logo alinea.id logo alinea.id

Mengungkap jiwa liris dalam puisi Lirih Amir Hamzah

Sepintas kita diajak berkelana ke dalam suasana di Langkat, sebuah daerah di wilayah Sumatra Timur—atau Binjai, Sumatra Utara, kini.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Minggu, 03 Feb 2019 16:40 WIB
Mengungkap jiwa liris dalam puisi Lirih Amir Hamzah

Seorang anak lelaki berlatih silat ditemani gurunya. Dalam iringan bunyi saluang, satu-dua gerakan kuda-kuda mereka latihkan bersama-sama.

Ijang Widjaja, guru silat itu, memberi wejangan yang menyemangati si bocah yang kelak dikenal sebagai Amir Hamzah, “Menjadi pesilat bukan untuk membunuh. Justru untuk menahan hawa nafsu dan kebencian.” Si bocah tak mengerti sebab di pikirannya, tentu bersilat membawa pesan kemarahan dan kebencian pada lawan.

Adegan pembuka pertunjukan teater bertajuk “Nyanyi Sunyi Revolusi” yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (2/1) itu menggamit perhatian penonton sejak awal.

Sepintas kita diajak berkelana ke dalam suasana di Langkat, sebuah daerah di wilayah Sumatra Timur—atau Binjai, Sumatra Utara, kini. Dengan mengangkat kisah hidup dan karya puisi-puisi penyair Amir Hamzah—yang digelari Raja Pujangga Baru oleh HB Jassin—pertunjukan ini cukup membuat keingintahuan publik bergejolak. Bahkan mungkin pula akan merasa asing dengan lakon itu.

Iswadi Pratama didaulat menyutradarai pertunjukan yang diproduksi oleh Titimangsa Foundation ini. Iswadi menjelaskan, dibandingkan Chairil Anwar dan penyair-penyair Indonesia lainnya, Amir Hamzah adalah penyair yang kurang dikenal masyarakat.

Amir Hamzah meninggalkan karya kumpulan puisi Buah Rindu (1937) dan Nyanyi Sunyi (1943). Di pertunjukan teater ini, kisah hidup Amir yang terombang-ambing dalam dua persoalan, yakni cinta dan perjuangan revolusi Indonesia, ditampilkan secara puitik. Banyak permainan para aktor, dialog, dan sajian tata panggung yang berkesan liris, laiknya ruh puisi-puisi Amir Hamzah.

Amir yang menjadi pelopor perkembangan Sastra Melayu Baru, harus jadi tumbal dari revolusi sosial yang pecah di Langkat kala 1946. Dia dianggap putra Kesultanan Langkat yang memihak kepentingan kolonial hanya lantaran bekerja di Kerajaan Belanda.

Padahal sesungguhnya dia tetap memihak Republik sembari giat memopulerkan bahasa dan sastra Melayu. Di selisip keinginan untuk terus memperjuangkan bahasa Melayu, dia juga berutang budi pada Kesultanan Langkat yang telah banyak membiayai hidupnya.

Sponsored

Kecuali itu, percintaannya dengan Ilik Sundari, teman sesama menjadi murid di Algemene Middelbare School atau AMS di Solo, Jawa Tengah, terputus di tengah jalan. Amir memilih harus kembali ke Kesultanan Langkat dan dinikahkan dengan Tengku Kamaliah.

Pertunjukan ini dilangsungkan pada 1–3 Februari 2019 di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta. Amir Hamzah diperankan oleh Lukman Sardi, aktor kawakan yang telah banyak bermain dalam film layar lebar. Dalam lakon ini, aktris Prisia Nasution turut bermain sebagai Tengku Tahura, putri Amir Hamzah.

Selain Iswadi Pratama, produser Happy Salma juga menggaet sejumlah pemain Teater Satu Lampung, di antaranya Desi Susanti sebagai Tengku Kamaliah dan Aliman Surya (Idjang Widjaja). Adapun Ilik Sundari diperankan oleh Sri Qadariatin, aktor dari Teater Garasi Yogyakarta. Aktor remaja Ridho Ramanda turut berpesan sebagai Amir Hamzah muda. 

Dengan paduan sejumlah aktor teater dan film, Nyanyi Sunyi Revolusi tak kurang untuk menjamin sebuah sajian drama panggung yang kuat. Musik dan tata panggung yang meminjam ornamen dan nuansa khas Sumatra sangat memberi sentuhan tradisional khas Binjai. 

Namun, saya yang duduk di kursi penonton bagian baris kedelapan dari depan, melihat dengan terang pergerakan akting Lukman yang agak kaku. Pada sejumlah pergantian suasana antaradegan, seperti saat Amir Hamzah akan dijemput oleh sekelompok pemuda pemberontak, tak sedikit pun reaksi tegang atau cemas tergambar di mimiknya. Hanya karakter Kamaliah yang tampak gelisah dan takut—kalau-kalau ada bahaya mengancam nyawanya, Amir, dan Tahura, putrinya.

Akting Lukman Sardi, tampak belum cukup memadai untuk diadu di panggung teater (meski dia juga pernah bermain dalam lakon Bunga Penutup Abad, 2016 dan 2017 silam). Kekurangan itu berhasil diminimalisir oleh permainan aktor lain, khususnya para aktor Teater Satu dengan penjiwaan yang dalam dan responsif.

Musik yang megah melalui permainan gesekan rebab, ketukan gendang, pula tiupan saluang, sedikit-banyak membangun suasana merinding. Kecakapan sutradara dalam menggambarkan peristiwa sesuai gubahan naskah (yang diolah oleh Ahda Imran dari catatan hasil riset setidaknya dua tahun) layak diacungi jempol.

Pada beberapa momen, repihan dedaunan kering meranggas jatuh mengisi sisi depan panggung. Juga ketika nisan marmer putih tempat Amir berbaring dimakamkan, tiba-tiba kita dibuat terkejut oleh guyuran air hujan. Panggung pun membasahi satu sisi panggung, juga mengguyuri tokoh Kamaliah yang tengah berduka di sisi nisan suaminya.

Penubuhan puisi

Seusai pertunjukan, Iswadi Pratama mengungkapkan bahwa dia secara sadar mengemas pertunjukan teater yang dinamis, baik dari segi penceritaan, keaktoran, maupun tata panggung. Dia dan Ahda tampak bersetuju untuk mengungkap jiwa liris dari sajak-sajak Amir Hamzah ke dalam naskah dan pertunjukan drama berdurasi dua jam penuh.

Salah satu adegan dalam Nyayi Sunyi Revolusi. (Alinea.id/Robertus Rony)

Karakter Tengku Tahura, Tengku Kamaliah, Amir Hamzah, dan Ilik Sundari diberikan porsi cukup merata untuk memainkan dialog dan monolognya masing-masing. Ini menghadirkan cara bercerita yang dinamis dan berlapis-lapis. Kisah haru dan manis Nyanyi Sunyi Revolusi dihidangkan dari sudut pandang beberapa tokoh. Pilihan ini, membuat pertunjukan seperti puzzle di dalam cerita. “Ia dimainkan secara begitu agar tidak linear dan tidak datar,” ungkap dia.

Tujuan menampakkan dinamika pertunjukan itu sangat ditentukan pula oleh isi dialog dalam naskah yang terasa watak puisinya. Banyak dialog yang diucapkan bernada puisi, bahkan bait-bait puisi Amir Hamzah beberapa kali dituturkan oleh tokoh-tokoh utama.

“Aku pun menerjemahkan agar puisi-puisinya tidak hilang di atas panggung. Bukan hanya puisi verbalnya, tetapi juga bentuknya,” imbuh Iswadi. Dia juga menekankan pilihan mengangkat ruh liris atau lembut dan penuh perasaan itu dalam paduan tata panggung.

Serpih dedaunan yang berjatuhan, juga efek air hujan yang deras mengguyur menyibakkan efek dramatik, sekaligus makna mendalam tentang siklus kehidupan dalam diri Amir Hamzah yang tak sia-sia memperjuangkan kebenaran.

“Kematian Amir itu bukan kematian yang sia-sia. Kita yang hidup saat ini pun merasakan apa yang sudah dia berikan semasa hidupnya. Tidak ada kematian yang sia-sia oleh kematian orang yang benar-benar memperjuangkan kebenaran,” jelas Iswadi.

Pesan Amir Hamzah kepada Tengku Kamaliah dan Tahura menjadi premis penting pertunjukan ini: Mau memaafkan dan mencintai dengan tulus demi menghapus dendam dan kebencian. 

“Janganlah menyimpan dendam kebencian pada siapapun. Semua sudah menjadi takdir,” kata Amir Hamzah menjelang masa akhir hidupnya. Tak kurang pula, pesan Amir Hamzah yang selalu diingat oleh Tahura: “Berhati-hatilah, banyak orang menyebar desas-desus berbalut kata-kata lembut.” Kedua pesan ini menjadi kian relevan pada masa akhir-akhir ini ketika hasrat dan nafsu berkuasa mencengkeram akal sehat dan rasa kemanusiaan kita.

Nahas, Amir Hamzah harus lampus meregang nyawa di tangan guru silatnya. Betapa sunyi dan lirihnya jejak perjalanan hidup Amir, yang seakan selaras dengan bunyi bait puisinya, “Sunyi Itu Duka”: sunyi itu duka/ sunyi itu kudus/ sunyi itu lupa/ sunyi itu lampus//