logo alinea.id logo alinea.id

Penentuan dan penanda awal Ramadan di masa lalu

Pada masa kolonial, dibentuk sebuah tim untuk menentukan 1 Ramadan.

Fandy Hutari Manda Firmansyah
Fandy Hutari | Manda Firmansyah Selasa, 07 Mei 2019 20:46 WIB
Penentuan dan penanda awal Ramadan di masa lalu

Pada 5 Mei 2019, pemerintah sudah memutuskan 1 Ramadan 1440 Hijriah atau awal puasa jatuh pada 6 Mei 2019. Sidang isbat diadakan di Kantor Kementerian Agama, Jakarta. Rangkaian sidang dimulai dengan pemaparan posisi hilal dari tim hisab dan rukyat. Pemantauan hilal sendiri dilakukan di 102 titik rukyatul hilal dari 34 provinsi di Indonesia. Metode yang diambil pemerintah ialah rukyat.

Saat ini, melalui teknologi canggih dan tim yang solid, penentuan awal Ramadan tentu bukan sebuah hal yang sulit. Informasi pun langsung tersebar melalui berbagai media, mulai dari televisi, surat kabar, media sosial, hingga media daring.

Perhimpoenan Penghoeloe dan Pegawainja

Pada masa kolonial, penentuan 1 Ramadan berada di bawah Hoofd Penghoeloe setiap daerah. Para Hoofd Penghoeloe ini kemudian berkoordinasi, dan membentuk tim bernama Perhimpoenan Penghoeloe dan Pegawainja (PPDP), dengan pengurus besar Hoofdbestuur.

Menurut Yayuk Rohmawati dalam skripsinya berjudul Pengadilan Agama Jepara sebelum dan sesudah Satu Atap dengan Mahkamah Agung (2009), PPDP berpusat di Surakarta, dan mengadakan kongres pertama pada 6 Mei 1937.

Peran PPDP, tulis Yayuk, antara lain memperkenalkan prosedur syiqaq dalam sistem perceraian gugat, menetapkan Pulau Jawa terletak dalam satu mathla’ dan sahnya pemberitaan kabar rukyat melalui telepon serta keharusan menyiarkan dengan siaran media massa, serta penetapan awal Ramadan dan Syawal.

Lukman Hakim dalam bukunya Merawat Indonesia: Belajar dari Tokoh dan Peristiwa (2017) menulis, contoh hasil pengamatan dan sidang PPDP bisa dibaca di Berita Nahdlatoel Oelama edisi 1 November 1937. Saat itu, tim ini menentukan awal Ramadan 1356 Hijriah.

Siluet sejumlah jamaah tarekat Syattariyah menanti kemunculan bulan (hilal) di pantai Ulakan, Padangpariaman, Sumatera Barat, Senin (6/5). /Antara Foto.

Sponsored

“Dari Hoofdbestuur Perhimpoenan Penghoeloe dan Pegawai kami terima maklumat yang menerangkan bahwa sudah diterima laporan dari Hoofd Penghoeloe Buitenzorg (sekarang Bogor) dan Tasikmalaya bahwa di Buitenzorg ada tiga orang saksi rukyat dan di Tasikmalaya ada dua orang saksi rukyat yang bersama-sama melihat tanggal satu bulan Syakban pada hari rabu 5/6 Oktober 1937, maka karena Jawa dan Madura itu satu mathla’, PPDP menetapkan bahwa mulai puasa jatuh hari Jumat 5 November 1937,” tulis Berita Nahdlatoel Oelama edisi 1 November 1937 berjudul “Awal Ramadhan”.

Akan tetapi, tak semua orang Islam bisa membaca berita ini. Untuk menyiasati dan menyiarkan kabar awal puasa itu, para pemangku kepentingan umat lantas menyampaikannya melalui berbagai tanda.

“Di Jember, pengumuman disampaikan melalui alat tradisional yang mengeluarkan suara keras layaknya suara bom. Suara ini juga menjadi isyarat berbuka puasa,” tulis Lukman dalam bukunya.

Sebuah panitia diserahkan tugas untuk membunyikan bom ini. Sementara itu, tulis Lukman, di kampung-kampung yang ada di Batavia, tanda puasa diisyaratkan dengan bunyi bedug.

Perbedaan Ramadan

Setelah kemerdekaan, penentuan awal Ramadan dilakukan Kementerian Agama. Pada 1950-an, Radio Republik Indonesia (RRI) sudah menjadi media yang harus didengar publik untuk mengetahui kapan awal Ramadan tiba. Nieuwe Courant edisi 1 Juni 1951 menulis, Kementerian Agama mengumumkan awal Ramadan akan ditentukan setelah mengamati munculnya bulan baru.

“Hasilnya akan dipublikasikan pada 5 Juni pukul 8 malam melalui Radio Republik Indonesia, yang kemudian disampaikan oleh semua stasiun siaran radio yang ada di Indonesia,” tulis Nieuwe Courant edisi 1 Juni 1951.

Perbedaan tanggal 1 Ramadan tak terjadi saat ini saja. Pada 1953 hal itu pernah terjadi. Menurut laporan Java-bode; Nieuws handles-en en advertentieblad voor Negerlandsch Indie edisi 15 Mei 1953, rukyat hilal terjadi pada malam antara 13 dan 14 Mei 1953. Sementara, mereka yang mengikuti metode rukyat hilal memulai puasa pada Kamis, 14 Mei 1953. Padahal, sebelumnya sudah diadakan konferensi yang menetapkan awal Ramadan jatuh pada Jumat, 15 Mei 1953.

“Kementerian Agama mengumumkan bahwa di konferensi para cendekiawan Islam dari seluruh Indonesia diketahui bahwa awal puasa adalah pada 15 Mei. Namun, ketika kuartal pertama bulan diamati pada malam 13-14 Mei, puasa akan pada 14 Mei. Menurut perhitungan yang sama, Lebaran akan jatuh pada tanggal 13 atau 14 Juni,” tulis Java-bode; Nieuws, handles-en advertentieblad voor Nederlandsch Indie edisi 7 Mei 1953.

Santri melihat posisi hilal untuk menentukan awal Ramadhan dengan menggunakan teleskop di Pondok Pesantren Assalam, Pabelan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu (5/5). /Antara Foto.

Penentuan awal Ramadan pada 1953 yang mengutamakan metode rukyat hisab, lantaran Menteri Agama KH Fakih Usman, yang menjabat sejak 3 April 1952, berasal dari organisasi Muhammadiyah Kabinet Wilopo.

Menariknya, Persatuan Islam (PI) tak seirama dengan Kementerian Agama, meski keduanya mengaku menggunakan metode rukyat hisab. Di dalam surat De Nieuwsgier edisi 6 Mei 1953, salah satu organisasi Islam yang ada di Indonesia ini berkomentar, 1 Ramadan sudah ditetapkan jatuh pada 14 Mei 1953, dan 1 Syawal atau Idulfitri jatuh pada 13 Juni 1953.

Terlepas dari perbedaan awal Ramadan, ternyata tradisi membunyikan sesuatu yang membuat kuping berdenging masih dilakukan. De vrije pers; ochtendbulletin edisi 12 Mei 1953 mencatat, pengumuman awal puasa 1953 ditandai dengan menyalakan tiga bom kembang api.

“Pada saat yang sama, setiap hari pada waktu makan malam, bom kembang api akan ditembakkan. Suara bom kembang api ini, akan terdengar di seluruh penjuru kota,” tulis De vrije pers; ochtendbulletin edisi 12 Mei 1953.

Angkatan Darat Tentara dan Territorium I Bukit Barisan pun mengeluarkan pengumuman resmi Nomor 06012/KMKB/X-Um/53, yang mengabarkan akan diadakan penembakan meriam masing-masing lima kali di Tanah Lapang Dj.Bali Medan sebagai tanda puasa.

“Sebagai tanda permulaan puasa akan diberikan pada tanggal 13 atau 14 Mei 1953 pada pukul 16.00. Tanggal penembakan akan diumumkan lebih lanjut,” tulis Het nieuwsblad voor Sumatra edisi 13 Mei 1953.

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB