sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

‘Propaganda’ yang membosankan film serial Si Unyil

Film serial boneka Si Unyil yang tayang di TVRI pada 1980-an, sangat populer pada masanya.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Rabu, 11 Jan 2023 06:00 WIB
‘Propaganda’ yang membosankan film serial Si Unyil

Pengisi suara dan dalang Abdul Hamid meninggal dunia pada Rabu (28/12), usai melawan penyakit penyumbatan darah pada otak, maag, darah tinggi, dan batu ginjal selama empat tahun. Nama Hamid sangat terkenal sejak ia menjadi pengisi suara karakter boneka Pak Ogah dengan jargon “cepek dulu dong…” di film serial boneka Si Unyil.

Si Unyil menjadi tontonan anak-anak yang ditunggu-tunggu setiap Minggu pagi pada 1980-an di TVRI. Film serial boneka itu mengisahkan kehidupan Unyil, seorang anak berusia tujuh tahun—berciri khas memakai kopiah dan sarung selempang—dan kawan-kawannya, yakni Usro, Ucrit, Cuplis, Endut, dan Meilani di sebuah desa fiktif, Suka Maju.

Mereka berinteraksi pula dengan beberapa orang dewasa, seperti Pak Raden—bapak-bapak berkumis baplang yang tempramen dan pelit—dan Pak Ogah—tunakarya yang malas. Dinamika di desa itu menjadi kisah di setiap episode.

Populer

Ada tiga nama penting di balik Si Unyil, yakni Drs Suyadi, Kurnain Suhardiman, dan Gufran Dwipayana. Suyadi adalah seorang animator yang menciptakan karakter boneka-boneka dalam Si Unyil dan pengisi suara Pak Raden.

Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia, 1983-1984 (1984) menyebut, Suyadi pernah menggarap film Yang Banyak Jangan Anak tentang Keluarga Berencana (KB) dan Menantang Alam tentang banjir pesanan Departemen Penerangan.

Kurnain adalah penulis cerita Si Unyil. Pada 1970-an, ia menjadi penulis skenario dan sutradara beberapa film. Sementara Brigjen Gufran Dwipayana menurut Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia, 1983-1984, menjabat sebagai Direktur Pusat Produksi Film Negara (PPFN) pada 1978 sekaligus Asisten Menteri bidang Media Massa/Dokumentasi Sekretariat Negara. Gufran aktif menghidupkan PPFN dengan berbagai film, yang mayoritas pesanan pemerintah.

Salah satu episode Si Unyil di TVRI./Foto Monitor Radio & Televisi, No.44, 1-15 Juni 1982

Sponsored

“Di bawah kepemimpinannya, PPFN tampak lebih sibuk menghasilkan berbagai film cerita atau semidokumenter, antara lain Serangan Fajar, Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa, dan sebuah film serial di TVRI Si Unyil,” tulis buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia, 1983-1984.

Si Unyil diproduksi PPFN, pertama kali tayang di TVRI pada 5 April 1981. Konsolidasi awal dilakukan, dengan menghapus iklan dari TVRI sejak awal April 1981.

“Penghapusan iklan yang konon digemari anak-anak itu, turut mendorong kepopuleran Si Unyil,” tulis pembuat film dan pengajar Marselli Sumarno dalam Kompas, 31 Maret 1985.

Marselli menulis, awalnya Si Unyil menarik karena orisinal, akrab, dan kisah-kisahnya segar. ”Sungguh pun terbilang biasa-biasa dalam teknik penyajian,” ujarnya.

Si Unyil ditayangkan selama 20 menit. Tempat produksinya, kata Marselli, berupa studio kecil di sudut PPFN Jakarta. Set permainan selalu siap, melibatkan 20-an kru dengan biaya Rp4 juta per episode dan pekerjaan biasanya diborong untuk 10 judul sekaligus.

Dalam Tempo, 31 Oktober 1981, Gufran mengatakan, serial boneka itu semula memang dikerjakan sebagai hiburan untuk anak-anak. Pilihan jatuh ke boneka, bukan kartun. Alasannya, kata Gufran, film boneka lebih murah dan mudah mencapai sasaran. Untuk satu episode dengan durasi 10 menit, menurut Gufran, film kartun bisa memakan biaya Rp40 juta.

“Dana sebesar Rp 200 juta (sampai tahun anggaran 1981/82) disediakan untuk menyelesaikan 60 kisah serial tersebut,” tulis Tempo.

Film serial boneka ini tak butuh waktu lama mendapat tempat di hati pemirsa, terutama anak-anak. Saking lakunya ditonton, pada Oktober 1981, Si Unyil dibawa ke bioskop.

Dimulai dari beberapa bioskop di Surabaya, dilanjutkan di bioskop Paramount dan Plaza di Bandung. Menurut laporan Tempo, pemutaran di Paramount dengan karcis seharga Rp1.250 ludes terjual kurang dari sejam. Anak-anak dan orang tua berduyun-duyun pergi ke bioskop itu.

Namun, di luar dugaan, penonton terkejut saat tahu yang mereka tonton di bioskop adalah penggabungan beberapa judul yang sudah sudah tayang di TVRI.

“Apa boleh buat, dengan sabar mereka tetap duduk menonton kisah ‘Sesal Kemudian’, ‘Si Unyil Sakti’, ‘Ke Rumah Nenek’, dan ‘Panarlih (Panitia Pendaftaran Pemilih)’ yang dirangkaikan jadi satu hingga memakan masa putar sekitar satu setengah jam,” tulis Tempo.

Dari hasil prank penonton itu, pengelola bioskop Paramount dan Plaza, serta pengedar film PT Tri Daya Film untung besar. Tempo mencatat, Paramount berhasil menarik 1.800 penonton, sedangkan Plaza mampu meraup laba dari 1.300 penonton.

Kesuksesan pemutaran Si Unyil di bioskop, mendorong PPFN membuat Si Unyil versi manusia. Sebut Tempo, syuting sudah dimulai sejak 18 Oktober 1981. Judul bakal film itu adalah Unyil Mimpi Jadi Manusia. Film itu rencananya berdurasi satu setengah jam dan untuk diputar di bioskop.

“Film ini diterima dengan baik oleh penonton anak-anak di seluruh Nusantara,” tulis dosen senior di Departemen Humaniora dan Studi Internasional University of Southern Queensland, Philip Kitley dalam buku Television, Nation, and Culture in Indonesia (2014).

Ditinggal penonton

Kitley menyebut, pendanaan serial Si Unyil diambil dari tiga sumber, yakni anggaran PPFN, TVRI, dan dana yang dihimpun PPFN dari departemen pemerintah, seperti Departemen Kesehatan, Departemen Kependudukan dan Lingkungan, serta ABRI. Maka, kisah-kisah Si Unyil tak bisa lepas dari campur tangan beragam institusi pemerintah tadi.

Gufran mengakui, di setiap kisah Si Unyil disisipkan pesan-pesan pemerintah. “Jadi, semacam pelajaran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) buat anak-anak,” ujar Gufran kepada Tempo, 31 Oktober 1981.

“Namun, saya tidak ingin Si Unyil kelihatan kasar membawakan pesan (propaganda) pemerintah.”

Menurut Gufran, sebelum cerita ditayangkan, PPFN berkonsultasi terlebih dahulu dengan beberapa pendidik. Kalau dianggap terlalu berat, maka adegan cerita bakal dibatalkan.

Drs Suyadi dan boneka ciptaannya./Foto Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia, 1983-1984 (1984)

Kitley menulis, dana dari institusi pemerintah diwujudkan dengan episode yang sesuai keinginan sponsor. Semisal, Departemen Kesehatan mempromosikan desa bersih, peran puskesmas, dan menghindari narkoba dalam beberapa cerita Si Unyil. Contoh lainnya, ABRI memasukkan judul-judul, seperti “ABRI Masuk Desa”, “Hidup ABRI”, “Kemenangan ABRI”, dan “ABRI Kita”.

Masa keemasan Si Unyil, ujar Marselli, hanya dua tahun. Di tahun keempat, mulai muncul kejenuhan pemirsa. “Paling menyolok ialah produknya akhir-akhir ini membelok karena beban pesan-pesannya,” tulis Marselli.

Marselli melihat, tokoh bocah cerdik tersebut terganti dengan kerepotannya menjelaskan persoalan berat—masalah orang dewasa. Ia mencontohkan, episode tentang pemilihan kepala desa. Di kisah itu, Unyil mengatakan kepada dua temannya, “Kita enggak usah ikut-ikutan memilih. Kita kan masih kecil.”

“Tentu masalahnya apakah Unyil yang berkata ‘kita masih kecil’ adalah betul-betul wajar keluar dari benaknya. Ini soal logika cerita,” kata Marselli.

“Sering kali posisi serba dewasanya ditolong dengan ucapan-ucapan ‘menurut pak guru’, ‘kata pak dokter’, tetapi itu tak dapat menyembunyikan kesan bahwa Unyil telah memaksakan diri jadi dewasa.”

Contoh lainnya bagaimana Unyil menjadi dewasa sebelum waktunya, bisa dilihat di kisah “Si Unyil dalam Raja Diraja” yang tayang pada 11 dan 18 Oktober 1981. Dikutip dari Tempo, seorang pembaca Kompas mengkritik episode itu, kala Unyil menjelaskan tentang sistem pemerintahan sebuah negara—dalam hal ini Indonesia—kepada seorang raja.

“Pembaca tersebut mengkhawatirkan anak-anak jadi matang sebelum masak,” tulis Tempo.

Marselli menyimpulkan, Si Unyil dapat bertahan lama di televisi bukan semata-mata karena kekayaan kisah anak-anak Indonesia, tetapi pemaksaan dengan menyiasati kepopulerannya.

Keluhan pun datang dari dua orang penting di balik Si Unyil, yakni Suyadi dan Kurnain. Mereka, kata Marselli, menyayangkan cerita-cerita berat harus dimasukkan ke dalam Si Unyil. Artinya, Si Unyil disetir pemerintah, sehingga kreator pentingnya saja tak berdaya.

“Semuanya tak bisa ditolak gara-gara Si Unyil adalah bagian mata acara TVRI yang dikuasai pemerintah,” tulis Marselli.

Menurut Kitley, Kurnain sendiri mengeluh karena departemen pemerintah membatasi kebebasannya untuk menulis dengan cara yang menarik bagi anak-anak. Sedangkan Suyadi mengatakan, hal itu menjadi cobaan apalagi setelah TVRI tahu Si Unyil ditonton keluarga, bukan cuma anak-anak.

“Dia (Suyadi) mengatakan, hal itu mendorong departemen pemerintah dan kelompok kepentingan lainnya untuk mencari akses ke program tersebut, sebagai cara untuk memperluas informasi tentang peran dan program mereka kepada orang dewasa maupun anak-anak,” tulis Kitley.

Pengarang Arswendo Atmowiloto dalam buku Telaah Tentang Televisi (1986) menyayangkan Unyil harus terlibat dalam masalah “pembangunan” dan pemilu. Ia menyebut, masalah itu tak tabu dan bukan mustahil digarap, asal tetap dari kacamata anak-anak sebagai pijakan dasar.

“Rasa ingin tahu anak-anak, dan bukan penerangan yang bersifat umum dan melebihkan begitu,” tulis Arswendo.

Lebih lanjut, ia menulis, idiom pembangunan, kampanye, kestabilan, dan penerangan, tak akan dikorbankan menjadi acara yang membosankan jika televisi sebagai media massa bisa melakukan pendekatan struktural yang dapat melahirkan macam-macam acara dan aneka jenisnya, tanpa kehilangan makna. Sementara Unyil, tak harus mendukung beban terlalu berat.

“Tak harus jadi mobil yang bisa dikendarai semau sopir,” ujarnya.

Lambat laun Si Unyil tenggelam. Pada 26 Februari 1991, Kurnain meninggal dunia. Peran penulisan cerita kemudian diambilalih direktur artistiknya, Suyadi dan sutradaranya, Agust Suprapto. Kitley mengatakan, peran ganda Suyadi dan Agust membuat mereka tak bisa mempertahankan konsistensi cerita. Akhirnya, boneka-boneka Si Unyil hanya tersimpan di rak studio PPFN pada 21 November 1993.

Akan tetapi, bukan cuma meninggalnya Kurnain yang menyebabkan Si Unyil berhenti berproduksi. “Terlepas dari penurunan minat penonton secara alami, program itu telah kehilangan arah,” kata Kitley.

“Karena terlalu condong ke arah pemodelan subjek anak ideal sebagai bagian dari pembangunan nasional dan jauh dari hiburan anak-anak.”

Berita Lainnya
×
tekid