun, pagoyoeban yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial-budaya, politik,ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan ini, juga ingin mengajukan keberatan teknis.

Menurut Pagoeyoeban Pasoendan, di bulan Juni, anak didik dari kelas 7 akan terhenti setengah semester apabila liburan puasa diberlakukan. Sebab, bulan pertama masuk, mereka telah terjegal libur puasa sebulan penuh.

“Mengubah jam masuk sekolah dari jam 9 menjadi jam 12 di bulan Poeasa secara alami memerlukan pengurangan dalam studi. Sementara di samping itu, anak-anak yang tinggal di rumah bersama dengan orang tua yang berpuasa akan mengantuk (7 pagi sampai 8 pagi) dan saur (2 sampai 3 pagi) keesokan paginya mengantuk pula di sekolah, sehingga mereka hanya akan mengambil sedikit dari apa yang diajarkan,” tulis Bataviaasch Niewsblad.

Sementara Boedi Oetomo yang dianggap netral dari pengaruh pertimbangan agama, setuju dengan usulan liburan puasa dengan meninjau padangan dari pendiri Taman Siswa Ki Hajar Dewantara. Boedi Oetomo bersikukuh, bahwa anak-anak Muslim harus dihormati dan diberi kesempatan untuk menjalankan agama mereka.

“Boedi Oetomo setuju dengan pandangan Ki Hadjar Dewantara ini dan bahkan mengusulkan untuk memperpanjang liburan Poeasa menjadi 40 hari, bukan 35 hari. Perwakilan Boedi Oetomo menyatakan keheranannya terkait inisiatif pemerintah Kota Batavia dalam mengajukan proposal semacam itu (penghapusan liburan Poeasa), sementara pemerintah kolonial bahkan tidak memikirkannya,” masih dalam tulisan yang sama.