sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mereka yang menolak menyerah melawan kanker

Pasien kanker banyak yang menyerah dengan penyakitnya. Namun, tidak dengan kisah-kisah mereka.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Kamis, 16 Jan 2020 18:22 WIB
Mereka yang menolak menyerah melawan kanker
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 248852
Dirawat 57796
Meninggal 9677
Sembuh 180797

Aktris Ria Irawan mengembuskan napas terakhir pada 6 Januari 2020. Bertahun-tahun ia berjuang melawan kanker kelenjar getah bening.

Ria divonis mengidap kanker di sekitar panggulnya sejak 2009. Pada 2014, ia dinyatakan sembuh dari penyakit itu. Namun, pada Maret 2019 sel-sel kanker kembali tumbuh dan menyebar.

Ria menambah daftar panjang publik figur yang meninggal dunia karena kanker dalam satu tahun terakhir. Sebelumnya, pada 1 Juni 2019, Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono meninggal setelah mendapat perawatan intensif di Singapura karena kanker darah.

Kemudian, pada 7 Juli 2019, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho wafat karena kanker paru-paru.

Menyusul, pada 19 Juli 2019 sastrawan dan wartawan senior Arswendo Atmowiloto meninggal karena kanker prostat. Lalu, penyanyi Agung Hercules pada 1 Agustus 2019 wafat karena kanker otak.

Tergolong penyakit pembunuh yang paling mengancam, kanker tak hanya menyerang orang-orang terkemuka. Siapa pun bisa mengidap penyakit, yang menurut World Health Organization (WHO) membunuh nyaris 10 juta orang pada 2018 itu.

Nestapa Rahmat dan Delia

Rahmat Hidayat dan keluarganya saat ditemui di kamar indekosnya, Jalan Tali, Palmerah, Jakarta Barat, Senin (13/1/2020). Alinea.id/Robertus Rony Setiawan.

Sponsored

Tak sulit menemukan pasien penderita kanker di rumah-rumah indekos sekitar Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Mereka yang menyewa indekos berasal dari luar Jakarta, bahkan luar Pulau Jawa, untuk keperluan pengobatan kanker di RS Dharmais.

Salah satunya Rahmat Hidayat, yang merupakan penderita tumor ganas asal Serang, Banten. Ia menghuni salah satu kamar di sebuah rumah indekos di Jalan Tali IX, Jakarta Barat. Lokasinya sekitar 500 meter dari RS Dharmais.

Ia tinggal di kamar indekos berukuran dua setengah kali tiga meter, bersama istri dan dua anaknya. Untuk sewa kamar, Rahmat harus mengeluarkan uang Rp1 juta setiap bulan. Baru sepekan ia tinggal di kamar indekos ini.

Rahmat mengisahkan, ia baru mengetahui ada tumor ganas di tempurung kanan kepalanya pada 2017. Kemudian, ia dirujuk ke RS Dharmais pada September 2019. Sejak Oktober 2019, ia rutin bolak-balik Serang-Jakarta untuk berobat di salah satu rumah sakit khusus kanker di Indonesia itu.

Operasi pertama di RS Dharmais dilakukan pada Oktober 2019, untuk mengambil tumor ganas sebesar kepalan tangan. Sejak itu, kondisi tempurung kepala kanannya tak lagi sempurna.

Meski begitu, Rahmat merasa kondisi fisiknya lebih baik. Ia kembali mampu berjalan dan beraktivitas. Sembari menjalani pengobatan, Rahmat tetap bekerja mengumpulkan barang bekas, seperti kardus, besi, dan plastik.

“Kalau pas enggak ke dokter, ada lima hari saya cari rongsokan di Serang. Dua hari sisanya berobat,” ucap Rahmat saat ditemui reporter Alinea.id di kamar indekosnya, Palmerah, Jakarta Barat, Senin (13/1).

Penghasilan dari memulung sekitar Rp50.000 hingga Rp150.000 per hari. Sekali berobat dan konsultasi ke RS Dharmais, ia harus mengeluarkan biaya sedikitnya Rp150.000. Biaya pengobatan pun diperoleh dengan berutang kepada orang tua.

“Bayar kos saja ngutang-utang,” kata istri Rahmat, Anna.

Uang tambahan untuk biaya hidup sehari-hari selama indekos berasal dari adik Rahmat yang menetap di Kalideres, Jakarta Barat. Rahmat harus rutin menjalani radiasi selama 10 hari.

Radiasi itu bertujuan mengecilkan dan mematikan sel kanker yang ada di dalam tubuhnya. Usai menjalani radiasi, ia akan melanjutkan dengan kemoterapi.

“Nyawa di tangan Allah, kita cuma usaha sembuh,” ucap Rahmat.

Ropiah menemani putrinya Delia Kharisa Saputri, yang menderita kanker, berjalan-jalan di sekitar rumah indekosnya di bilangan Palmerah, Jakarta Barat, Senin (13/1/2020). Alinea.id/Robertus Rony Setiawan.

Di sebelah kamar indekos Rahmat dan keluarga, tinggal Ropiah. Perempuan asal Subang, Jawa Barat, mulai menetap di kamar indekos sejak awal Desember 2019.

Ropiah memiliki seorang putri berusia tiga tahun, Delia Kharisa Saputri, yang menderita embryonal rhabdomyosarcoma—jenis kanker yang berkembang di jaringan lunak pada tubuh.

Tubuh Delia terlihat kurus. Di bagian lengan dan lehernya tampak ada benjolan. Sebagian rambutnya rontok. Menurut Ropiah, penyakit yang diidap anaknya ini mulai terlihat sejak berusia 26 bulan, tahun 2018.

Demi mempercepat usaha pengobatan penyakit anaknya, Ropiah berusaha mencari sumber pemasukan tambahan. Ibunya kemudian membantu menggadaikan sawahnya. Uang yang diperoleh lalu dimanfaatkan untuk menambah kekurangan biaya pengobatan.

Suami Ropiah bekerja sebagai buruh harian di Pertamina Gas, Bekasi, Jawa Barat. Penghasilannya pun tak seberapa.

“Honornya Rp110.000 per hari. Seminggu, masuk lima hari,” kata Ropiah saat berbincang, Senin (13/1).

Menurut Ropiah, Delia sudah menjalani tahap radiasi di RS Dharmais sejak 8 Desember 2019. Selanjutnya, Delia akan menjalani kemoterapi.

Ropiah merasa dimudahkan dengan pelayanan RS Dharmais, yang mengutamakan pasien anak-anak. Dalam beberapa kali radiasi melalui rawat inap, kata Ropiah, disediakan pula makan sebanyak tiga kali.

“Walaupun kami datang belakangan, kalau ada pasien anak-anak, selalu dipanggil lebih dahulu. Di rumah sakit ini, pasien anak-anak dan lansia selalu diutamakan,” katanya.

Ropiah optimis, putrinya dapat sembuh. Sama sekali tiada kecemasan di wajahnya. Rasa optomis itu lahir setelah ia bersua dengan seorang ibu asal Riau, yang menemani anaknya berobat ke RS Dharmais. Anak ibu itu juga mengidap embryonal rhabdomyosarcoma. Usai menjalani kemoterapi sebanyak 28 kali, anak ibu itu berhasil sembuh.

“Saya jadi bersemangat. Anak saya semoga juga bisa sembuh,” ujarnya.

Ropiah pun bersyukur karena seluruh biaya ditanggung pemerintah melalui BPJS Kesehatan. Ia menyebut, dalam sekali radiasi, biaya yang dibutuhkan setidaknya mencapai Rp9,1 juta.

“Saya sebelumnya enggak tahu di Dharmais bisa pakai BPJS. Saya sudah berpikir mau jual apa-apa,” katanya.

Tak lama, Delia menangis. Ia merengek, meminta ibunya menemani jalan-jalan. Ropiah lantas menyiapkan kursi roda kecil untuk si buah hati.

Rumah Sakit Kanker Dharmais di Jakarta Barat, Senin (13/1/2020). Alinea.id/Robertus Rony Setiawan.

Banyak jalan menuju sembuh

Penulis buku Berdamai dengan Kanker (2018) Rahmi Fitria pun dinyatakan positif mengidap kanker payudara stadium tiga pada Agustus 2013, setelah melakukan pemeriksaan ultrasonografi.

“Saya enggak tahu karena enggak ada keluhan sakit,” tuturnya saat ditemui di Bogor, Jawa Barat, Selasa (30/7/2019).

Lalu, ia disarankan melakukan kemoterapi dan operasi. Selama menempuh pengobatan, Rahmi mengaku pusing tujuh keliling memikirkan beban biaya, yang mencapai ratusan juta rupiah.

Dari pengalaman ibunya yang terkena kanker ovarium pada 1996, ia mencoba mendaftar Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin (Jamkeskin).

“Sebenarnya, saya enggak miskin. Tapi, sekian ratus juta, ya enggak ada uang juga. Saya tahu, mama juga pakai Jamkeskin, yang mengurusnya susah sekali. Bolak-balik ke Jakarta,” ujarnya.

Usaha untuk sembuh terus dilakukan Rahmi. Ia juga mencoba pengobatan alternatif. Sepanjang Oktober hingga Desember 2013, ia menjalani terapi rompi antikanker Warsito Purwo Taruno, pengobatan herbal, hingga mengatur pola makan alamiah dan diet sehat.

Akan tetapi, usaha tadi belum membuahkan hasil. Ia kembali memutuskan menjalankan kemoterapi di rumah sakit. Di akhir 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meluncurkan program BPJS Kesehatan. Program pemerintah ini membantu besarnya beban biaya berobat.

“Saya merasa bersyukur banget. Itu benar-benar pertolongan Tuhan. Kalau tanpa BPJS Kesehatan enggak bisa, mahal sekali,” tutur Rahmi.

Usai menjalani berbagai pengobatan medis, Rahmi merasa lebih baik. Namun, kondisi fisiknya lemah. Ketika melakukan wawancara seorang dokter di klinik HanaRa, Bandung, untuk keperluan penulisan buku pada 2017, Rahmi disarankan mengurangi dahulu aktivitas berat, termasuk kegemarannya berkuda.

Setelah itu, Rahmi dan kakaknya yang juga mengidap kanker menjalani terapi self healing di klinik HanaRa, lebih dari setahun.

“Terapinya berhasil memulihkan kondisi fisik,” kata dia.

Nasib penyanyi senior Titiek Puspa lebih beruntung ketimbang Rahmat, Delia, dan Rahmi. Pada 2018, ia dinyatakan sembuh dari penyakit kanker serviks yang dideritanya sejak 2011. Titiek berkisah, penyakit itu merupakan faktor genetik.

“Almarhum ayah saya meninggal karena kanker. Ada juga ketiga kakak saya yang mengidap kanker,” kata dia saat dihubungi, Kamis (7/11/2019).

Setelah dinyatakan menderita kanker serviks, ia menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, selama dua setengah bulan. Pilihan untuk mengobati penyakitnya itu di Singapura diambil lantaran dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta berhalangan untuk menanganinya.

“Karena (dokternya) lagi di luar negeri. Itu bukan untuk membanding-bandingkan antara yang di Jakarta dan Singapura. Saya ikuti saja jalan hidup, sudah seperti itu,” kata Titiek.

Akan tetapi, menjalani perawatan di Singapura tak membuat penyakitnya sembuh. Ia mengaku malah bertambah parah. Ketika pertama kali dirawat, penyakit kanker yang dideritanya di tingkat stadium satu setengah. Dua setengah bulan kemudian, malah menjadi stadium tiga.

Sekembalinya ke Indonesia, anaknya Petty Tunjung Sari memberi tahu soal temannya yang sembuh dari sakit strok separuh badan usai mengikuti terapi pernapasan di sebuah klinik kesehatan.

Titiek lantas menghubungi klinik itu. Tanpa obat-obatan, ia hanya diperintahkan untuk terapi duduk diam selama 13 hari.

Praktiknya, ia duduk, kaki rapat, lidah melipat ke belakang, dan kedua telapak tangan diletakkan di atas paha. Kemudian, menarik napas dalam-dalam, lalu diembuskan perlahan-lahan. Setiap hari dilakukannya selama sejam, sebanyak lima kali. Ia mengatakan, terapi pernapasan itu merupakan sebuah metode yang berasal dari China.

“Setelah 13 belas hari, dinyatakan sembuh total. Metodenya juga menjadi rujukan banyak klinik kesehatan lainnya,” kata Titiek.

Beban biaya dan cara mencegah

Program jaminan kesehatan dari pemerintah memang sangat berguna bagi pasien kanker, yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Kanker sendiri tergolong penyakit katastropik atau penyakit-penyakit berbiaya besar, dengan beban biaya terbesar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Kartu Indonesia Sehat (KIS), yang dikelola BPJS Kesehatan.

Merujuk data BPJS Kesehatan, penyerapan biaya pengobatan penyakit kanker berada di posisi ketiga terbesar, di bawah penyakit jantung dan gagal ginjal. Menyerap 17% dari total biaya penyakit katastropik.

Kepala Humas BPJS Kesehatan M. Iqbal Anas Ma’ruf mengatakan, sejak 2014 hingga 2018, kanker sudah menghabiskan biaya sebesar Rp13,3 triliun dari total anggaran katastropik yang mencapai Rp78,3 triliun.

Ia menjelaskan, meski beban biayanya terus meningkat setiap tahun, akses pelayanan kesehatan penderita kanker akan tetap dijamin pemerintah. Terkait aturan obat dan jenis penyakit kanker yang bisa ditanggung BPJS Kesehatan, kata dia, ketentuannya sudah ditetapkan dalam formularium nasional.

“Kalau memang obat kankernya tidak masuk dalam formularium nasional, berarti bukan obat yang dijamin dalam program BPJS Kesehatan,” tutur Iqbal saat dihubungi, Rabu (14/8/2019).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/707/2018 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/659/2017 tentang Formularium Nasional, obat kanker usus besar tak lagi ditanggung BPJS Kesehatan. Terhitung 1 Mei 2019, penderita kanker usus disarankan berobat dengan kemoterapi standar atau radioterapi.

Dihubungi terpisah, Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aldrin Neilwan Pancaputra mengatakan, untuk menurunkan prevalensi penyakit kanker di Indonesia perlu pengendalian faktor risiko bersama. Misalnya, dengan menghilangkan asap rokok.

“Sebaiknya setiap orang berupaya mencegah kanker dengan berolahraga, tidak mengonsumsi alkohol, mengelola stres, diet seimbang, dan ikut deteksi dini,” ucap Aldrin saat dihubungi, Kamis (31/10/2019).

Perihal penanggulangan penyakit tidak menular, kata dia, Kemenkes menyokong empat pilar, yang mencakup promosi kesehatan, deteksi dini, perlindungan spesifik, dan tata laksana kasus.

Pencegahan kanker, menurutnya, terbagi menjadi pencegahan tahap primer, sekunder, dan tersier.

Pencegahan primer adalah upaya yang dilakukan saat proses penyakit belum dimulai. Pencegahan sekunder adalah upaya yang dilakukan saat proses penyakit sudah berlangsung, tetapi belum timbul gejala sakit. Sedangkan pencegahan tersier adalah upaya yang dilakukan saat proses penyakit sudah lanjut.

“Perlindungan primer salah satunya dengan imunisasi, vaksinasi. Misalnya untuk kanker serviks itu dengan imunisasi HTV (human papillomavirus),” ujar Aldrin. (Fir).

Berita Lainnya