close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Beberapa orang tengah beraktivitas di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, Kamis (28/3/2024). Alinea.id/Fery Darmawan
icon caption
Beberapa orang tengah beraktivitas di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, Kamis (28/3/2024). Alinea.id/Fery Darmawan
Sosial dan Gaya Hidup
Sabtu, 30 Maret 2024 06:38

“Menjadi marbot adalah panggilan Allah…”

“Saya menjadi marbot masjid karena pekerjaan ini mulia.”
swipe

Sore itu, di Masjid Al-Munawwarah, Pamulang, Tangerang Selatan, Taufan Sopiyan sedang duduk-duduk di teras masjid. Di masjid itu, beberapa orang tengah mengaji Al-Qur’an. Taufan adalah marbot masjid tersebut. Sejak 2003, tak lama usai masjid didirikan, ia dipilih menjadi marbot di sana.

Taufan sudah berkeluarga, memiliki dua orang anak. Gaji yang diterima Taufan sebagai marbot sekitar Rp2 juta per bulan. “Cukup untuk membiayai keluarga kecil saya,” kata Taufan ditemui Alinea.id di Masjid Al-Munawwarah, Tangerang Selatan, Kamis (28/3).

“Saya juga diberikan tempat tinggal di area masjid.”

Selain dari gaji menjadi marbot, Taufan melakukan pekerjaan sampingan, yakni mengurus acara besar agama, seperti Idulfitri dan panitia kurban saat Iduladha.

“Menjadi marbot masjid ini mungkin panggilan dari Allah supaya saya berada di jalan yang lurus,” ucap Taufan.

“Saya cukup bangga menjalankan tugas yang diberikat ketika saya dipilih menjadi marbot karena diberikan tanggung jawab, yang dapat memudahkan saya mendapatkan berkah yang berlimpah, mendapat saf paling depan, menjalankan perintah Allah dengan baik, dan insyaallah memudahkan saya masuk surga.”

Tugas dan tanggung jawab Taufan adalah merawat masjid, menjaga komunikasi dengan warga sekitar, dan melaksanakan agenda sesuai ketentuan di masjid itu. Masjid Al-Munawwarah ada di sebuah perumahan. Maka, menurut Taufan, masjid itu menjadi tempat pusat berkumpul warga di perumahan itu.

Tak jarang, masjid tersebut dijadikan tempat untuk menyerahkan sedekah, mengadaan acara perlombaaan hari kemerdekaan, dan bazar. Tantangan yang dihadapi Taufan menjadi seorang marbot adalah memastikan kebersihan dan keamanan masjid.

“Dalam menjaga kebersihan, marbot harus memastikan masjid selalu dalam kondisi bersih dan nyaman untuk jemaah,” ujar Taufan.

“Sedangkan dalam menjaga keamanan, saya harus mampu mengawasi dan melindungi masjid dari potensi tindak kriminal, seperti pencurian atau kerusakan fasilitas.”

Di samping itu, menurut Taufan, tantangan lainnya adalah menjaga hubungan baik dengan jemaah dan masyarakat sekitar. “Saya harus menjadi orang yang ramah, sabar, dan mampu memberikan pelayanan yang baik kepada jemaah dalam menjawab pertanyaan, mengarahkan jemaah, dan memberikan bantuan jika diperlukan,” ucap Taufan.

Kemudian, Taufan juga mesti bisa menjaga waktu dengan baik. Sebagai marbot, kata dia, tugasnya sering kali melibatkan jadwal yang padat. Semisal menggemakan azan, mengatur jadwal kegiatan, dan merawat masjid sepanjang hari.

“Oleh karena itu, saya juga perlu memiliki manajemen waktu yang baik agar dapat menjalankan semua tugas dengan efisien dan tepat waktu,” ujar Taufan.

“Meskipun tantangan-tantangan ini ada, menjadi marbot juga memberikan kepuasan tersendiri. Sebagai pelaksana tugas ibadah, saya berada di garis depan dalam melayani umat dan mendapatkan berkah besar dalam menjalankan tugas.”

Masjid Agung Al-Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (28/3/2024). Alinea.id/Fery Darmawan

Menjelang berbuka puasa suasana Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tampak mulai ramai orang-orang mempersiapkan takjil. Masjid tersebut berkapasitas 10.000 orang, dengan luas kawasan mencapai 43.755 meter persegi. Masjid yang selesai dibangun pada 1958 ini sempat menjadi masjid terbesar di Jakarta, sebelum predikat itu diambil alih Masjid Istiqlal pada 1978.

Soni tengah mengaji Al-Qur’an di salah satu sudut dalam masjid. Ia merupakan marbot—orang yang menjaga dan mengurus masjid—di Masjid Al-Azhar. Ada alasan mengapa ia memilih pekerjaan sebagai marbot.

“Saya menjadi marbot masjid karena pekerjaan ini mulia,” kata Soni ditemui Alinea.id di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, Kamis (28/3).

“Menjadi marbot masjid ini menurut saya salah satu petunjuk Allah agar lebih bertawakal kepada-Nya.”

Selain menjaga dan merawat masjid, Soni juga membantu warga dan mahasiswa di kawasan itu. Masjid ini masih satu kawasan dengan Universitas Al-Azhar Indonesia yang dibangun pada 2000. Ia telah berkeluarga. Namun, ia tak bisa menyebut gajinya sebagai marbot.

“(Gaji) sangat cukup untuk membiayai keluarga saya,” ujar dia.

Selain pelaksanaan salat dan pengajian, Masjid Al-Azhar pun menjadi lokasi persiapan pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Acara keagamaan besar, seperti salah Idulfitri dan Iduladha.

“Masjid ini juga menjadi tempat untuk acara pernikahan, permakaman, dan pengajian yang dihadiri para ulama dan cendekiawan Muslim terkemuka,” tutur Soni.

Sebagai seorang marbot di Masjid Al-Azhar, Soni harus bertanggung jawab terhadap kebersihan dan keamanan masjid dalam skala yang besar. Baginya, mengelola dan merawat masjid membutuhkan dedikasi yang tinggi.

Prioritas utama Soni adalah menjaga keamanan. Ia harus memastikan pintu-pintu masjid terkunci dengan baik, usai ibadah selesai. Ia pun harus mengawasi aktivitas di sekitar masjid untuk mencegah segala bentuk gangguan yang kemungkinan terjadi. Terlebih saat bulan Ramadan, di mana pengunjung lebih banyak dari waktu lain.

“Mengatasi masalah keamanan menjadi tugas yang membutuhkan pemahaman dan keterampilan yang baik,” ucap Soni.

Apalagi, tahun lalu Masjid Al-Azhar sempat kebobolan seorang pencuri yang memanfaatkan stiker QRIS palsu. Seperti diberitakan, pada April 2023 seseorang menempelkan sebanyak 12 stiker kode QRIS palsu di kotak amal Masjid Al-Azhar.

QRIS palsu di Masjid Al-Azhar diketahui bertuliskan “restorasi masjid”. Sementara QRIS asli bertuliskan “Masjid Agung Al-Azhar”. Beberapa stiker QRIS palsu dipasang menindih QRIS asli milik masjid itu. Setelah berhasil ditangkap polisi, pelakunya diketahui merupakan mantan karyawan salah satu bank BUMN. Ia sudah beraksi di 38 lokasi di seluruh Jakarta. Tak hanya di beberapa masjid, stiker QRIS palsu juga ditempel di bank dan pusat perbelanjaan. Soni juga bangga karena ia menjadi saksi orang yang berpindah agama atau mualaf di Masjid Al-Azhar.

“Saya berharap dapat menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan masjid, serta membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar,” ujar Soni.

“Saya juga berharap dapat terus belajar dan berkembang dalam tugas untuk memberikan kontribusi yang berarti bagi masjid dan umat Islam.”

img
Fery Darmawan
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan